Showing posts with label film. Show all posts

REVIEW FILM: Surat dari praha (2015)

Surat dari praha
Reviewer: Triztan Famous

Ada tiga alasan kenapa saya menonton film Surat Dari Praha, yang pertama karena ini film dari Visinema yang di sutradari oleh Angga Dwimas Sasongko, yang kedua adalah karena Tio Pakusadewo yang notabennya adalah aktor Indonesia favorit saya selain Reza Rahardian, dan yang ketiga karena film ini mengangkat tema yang masih anomali karena jarang diangkat oleh sineas Indonesia.
Angga Dwimas Sasongko yang menawan saya dengan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan memantapkan pengalaman cinematik saya dengan Filosofi Kopi yang sampai sekarang masih menjadi film favorit saya yang pernah ia buat. Semenjak Surat Dari Praha mulai menjejakkan langkah pertama, konflik langsung dihadapkan kepada kita. Perkenalan tokoh yang sanggat baik juga semakin memperlancar jalannya film ini, menit pertama kita langsung diperkenalkan dengan tokoh Dahayu Larasati (Julie Estele) yang berarti teratai yang cantik dan (Widyawati), yang entah kenapa wajah mereka terlihat teramat mirip.
Laras yang sudah lama tak jumpa dengan ibunya tiba-tiba menghubungi ibunya di rumah sakit untuk meminjam sertifikat rumah guna melunasi hutang yang harus ia tanggung karena perceraiannya dengan Chiko Jeriko. Ibu laras yang meninggal setelah operasi meninggalkan sebuah permintaan yang mau tak mau harus Laras turuti, yaitu mengantarkan sebuah kotak berisi surat dari praha dan meminta tanda tangan kepada sosok yang ia kirimi kotak tersebut.
Sesampainya di Praha, ia bertemu dengan Jaya (Tio Pakusadewo) yang kurang lebih memiliki sifat pahit, egois, dan keras seperti dirinya. Tak mudah untuk Laras mendapatkan tanda tangan dari Jaya. Jaya yang tak ingin hidupnya kembali diobrak-abrik, langsung menyuruh Laras untuk meninggalkan rumahnya. Tetapi karena suatu kejadian, akhirnya Laras menginap di rumah Jaya untuk beberapa hari dan mulai mencairlah hubungan mereka, hingga menghangat, dan akhirnya menjadi intim.
Secara garis besar Surat Dari Praha mengingatkan saya akan beberapa film-film favorit saya yang saya tonton berulang, seperti memiliki akumulasi rasa dari Trilogi Before yang fenomenal itu, Lovely Man yang indah itu dan memaafkan masalalu seperti dalam Filosofi Kopi. Entah mengapa ada rasa yang menganjal saat saya melihat Surat Dari Praha ini, banyak emosi yang terlalu cepat dilemparkan kepada penonton sehingga membuat film ini terlalu padat. Tak seperti Filosofi Kopi dahulu yang membuat saya menitikan air mata di bioskop, di Surat Dari Praha ada beberapa emosi yang gagal sampai karena kurang banyaknya persiapan sehingga saya kurang bisa merasakan bagaimana kesendirian Jaya dan Luka yang Laras rasakan.
Yang kedua adalah penggunaan Green Scren pada adegan Laras dan ibunya di rumah sakit yang menurut saya cukup menganggu. Lalu adegan pada saat di rumah duka, Laras yang baru saja kehilangan ibunya sama sekali tak menitikan air mata. Sampai sebegitu keraskah hati Laras karena sakit hati dengan ibunya hingga hatinya sama sekali tak terketuk? Lalu kenapa pada saat dengan pak Jaya dia dapat dengan mudah mencair dan menjadi pribadi yang hangat dalam beberapa hari? Dan yang ketiga adalah pemain-pemain figuran di film ini yang berasal dari praha yang berakting kaku dan asal-asalan. Saya sampai tak percaya bagaimana seorang Angga Dwimas Sasongko menggunakan Extras seperti itu di dalam film ini. Adegan perampokan di taksi yang menjadi titik balik di dalam film ini harusnya bisa jauh lebih baik daripada adegan datar dan buruk seperti itu.
Tapi selain itu ada banyak adegan yang membuat hati hangat di Surat Dari Praha, seperti saat Jaya bernyanyi di bar, atau pada saat Jaya dan teman-temannya dengan reunian di rumah Jaya menyanyikan lagu tentang kuda yang entah apa judulnya dan lagu Indonesia raya yang saya harus akui dapat membuat haru seisi bioskop karena dinyanyikan oleh para manusia berideologi kuat yang tidak bisa kembali ke Indonesia dan yang paling saya akui adalah dipertengahan menuju klimaks dimana Laras dan Jaya berdebat hebat dengan kata-kata yang menurut saya sadis dan kasar dengan tehnik longtake yang menakjubkan, walau tidak terlalu lama, tapi adegan itu membuat saya semakin kagum dengan Julie dan Tio yang berakting dengan menakjubkan setelah mereka beradu di The Raid 2.
Overall, Surat Dari Praha adalah film anomali dengan cerita yang jarang diangkat di dunia perfileman Indonesia yang patut untuk disaksikan di bioskop. Walau melabeli dengan film shot luar negeri, tapi film ini tidak semata-mata menjual pemandangan luar negeri seperti kebanyakan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha dengan bijaksana menggunakan setting luar negeri sesuai dengan kebutuhan cerita. Dengan cerita yang padat dan emosi yang kerap tumpah dimana-mana film ini menjadi film yang jarang ada di perfileman Indonesia.
Sebagai film yang menjadi pemula parade film-film yang paling dinanti tahun 2016, Surat Dari Praha melakukan tugasnya dengan baik. Untuk mengakhiri review ini saya ingin mengucapkan selamat kepada Angga Dwimas Sasongko untuk meneruskan tradisi film bagus yang ia sutradarai dan selamat datang untuk Ahhc... Aku Jatuh Cinta, A copy Of My Mind dan Ada Apa Dengan Cinta yang akan segera menyapa kita... sekian.
Skor : 8/10

