Showing posts with label cerpen. Show all posts

Kentongan



KENTONGAN
Oleh : Triztan Famous

Dini hari sebelum subuh itu, kentongan di pojok gardu mengadu. Mengoyak selaput awan di atas sana. Membuatku dan tetanggaku bergegas, berlari bersama cemas menyecap ujung suara.
“Maling! Maling!“ lagi, seruan parau itu menggema di sudut desa. Meminta pertolongan, memberi kepastian. Penduduk sekitar yang sudah biasa membaca tanda-tanda akan datangnya peristiwa lantas berhambur di luar rumah, memecah diri. Sebagian menuju sumber suara, yang lain bersiap di titik-titik strategis.
Seketika, rumah di ujung jalan itu ramai tak terperi. Seseorang bercadar sarung berkelebat menghindar kejaran masa yang mendadak padu. Ia panik, tak mengira jika aksinya kali ini akan mengundang masa sebegitu banyaknya.
Nafasnya berseloroh, tremor menyerang mendadak, degub di jantungnya seperti akan mencuat lepas dari dalam dada. Ia tak ingin menjadi tumbal kejahatan masal, dengan segenap tenaga ia memaksa tungkai kakinya yang terus bergetar agar terus bergerak. Menjejak aspal, atau gumpalan tanah berbatu yang meghadang. Ia ketakutan. Keringat menderas, membentuk noda basah di lekukan tubuh, punggung dan cadar sarungnya. Clurit di tangannya siap membabat orang yang menghadang. Ia tak ingin menyulut peperangan, tapi itu akan terjadi jika langkahnya terhalang.
 http://images.suaradesa.timesindonesia.co.id/1430825036-Antara-Kentongan-dan-Broadcast-Messages.jpg
Para cecunguk desa mulai bertebaran di posisi strategis yang mungkin ia lewati, membuat si pencuri hilang akal, jalan-jalan keluar yang ia persiapkan tersumbat gelontoran manusia. Ternyata aksinya sudah terendus warga desa. Tak ingin ia tertangkap dan jadi bulan-bulanan masa demi segengam emas dan segepok uang. Keluarganya setia menunggu dirumah, ia tak ingin mengecewakan mereka. Atau sekedar pulang menghidangkan rasa malu untuk dijamu sebagai sarapan.
Di pertigaan langkahnya tersendat, ia melihat masa mengepungnya. Jiwanya histeris, ia kalut, sekilas ia bersitatap dengan malaikat maut yang hadir berkelebat, penunggu kuburan yang akan tubuhnya gunakan untuk bersemayam, “Jangan memaksakan keberuntungan,“ katanya sinis. Tapi ia diam, tak menggubris kelebat hayalnya. Ia tak sudi menyerahkan butir nyawanya dalam kondisi seperti ini.
Ia mengedarkan pandang, tak ada jalan, bisiknya getir pada diri sendiri. Tetesan keringat mendanau di bungkusan ketat tubuhnya. Ia kembali mengedarkan pandang, tak ada jalan, ulangnya frustasi.
Matanya bergetar, ia lemparkan sudut pandang ke segala penjuru arah. Mustahil ia bisa memanjat tembok setinggi dua setengah meter disekelilingnya, pertigaan itu mengkungkung dirinya dengan jajaran rumah berpagar tinggi. Sebentar lagi kau akan bertemu ajal, dan aku akan melumatmu perlahan, ucap sang maut kegirangan. Tidak! Aku tak ingin mati sekarang, balas sengit pencuri bercadar.
Suara kentongan terasa menohok telinga saat sebuah galah melayang menubruk punggungnya. Warga desa sudah bersiap, mereka tak ingin celaka dengan pertarungan jarak dekat dengannya. Clurit di tangannya teracung garang, menantang warga desa yang mendatang. Ia tak ingin menyerah, sama sekali tak ingin kalah.
Gelombang besar manusia mengepungnya dipertigaan, dengan senjata dan alat pertahanan seadanya, mereka membludak dalam sebuah arus besar yang tak bisa ditahan. Tak hanya lelaki yang datang menyeruak, ibu dan anak-anak semua berbondong-bondong datang. Mereka ingin melihat orang dan kejadian yang akan menjadi bahan omongan beberapa waktu kedepan.
Batu dan galah meluncur dari segala arah menghujam tubuhnya. Cluritnya tak lagi terlihat garang, saat ia melindungi wajahnya, warga berdatangan menghampiri dan merebut clurit yang tak bisa lagi terlihat garang. Balok kayu langsung menghantam telinga bagian kanan, rasa panas, perih dan dengungan panjang datang menyergap disertai sorak sorai masal. Warga bahagia, maut bersendawa.
“Habisi dia!“
“Buat orang itu jera!“
Teriakan menghujam dari berbagai lidah tajam. Mereka akan membunuhku, ucapnya pasrah, aku akan mati. Ia pasrah, tak bisa ia berbuat apa-apa. Tubuhnya terus berdenyut kencang bekas sepakan keras kembali menghantam sisi kiri wajahnya.
Mereka bersorak! Orang-orang terus berteriak!
Batu menghantam dari bawah dagunya.
Tawa masyarakat membuncah! Beludak bahagia menggema!
Galah adu keras dengan jidatnya. Sorai bertemu dengan tepukan tangan! Mereka menikmati proses penyiksaan dirinya dengan gembira.
Kentongan terus ditabuh sebagai orkes pengiring kebahagiaan masal. Cadar sarungnya dikoyak diantara wajah belepot darah dan luka setengah matang. Mereka mengenalinya, jati dirinya resmi telanjang. Bogem mentah kembali melayang, bergilir menghantam wajahnya. Tongkat kasti meremukan rusuknya, balok kayu menghancurkan telinganya, sepakan keras menjontorkan bibirnya, galah kembali adu keras dengan batok kepalanya, dan sikut mendarat tepat di tengah punggungnya.
Adengan itu terus berulang, menerbangkan setengah nyawanya mengawang-awang, ia sekarat, sang maut siap-siap melumat. Wajahnya tak lagi ketara diantara aliran segar darah dan biru memar. Ia sadar, jika inilah babak akhir hidupnya.
Kentongan kembali bertabuh.
Menyadarkanku, jika itu ceceran mimpi yang telah berlalu.