REVIEW FILM : THE REVENANT (2015)

The Revenant (2015)



THE REVENANT (2015)
Reviewer : Triztan Famous
Sejak menit pertama, The Revenant berhasil menghantarkan suasana sedih, mencekam, sendu, getir sekaligus dingin yang memukau. Terlebih adegan pertermpuran antara pemburu dan suku indian yang brutal dan beberapa kali diambil dengan long take yang mempesona. Dan siap-siap untuk menahan nafas saat pertarungan epik Caprio dengan beruang yang brutal, indah sekaligus akan membuatmu memohon untuk segera diakhiri (bahkan aku sampai menarik-narik rambut dikepala saking sadisnya adegan itu).
 The Revenant adalah adaptasi cerita nyata  lama dari novel The Revenant: A Novel of Revenge milik Michael Punke yang diceritakan kembali oleh Iñárritu dalam sebuah petulangan survival epik sepanjang 156 menit. Berpusat pada kisah bertahan hidup luar biasa dari Hugh Glass (Leonardo Dicaprio), mantan tentara Amerika di era 1823 yang ditinggalkan oleh rekannya begitu saja setelah tak berdaya diserang beruang Grizzly dengan kisah balas dendamnya yang luar biasa.



Kabar baiknya adalah itu baru satu dari sekian adegan menakjubkan dan diluar nalar The Revenant, diantara gambar yang senantiasa menciptakan hawa dingin mencekam dan satu persatu adeganpun muncul dan mengoyak hatimu, bahkan saking mencekamnya film ini srooring saja baru muncul setelah kurang lebih satu setengah jam film ini berjalan. Selain memiliki cerita dan penyutradaraan yang sangat baik, The Revenant juga memiliki Dicapiro dan Tom Hardy yang bermain sangat prima sebagai sosok Fitzgerald yang luar biasa licik dan menjengkelkan. Sungguh layak mereka berdua diganjar nominasi Oscar untuk apa yang telah mereka lakukan disini, benar-benar brilian. Coba saja lihat bagaimana mata Dicaprio bicara selama di film ini, kau akan takjub melihat bagaimana seorang pelakon benar-benar bisa melakonkan perannya dengan sangat-sangat baik dan totalitasnya disini benar-benar diuji oleh sang sutradara yang tak pernah setengah-setengah dalam membuat film (adegan makan ikan dan daging mentah menjadi salah satu bukti totalitas Leonardo Dicapiro).
Posisis dimana penonton menjadi seseorang yang buta terhadap apapun dan tak bisa kejadian-kejadian apa yang akan dialami Hugh Glass adalah salah satu poin lebih di film ini. Kejutan demi kejutan yang hadir dan terjalin rapi membuat film ini begitu alami dan tak dibuat-buat. Pejuangan Hugh Glas di alam liar juga patut diacungi jempol. Apalagi dengan motivasi yang ditampilkan begitu brilian oleh Alejandro G. Inarritu, menjadikan The Revenant menjadi salah satu film bertahan hidup dan balas dendam terbaik, terkejam, terbrutal dan terindah yang pernah ada.
Overall The Revenant adalah sebuah puisi yang akan mengoyakmu tampa aba-aba, puisi yang akan membuatmu ngilu akan sebuah perjuangan panjang seorang ayah yang membalaskan dendam atas kematian anaknya dan sebuah puisi yang akan membuatmu menghela nafas panjang dan lega saat melihat film berdurasi lebih dari dua setengah jam ini berakhir, hingga akhirnya kau akan bertepuk tangan melihat pengalaman sinematik yang tak ada duanya ini. Kredit khusus untuk Emmanuel Lubezki yang telah membuat film ini sanggat mempesona.
Skor : 9/10

REVIEW FILM: SINGLE (2015)

Triztan Famous Review : Single (2015)


SINGLE
Reviewer : Triztan Famous
“Kubenci sendiri... kubenci sendiri... sampai kapan terus begini...”
Entah kenapa saat keluar dari bioskop aku dan teman-temanku terus menyanyikan Ost. Film single yang khusus diciptakan oleh Geisha untuk film ini. Kurang lebih ada tiga macam gubahan arasemen yang sanggat candu di dalam film Single yang menggunakan lagu ciptaan Geisha ini. Ekspektasi yang rendah dan cenderung kecewa saat menonton film ini sedikit demi sedikit terobati saat film ini mulai bergulir. Jujur sebelumnya tak ada rencana sama sekali untuk menonton film ini sebelumnya, karena pada malam itu aku dan teman-teman berencana untuk ikut heboh dalam pengalaman sinematic Star Wars episod VII berjudul The Force Awakens, tapi karena telat setengah jam dan karena tak ingin pulang dengan tangan hampa. Akhirnya kita putuskan untuk menonton film single, yang begitu heboh mengisi liburan anak-anak muda di Indonesia.
Ekspektasi rendah dan rasa kecewa saat menonton film ini membuatku dan teman-teman mengira jika film ini akan berakhir sama seperti comic 8 Casino King Part 1 yang begitu melempem. Tapi saat film mulai bergulir perlahan film ini mulai dapat dinikmati, terlebih saat Ebi (Raditya dika) galau benyanyi kubenci sendiri yang dilantunkan Geisha dengan mimik wajah yang teramat sanggat ingin aku tonjoki (hahaha... entah kenapa dari dulu saat aku melihat Raditya Dika terbesit rasa untuk menghancurkan wajahnya, Pstt jangan bilang-bilang sama dia ya). Scene saat Ebi menyanyikan lagu Geisha dengan suara tak karuan itulah yang membuatku menikmati single.
Secara garis besar Single menceritakan tentang Ebi yang memiliki kesulitan untuk berbicara dengan lawan jenis dan sudah berumur untuk memiliki pasangan. Dibantu kedua sahabatnya Wawan (Panji) dan Victor (Babe Cabita) Ebi mulai mencari pasangan karena mamanya yang terus menerus mendesaknya dan adiknya yang keburu nikah karena sudah mapan, memiliki rumah dan pasangan, tidak seperti Ebi yang malah kebalikannya, Belum dapat kerja, masih kost dan sering pinjam uang mamahnya dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja.
Salah satu hal kenapa malam itu memutuskan untuk menonton film Single karena ada nama Soraya Film dibelakangnya, tak lebih tak kurang karena sebelum-sebelumnya saya memang bukan penggemar berat Raditya dika, sayapun juga belum menonton film Dika sebelumnya. Di Indonesia nama Besar Soraya Film sudah menjadi Brand menjanjikan akan sebuah film untuk menampilkan production value yang menakjubkan. Soraya Film yang sebelumnya sukses mnelurkan film-film mega blocbuster seperti Eifel i’m in love yang berhasil menembus 2 juta penonton, 5 cm yang kembali mendulang emas sebesar 2,2 jutaan penonton, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick yang menjadi film dengan penonton terbanyak di Indonesia tahun 2013 dengan jumlah penonton 1,7 juta penonton dan terakhir film Supernova episode satu yang berjudul Ksatria, Putri dan Bintang jatuh yang tampil paling menyedihkan lewat eksekusi film, kesalahan casting, pelafalan bahasa buku dan pemilihan materi novel yang tidak cermat. Sehingga menjadikannya film Soraya berpenonton paling rendah, yaitu sekitar 500an ribu penonton saja.
Sigle yang produksi oleh Soraya Film memberikan sajian gambar yang begitu indah, jernih, dan mewah. Shot-shot Bali yang menakjubkan, adegan skydiving yang lumayan menghibur dan ledakan mobil yang sudah nampak sedikit ti trailernya, sungguh kemewahan yang sanggat jarang ditampilkan di perfileman indonesia yang jarang berani memproduksi film dengan dana yang besar.
Film Single juga memiliki keistimewaan daripada film-film raditya dika yang lainnya, selain production value yang jempolan, single juga memiliki amunisi sebagai film pertama Raditya dika yang tak berdasarkan dari buku-bukunya, selain nama Raditya dika yang begitu menjual di kalangan anak muda. Banyak hal yang membuat film ini begitu mengalir dan membuat 2 jam dibioskop tak terlalu terasa. Acungan jempol untuk Babe Cabita yang berhasil meningkatkan suntikan humor di film ini, joe yang tampil begitu menganggu dan menjengkelkan sekaligus lucu disaat yang bersamaan, Panji juga tampil begitu pas, begitu pula Pevita pearce yang tampil begitu menakjubkan walau hanya menjadi cameo saja di dalam film ini. Memang ada beberapa moment dan emosi yang tak terlalu berhasil disampaikan dengan baik di dalam film ini, dan moment-moment tersebut kebanyakan pada saat angel (anisa rawles) berakting. Angel yang menjadi karakter pusat di film ini seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih daripada tangisan palsu saat puisi ibunya dirobek-robek radit. Sumpah, itu akting murahan sekali. Memang ada beberapa plot hole yang terdapat di film ini, tetapi setidaknya ini adalah Film komedi yang tidak kampungan seperti film-film berlabel komedi lainnya.
Single adalah film komedi berkelas, dengan Production Value yang begitu berkelas juga. Meski banyak moment yang hit and mis, tapi setidaknya film ini begitu lancar bercerita hingga akhirnya memberimu pencerahan pada akhir filmnya. Semoga suatu saat nanti Radit berhenti bermain-main di zona amannya, dan memulai suatu hal diluar jalur film-filmnya kebanyakan.