skenario film pendek, catur








Catur


Written by :
Triztan Famous

Directed by :
Triztan Famous

Produce :
Karang Taruna AMUNISI


       
CAST
Pemain catur :
Teman pemain catur 1 :
Teman pemain catur 2 :
Teman pemain catur 3 :
Teman pemain catur 4 :

GENRE : Drama, Comedy

SKRIP
FADE IN
EXT. Pinggir jalan
PEMAIN CATUR
Berjalan sendirian dengan membawa papan catur sambil bersenandung lagu dangdut

EXT. Teras Rumah
PEMAIN CATUR
(berjalan menghampiri temannya yang sedang sibuk di teras rumah) Eh bro, gek ngopo koe? (berdiri petentang-petenteng di depan temannya)
TEMAN 1
(menengok sebentar PEMAIN CATUR lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya) Gek garap tugas bro! Rene ewangi aku garap!

PEMAIN CATUR
Ah ngapain aku ngewangi koe? Mendingan dolanan catur karo aku! (sambil berkacak pinggang)
TEMAN PEMAIN CATUR 1
Eh, nak iki dino iki ra rampung! Aku bakal di gantung karo kelompokku! Soale gur karek aku thok seng hurung entuk jatah gawe tugas iki. Wes mendingan koe dolanan catur karo kocur wae!
PEMAIN CATUR
Kocur we igek dolan kok karo pacare!
TEMAN PEMAIN CATUR 1
Makane golek pacar wae, gen ora ngajaki wong dolanan catur terus!
PEMAIN CATUR
Halah, kakean alesan koe bro (pergi meninggalkan temannya)