Skor : 7,5 /10 

ps: selamat atas pencapaian film single memperoleh 1 juta penonton #BanggaFilmIndonesia

REVIEW: The Good Dinosaur (2015)

Triztan Famous Review : The Good Dinosaur (2015)



The Good Dinosaur
Reviewer : Triztan Famous
Setelah absen unjuk kebolehan di tahun 2014, pixar kembali keranah animasi pada tahun 2015 dengan dua buah film animasi berbuget besar. Kerontang akan karya masterpiece Pixar langsung terpenuhi dengan bombardir teaser, trailer dan snek peak Inside Out yang begitu menakjubkan. Semua orang yang sudah menyaksikan Inside Out pasti berseru jika Pixar is Back! Tak salah memang, Pixar yang menjadi brand penghasil animasi blockbuster dan studio animasi penjamin mutu kembali mempertahankan nama besarnya dikancah perfileman animasi dunia, dan saya juga berani bertaruh jika piala Oscar untuk animasi terbaik bakal kembali ke Pixar dengan Inside Outnya yang luar biasa.
Tapi, expektasi yang membumbung tinggi akibat penampilan gemilang Inside Out tak lantas membuat The Good Dinosaur kecipratan keajaiban Pixar. The Good Dinosaur yang proses produksinya mundur satu tahun dan mengalami pembongkaran cerita, sutradara dan pengisi suara harus dengan lapang dada menerima beragam kritikan. The Good Dinosaur sebenarnya bukan film yang buruk, sama sekali bukan. Tapi the Good Dinosaur juga bukan film animasi sekelas Inside out, trilogy toy story, Wall E, Rattatoulie, The Incridible, Up, dan Finding Nemo yang fenomenal itu.
The Good Dinosaur adalah film kelas dua Pixar yang memiliki sajian cerita sekelas, Cars, Cars 2, Brave, ataupun Monster University. Pergantian sutradara, pengisi suara dan perombakan cerita memang sangat terasa saat menyaksikan film ini, saya yang ingin takjub untuk kesekian kalinya saat menyaksinya film produksi Pixar memang harus menelan kecewa dengan cerita yang terlampau simple untuk brand sekelas Pixar.  Tapi bukan Pixar namanya jika tak memiliki sentuhan ajaib di dalam setiap filmnya, The Good Dinosaur adalah film animasi terindah yang pernah saya lihat, efek hujan, air, awan, atau pemandangan alam di film ini terasa begitu menakjubkan dan hampir seperti nyata. Empat jempol ke atas untuk tim Pixar yang telah menciptakan dunia The Good Dinosaur yang begitu indah.
Karakterisasi begaram dinosaurus di film ini juga kuat dan indah dengan tampilan warna-warni yang mudah disukai anak-anak dan cukup efektif untuk mengundang tawa dengan berbagai tingkah polahnya. The Good Dinosaur memang sebuah film yang dikhususkan untuk anak-anak, tak seperti film-film Clasic Pixar yang bisa dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa selaku pendamping anak-anak saat menonton film. Tapi memang ada beberapa hal yang terlalu berlebihan jika film ini memang dikhususkan untuk anak-anak, seperti saat arlo dan spot mabuk karena makan buah-buahan senejis beri atau jamur, atau adegan-adegan yang terlampau keras dan kejam yang terjadi kepada Arlo dan Spot saat tersesat di alam liar.
Overall, The Good Dinosaur adalah film animasi dengan sajian sinematik paling indah dan menakjubkan yang pernah ditampilkan oleh film-film animasi selama ini tapi terkesan nanggung di aspek cerita. Terlalu keras dan kejam untuk anak-anak tapi terlalu membosankan dan mudah ditebak untuk orang dewasa.
skor:
7/10