EXT. Pinggir jalan
PEMAIN CATUR
(berjalan sendirian mencari lawan untuk bermain catur)
TEMAN PEMAIN CATUR 2
Eh bro! (melambaikan tangan) koe arep nek endi?
PEMAIN CATUR
Lha piye bro?
TEMAN PEMAIN CATUR 2
Koe arep nek etan deso opo ora? Nak rep ngetan aku rep titip, tulung tukokno rokok tapi Gowa duitmu sek yo
PEMAIN CATUR
Has... gablek duit we ora kok bro... bro... suk nak aku wes sugih wae tak tukoke rokok sak slop hahahah
TEMAN PEMAIN CATUR 2
Wo... lha ndladuk! Kapan sugihe nak kerjo we ora
PEMAIN CATUR
Yo Ongko nak due bojo mertuone sugih (ketawa cengengesan)
TEMAN PEMAIN CATUR 2
Wong nak arep ngepek mantu koe yo mikir-mikir sek tho bro
PEMAIN CATUR
Mendingan saiki koe dolanan catur karo aku wae, piye? Wani po ra? (sambil menenteng-nenteng papan catur di tangannya)
TEMAN PEMAIN CATUR 2
Ra sudi! Mending turu wae penak timbang mumet dolanan catur, ditambah mumet delok rupamu (lalu berlari terbirit-birit)
PEMAIN CATUR
Wo lha SETAN!!!

EXT. PINGGIR JALAN
PEMAIN CATUR
(berjalan sendirian sambil mencari lawan bermain catur)

EXT. KANDANG SAPI
PEMAIN CATUR
Gek opo koe bro? (berjalan mendekati temannya)
TEMAN PEMAIN CATUR 3
Igek tamasya keliling-liling kota. Genah igek nyacah suket yon dadak takok barang, mripatmu keno rabun senja opo piye?

PEMAIN CATUR
(Tertawa terbahak-bahak)
TEMAN PEMAIN CATUR 3
Rep nopo rene barang? Rep ngutil suketku po piye? (sibuk mencacah rumput untuk diberikan kepada sapi)
PEMAIN CATUR
Gur arep nantang koe main catur wae, nak wani sih... nak ra wani yo ora opo-opo (dengan nada mengejek)
TEMAN PEMAIN CATUR 3
Wes minggato kono, wong igek kerjo yo di ganggu, makane goleko kerjo kono!
PEMAIN CATUR
(lalu pergi meninggalkan temannya)

EXT. Pinggir jalan
PEMAIN CATUR
Gek bar bali makaryo yo bro?
TEMAN PEMAIN CATUR 4
Ora, igek bar tangi turu! Kurang cetho po nak aku agek khas bali kerjo?
PEMAIN CATUR
(tertawa terbahak-bahak) wani lawan aku dolanan catur opo ra?
TEMAN PEMAIN CATUR 4
Wah, wah, wah... koe ki jan pekok opo pancen asli goblok? Bali kerjo ki kesel! Wayahe leren sek! Ngajak dolanan catur sore-sore ngene! Suk kapan-kapan wae! Awaku gek kesel kabeh!


PEMAIN CATUR
Halah, kondo wae ra wani (lalu pergi meninggalkan temannya sambil mencuri kopi yang baru saja di pesan oleh temannya)
TEMAN PEMAIN CATUR 4
Lhah? Wedangku nek endi? Mesti tegesan ki seng jupuk? Wo lha WEDUSS!!!

EXT. Pinggir jalan
PEMAIN CATUR
Mending dolanan catur dewe timbang golek lawan ra enek seng wani lawan aku (sambil berjalan)

EXT. Teras rumah
PEMAIN CATUR
Mulai Menata bidak catur untuk dirinya sendiri, lalu memainkannya lawan dirinya sendiri
PEMAIN CATUR
(Setelah semua bidak catur tertata PEMAIN CATUR mulai bermain catur dengan bidak warna hitam, lalu berpindah tempat di depannya dan bermain dengan bidak putih)
PEMAIN CATUR
Cepet mlaku! Saiki giliranmu! (pemain bidak catur hitam)
PEMAIN CATUR
Kosek! Sabar! (pemain bidak catur putih)
PEMAIN CATUR
(setelah melalui beberapa macam langkah dan strategi permainan, bidak catur hitam yang menyerang bidak putih terus menerus akhirnya menyadari kesalahannya)
PEMAIN CATUR
SKAK! Hahahah... (bidak putih)
PEMAIN CATUR
Urik koe! (bidak hitam)
PEMAIN CATUR
Hahahaha aku menang! (bidak putih)
PEMAIN CATUR
Ora iso! Kui curang!
PEMAIN CATUR
(pemain bidak hitam lalu menghantam wajah pemain bidak putih di depannya)
PEMAIN CATUR
(Pemain catur bidak putih lalu membalas menghantam pemain catur bidak hitam dengan papan catur)
PEMAIN CATUR
(pemain catur bidak hitam lalu menghantam mata pemain bidak putih)
TEMAN PEMAIN CATUR 4
Heh! Koe ngopo? Surup-surup dolanan catur dewean, ketempelan setan malah kapok! Kono nek masjid! Wes arep magrib iki
PEMAIN CATUR
Hahahahah iyo bro (sambil ketawa cengengesan)
CUT TO THE END TITLE