REVIEW FILM: INSIDE OUT (2015)

INSIDE OUT (2015)





INSIDE OUT
Reviewer: Triztan Famous
Pixar is back! Pixar is back! Kegirangan saya dengan sahabat saya saat mendengar kabar Inside Out tayang di Indonesia. Setelah menunggu kurang lebih dua bulan karena harus mengalah dengan Minions yang luar biasa menjengkelkan itu akhirnya film yang digadang-gadang menjadi film animasi peraih piala Oscar tahun ini keluar juga. Ekspektasi yang tak lagi bisa terbendung, pujian setinggi langit para kritikus film hingga pendapatan opening yang mampu menutupi setengah ongkos produksi tak ayal membuat para pecinta film animasi khususnya Pixar berbondong-bondong ke bioskop.
Pixar adalah sebuah Brand internasional yang menguasai permainan dunia animasi selama kurang lebih 25 tahun. Film pertama Pixar, Toy Story langung mencuatkan nama Pixar kedunia internasional. Kemunculan beruntun film-film animasi yang memiliki kualitas dan cerita diatas rata-rata semakin memperjelas pemetaan studio animasi terbaik yang pernah ada di dunia. Sebut saja film A Bugs Life yang muncul setelah film Toy Story yang pertama, lalu disusul Toy Story 2, Monster Inc., Finding Nemo, The Incridible, Cars, Ratattaulie, WALL E, UP, Toy Story 3 dan mulai mengendur kualitasnya saat merilis Cars 2, Brave, Monster University, hingga akhirnya harus vakum setahun karena masalah produksi film The Good Dinosaur yang harus dirombak hingga akhirnya semua orang bersorak sorai saat Pixar kembali dengan karya barunya berjudul Inside Out yang memukau dunia.
Film Inside Out bercerita tetang lima emosi dasar yang hidup didalam fikiran manusia, kelima emosi tersebut ialah Joy (Gembira), Sadnes (Sedih), Angry (Marah), Fear (Takut) dan Digust (Jijik). Secara garis besar Inside Out bercerita tentang pergolakan emosi Riley, gadis 12 tahun yang enerjic dan penggembira yang harus terpaksa meninggalkan kehidupannya yang sempurna di Menesota ke San Francisco karena pekerjaan ayahnya. Secara plot cerita Inside out sebenarnya juga sangat simpel, tapi perpaduan antara dunia nyata dan dunia emosilah yang pada akhirnya membuat film ini begitu menakjubkan.
Jika ditilik melalui trailer, teaser dan beragam snek peak yang bertaruran di youtube (Inside Out adalah film Pixar yang paling banyak mengumbar sneak peak sepanjang masa) dalam persepsi saya film ini bakal serumit Inception Christopher Nolan yang begitu Rumit, Indah dan menakjubkan karena sama-sama memiliki seting yang sama, yaitu dunia fikiran dan dunia nyata. Tapi ternyata saya salah, Inside Out sama sekali berbeda dengan masterpiece Nolan tersebut. Begitu mudahnya kita masuk ke dalam dunia Inside Out, lewat karakter-karakter mengemaskan, berwarna, dan dialog cerdas sesuai porsinya kita diajak berpetualang ke dunia fikiran Riley Anderson.
Dunia alam sadar, long term memory, pulau imajinasi dan lain-lain disajikan dengan begitu greget dan menakjubkan. Begitu bewarna dan begitu mengasyikan menikmati Inside Out, serasa anak kecil tersesat di Time Zone. Konflik bergulir saat Sadnes tiba-tiba bertindak diluar kendali hingga membuat dirinya dan Joy keluar dari Ruang Kendali. Saat Joy dan Sadnes keluar dari Ruang kendali itulah Inside Out benar-benar menunjukkan taringnya. Petualangan demi petualangan mereka lewati bersama Bing Bong yang bakal membuatmu terpingkal-pingkal dan bingung memilih karakter mana yang akan kalian favoritkan di dlam film ini. Bing Bong yang diperkenalkan dengan cara komikal pada akhirnya harus membuatmu menitikan air mata di paruh akhir penceritaan.
Inside Out juga memberi kita banyak pelajaran, salah satunya adalah jika peristiwa semata-mata hanyalah peristiwa, jenis emosilah yang pada akhirnya membuat kita menjadikan peristiwa itu menjadi kenangan yang membangkitkan rasa hangat di dada, rasa marah, rasa jijik, rasa takut ataupun rasa sedih. Di dalam film ini kita juga diajarkan jika semua emosi itu teramat penting untuk ada di dalam kehidupan kita. Jika anda berfikir jika Sadnes itu tidak penting, coba berfikirlah ulang, kita tak akan bisa merasakan kebahagiaan jika kita tak merasakan kesedihan terlebih dahulu, begitupun sebaliknya.
Sekali lagi Pixar membuktikan jika mereka masih memiliki sentuhan ajaib untuk membuat karya masterpiese, film yang dibuat dengan hati begitu banyak berbicara lewat emosi hingga membuatku untuk kedua kalinya menitikkan air mata di dalam bioskop tahun ini (Awal-awal tahun Filosofi Kopi berhasil membuatku menitikkan air mata karena konflik dengan sosok Ayah yang terasa begitu personal). Overall, Pixar did a great job again...
Skor : 10/10

REVIEW FILM: MINIONS (2015)

MINIONS (2015)





MINIONS (2015)
Reviewer : Triztan Famous
Minions... Minions... Minions... mahkluk kuning berpolah menyebalkan yang dengan cepatnya langsung menguasai dunia, dunia anak kecil setidaknya. Tak ada yang benar-benar baru sebenarnya dari film ini, hal-hal yang seru sudah kita dapatkan semua dari teaser, trailer dan snek peck yang berterbaran di internet.
Film Minions (2015) ini adalah prekuel sekaligus sekual Despicable Me yang sudah memiliki dua series. Minions berkisah tentang sejarah awal mula minions ada di bumi untuk mencari bos dalam gerombolan mereka. Bos pertama mereka adalah Dinasaurus, lalu manusia purba, Fir’aun, Drakula, Napoleon Bonapate, hingga akhirnya mereka tak memiliki bos untuk waktu yang lama.
Setelah mengalami masa stagnan yang cukup lama, akhirnya Stuart, Kevin dan Bob memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyian untuk kembali mencari bos yang baru. Sesampainya mereka di New York, mereka bermalam di sebuah pusat perbelanjaan dan melihat saluran televisi bernama VNC (Vilian Network Channel). Lewat saluran teve khusus penjahat itu kita mulai diperkenalkan dengan sosok Scarlet Overkill yang disuarakan oleh Artis peraih Oscar Sandra Bullock.
Melalui Vilian-Con International tahun 1968 Ketiga minions tersebut bertemu dengan Scarlet Overkill dan karena suatu kejadian di Villian-Con akhirnya Stuart, Kevin dan Bob menjadi anak buah Overkill. Tapi menjadi anak buah Overkill tak semudah yang ketiga Minions Itu kira, mereka harus mencuri mahkota ratu inggris terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa mereka bertiga pantas menjadi anak buah Scarlet Overkill.
Dengan cara yang sanggat mudah akhirnya ketiga Minions itu bisa mendapatkan mahkota ratu Inggris dan berebut dengan Scarlet Overkill karena suatu sebab hingga akhirnya bertemu dengan Gru, bos mereka dikedua film Despicable me satu dan dua.
Tak ada yang benar-benar mempesona dari film Minions yang begitu heboh untuk anak-anak di dunia, bahkan saya berani mengatakan jika ini film terburuk dari franchese Despicable Me yang memang sengaja ditargetkan untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya. Sangat disayangkan memang tak ada yang benar-benar baru di dalam Minions. Bahkan beberapa teman saya keluar dari bioskop saat film ini masih setengah main.
Paruh pertama film ini memang masih dapat dinikmati, tapi mulai saat Scarlet Overkill muncul, film ini terasa sanggat membosankan. Suara Sandra Bulock yang pernah meraih piala Oscar pun tampil tak begitu tangguh sebagai seorang penjahat super. Jika menilik sajian animasi dari Illumination eintertaiment memang tak ada yang benar-benar baik, sajian animasi di film ini masuk dalam katagori cukup.
Overall, minions adalah seri terburuk Despicable Me, yang sedari awal memang ditujukan untuk mengeruk untung besar-besaran lewat dunia anak-anak. Bahkan gara-gara minions, film Inside out yang jauh lebih superior dari segi kritik, kualitas dan Brand besar Pixar harus mengalah dua bulan hanya untuk tampil di bioskop Indonesia. Well, selamat menonton. Saran saya jangan berekspektasi macam-macam saat menonton film ini.
Skor: 4/10

skenario film pendek, kesempatan kedua








Kesempatan Kedua


Written by :
Triztan Famous

Directed by :
Intan Pratiwi A.

Produce :
Karang Taruna AMUNISI


       
CAST
Wanita :
Lelaki :

GENRE : Drama, Romace,

SKRIP
IN. Di Dalam Ruangan
1. Narator : pernahkah di kunjungi masa lalu? Impian, kenangan, seseorang, sebuah rasa... karena kadang tak semua cinta tergantikan oleh cinta, karena kadang tak semua cinta itu ternyata cinta... times changed, things changed, we Changed.
Ext.  Sawah, Sore Hari
Seorang wanita duduk termenung di pinggir sawah, menatap bentangan gunung dari kejauhan, di tangannya terdapat sebuah buku harian tempat seluruh episodenya berpadu, buku harian pemberian seseorang yang pertama kali mengisi hatinya. Setelah dua tahun tak bertatap muka, akhirnya hari ini mereka memutuskan untuk berjumpa. Menggenapkan apa yang harus di genapkan, menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan.
WANITA
(tersenyum melihat kedatangan orang yang ia cintai datang)
LELAKI
Hay, sudah lama nunggunya? (turun dari sepeda motor, mencopot helm lalu langsung menjabat tangan si wanita)
WANITA
Belum, aku juga baru saja dateng kok (kikuk, tersipu malu)

LELAKI
(memanggut-manggutkan kepala) ehm, kamu kelihatan beda (melirik si wanita sebentar lalu kembali menatap gunung di kejauhan, tersenyum sekilas)
WANITA
Beda bagaimana?
LELAKI
Ya beda saja, lebih tenang, lebih luwes, dan kayaknya lebih santai. Nggak kaya dulu (tersenyum simpul)
WANITA
(menunduk, tersenyum singkat) kamu juga, kayaknya lebih dewasa dan tenang, nggak kaya dulu (melirik sang LELAKI) kamu, apa kabar?
LELAKI
Kabarku Menakjubkan!
WANITA
Lho, kok bisa?
LELAKI
Ya karena mau ketemu kamu hari ini, semalaman aku bahkan sampai nggak bisa tidur. Lucu ya?
WANITA
(tersenyum lebar) sama, aku juga. Mungkin karena kita sudah lama nggak ketemu, jadi sedikit antusias
LELAKI
Kamu masih ingat janji kita dulu?
WANITA
Janji yang mana? Kamu menjanjikan banyak hal sama aku

LELAKI
Hatimu adalah hatiku. Tubuhmu adalah tubuhku. Kamu milikku. Aku milikmu. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada dusta lagi. Tidak ada penghalang lagi. Sakitmu, tawamu, air matamu, amarahmu, lukamu, semuanya adalah-
WANITA
(menyela kalimat LELAKI) -tanggung jawabku
LELAKI
Kamu masih ingat? (antusias menatap sang WANITA)
WANITA
Tentu, itu janji sakral kita pas awal jadian dulu.
LELAKI
Aku senang kamu masih ingat itu. Kamu masih sendirikan selama aku pergi?
WANITA
(tersinggung) itu pertanyaan macam apa? Aku masih sendiri (ketus) pas kamu dulu pergi, kamu nggak ngasih kepastian apa-apa lho sama aku, secara nggak langsung kamu gantung aku lho. Dua tahun tanpa kabar. Tanpa surat, tanpa SMS, tanpa petunjuk sedikit pun.
LELAKI
Aku minta maaf untuk itu dan untuk segala kesalahanku selama menjalin hubungan sama kamu.
WANITA
Kamu tenang saja. Aku sudah maafin kamu jauh hari sebelum kamu minta maaf sama aku. (menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan)
LELAKI
Kamu benci sama aku?

WANITA
Enggak, aku sama sekali nggak benci sama kamu. Aku cuma lelah menunggu kepastianmu, dua tahun aku kamu gantung, tanpa kepastian apapun. Dan itu sakit. Aku ngerasa hampa, padahal hampa itu kan kosong, nggak ada apa-apa, tapi kenapa hampa yang aku rasain saat kamu tinggalin aku itu menyakitkan ya?
LELAKI
(menundukkan wajah, menyesal) Aku minta maaf, aku mohon sama kamu, maafin aku. Sumpah aku nggak ada maksud apa-apa, nggak pernah aku niat buat sakitin kamu.
WANITA
Kamu ada maksud sama aku juga nggak apa-apa kok, sudah tenang saja, itu kan sudah berlalu, yang udah ya udah, biarin saja jadi kenangan. Dan kenangan nggak seharusnya jadi bebankan?
LELAKI
(tersenyum pahit, tersinggung dengan ucapan si wanita) sekarang kamu kuat ya
WANITA
(menghembuskan nafas perlahan, menahan tawa) keras kepala iya, tapi kadang menjadi kuat itu bukan berarti tahu segalanya lho. Bukan berarti aku tak bisa hancur. Kekuatanku ada pada kemampuanku bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh.
LELAKI
Dan akulah orang yang membuatmu berkali-kali jatuh? Orang yang membuatmu menjadi sosok yang kuat? (tersenyum getir)
WANITA
(tersenyum) masihkah kamu harus tetap bertanya ketika kamu sudah tahu jawabnya? iya, kamu salah satunya. Tapi tenang, masa itu sudah berlalu. Nggak ada gunanya ngungkit-ngungkit itu. Kamu ketemu aku nggak buat ngungkit-ngungkit itu kan?

LELAKI
Nggak, aku ngajakin kamu ketemu bukan untuk ngungkit-ngungkit itu kok. Tapi aku minta sama kamu, Jangan sakiti aku mengatasnamakan masa yang telah berlalu (serak) aku ingin pertemuan kita setelah dua tahun tak jumpa menjadi kenangan yang indah. Bukan seperti ini, mengungkit-ungkit masa lalu hanya untuk saling menyakiti.
WANITA
(terdiam lama, berfikir) kamu benar, maafin aku. Aku hanya terbawa emosi sesaat saja. Sorry,
LELAKI
Sama-sama, kita saling memaafkan saja (melirik buku diary di tangan sang WANITA) buku itu masih kamu simpan?
WANITA
Iya, buku ini selalu aku bawa kemana-mana, nggak semua kenangan bisa aku lupakan begitu saja.
LELAKI
Kamu tahukan kalau aku masih sayang sama kamu?
WANITA
Tahu, aku pun juga masih merasakan hal itu
LELAKI
Jadi?
WANITA
Jadi apa?
LELAKI
Kita balikan?
WANITA
Memangnya sejak kapan kita putus?
LELAKI
(sumringah mendengar jawaban sang WANITA) jadi sekarang kita masih pacaran?
WANITA
Enggak
LELAKI
(kebingungan) Lha terus?
WANITA
Mulai sekarang kita jadi teman dulu saja
LELAKI
Jadi nanti aku masih bisa jadi pacarmu lagi?
WANITA
Tergantung,
LELAKI
Tergantung bagaimana?
WANITA
Tergantung kamu nantinya. Jujur aku masih sayang sama kamu, sayang banget malah. Tapi, setelah kamu pergi tanpa kepastian apapun rasa itu memudar dengan sendirinya. Masih ada, tapi tak sekuat dulu.
LELAKI
Terima kasih untuk hal ini, dan maaf untuk dua tahun belakangan ini.
WANITA
Sudahlah, jangan minta maaf terus. Biasa saja, aku cuma nggak suka saja sama konsep pacaran yang bubar terus musuhkan satu sama lain. Saling menjatuhkan. Cepat-cepatan cari pasangan baru dan lain-lain. Hubungan antara hati ke hati itu tak serendah itu, nggak senista itu dan nggak seremeh itu. Cinta itu sebenarnya cukup lapang kok untuk menampung apapun, termasuk kesalahan fatal.
LELAKI
Iya aku paham
WANITA
Intinya, aku ngasih kesempatan kedua buat kamu karena itu keputusan yang paling adil buat kita berdua. Kita masih saling sayang, tapi aku juga butuh pembuktian kalau kamu serius masih mau jalin hubungan sama aku, oke? (mengulurkan tangan)
LELAKI
Oke (menjabat tangan si WANITA)
WANITA
Deal, baru mulai besok kamu boleh ngejar-ngejar aku lagi (tersenyum senang)
LELAKI
Siapa takut?
WANITA
Selama dua tahun kemarin kamu beneran nggak jalin hubungan sama siapa-siapa?
LELAKI
Enggak
WANITA
Lha kenapa?
LELAKI
Masih perlu ya tanya hal yang sudah pasti kamu tahu jawabannya?
WANITA
Nggak ada yang salah dengan kepastian

LELAKI
(mengangguk-anggukan kepala) ya, nggak ada yang salah sama itu. Nggak ada cinta yang rasanya sama, kenapa harus coba-coba kalau sudah menemukan yang pas? Yang tepat dan klop banget?
WANITA
(tersenyum senang, lalu menyandarkan kepalanya ke pundak sang lelaki, menghabiskan waktu menatap matahari yang mulai terbenam)

CUT TO THE END TITLE