skenario film pendek, anak bandel









Anak Bandel


Written by :
Triztan Famous

Directed by :
Triztan Famous

Produce by :
Karang Taruna AMUNISI



CAST
Bapak : pria 50 tahunan, memakai kaos singlet dan sarung
Ibu : wanita 45 tahunan, memakai roll rambut dan daster
Anak 1 : laki-laki 17 tahunan
Anak 2 : wanita 15 tahunan
Anak 3 : laki-laki 13 tahunan

Genre : Short Comedy

SKRIP
INT. Ruang Keluarga
Seorang bapak sedang bersantai di kursi rotan. Dia mengipasi wajahnya dengan majalah bekas untuk menahan hawa panas pada siang itu. Di dekatnya, si anak bungsu yang paling nakal sedang asik bermain tablet. Anak kedua sedang sibuk membaca buku dan anak ketiga tertidur pulas di depan TV. Sedangkan sang Ibu sedang sibuk menonton acara di TV sambil melipat pakaian.
BAPAK
Le, tulung tukokno wedang adem seng maknyess nek warung
ANAK
Nek gone Lek Sumi, Mbak Nur, Mbak Patim opo Mas Pareng Pak?
 BAPAK
Mas Pareng.
ANAK
(Sambil meneruskan utak-atik tabletnya)
Siap, Pak!. Wedange Fanta, Coca-Cola opo Sprite Pak?
BAPAK
Coca-Cola
wae Le.
ANAK
Kaleng
an opo botolan Pak?
BAPAK
Botol
an.
ANAK
Botol
e seng gede opo seng cilik Pak?
BAPAK
(Mulai jengkel)
Hehhhh! Ngenyelmen tho koe dadi cah cilik! Karek mangkat nek warung we kakean polah! Ra sido wedang adem! Tukokno es jeruk wae kono nek kulon deso!
ANAK
Jeruk keprok, jeruk nipis opo jeruk mbali Pak?
BAPAK
Jeruk nipis! (Sambil mengeleng-gelengkan kepalanya)
IBU
Aku sisan Le, bungkuske es teh!
ANAK
Teh tawar, teh Tarik opo teh ijo bu?
IBU
Teh tawar! (Geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya)
ANAK 2
Buk, wedang putihe nek mburi entek!
IBU
Yo wes Le, Sisan tukokno wedang putih!
ANAK
(Masih tidak menoleh
sama sekali) wedang putihe seng Aqua, Ades, opo le mineral?
BAPAK
(Mengambil napas panjang) AQUA!!!
ANAK
Aqua
seng botole cilik, tanggung opo seng galonan Pak?
BAPAK
Sapu!
Sapune endi Bu? Njaluk di ajar Gowa sapu bocah iki! Dasar bocah ra genah!
IBU
Sapune igek dijileh Mbokdhe Sumi Pak, ge nyapu latar! (sibuk melipati pakaian)
BAPAK
Wo... Wong kok ra modal! Sapu we golek silehan!
ANAK
Ng… sapu
seng di sileh sapu ijuk opo sapu lidi, Pak?
BAPAK
OALAH! (Mengambil sandal dan melemparnya ke si anak, wajahnya sudah merah menahan dongkol).
DASAR WEDUS!!!
ANAK
(Menghindari lemparan sandal, geser tempat duduk, tapi terus main tablet)
Et... ora keno (Tertawa cegengesan) weduse wedus Jowo opo wedus gimbal Pak?
BAPAK
Woooo,
LHA SETAAAAN!
ANAK
(Kali ini si anak menoleh dan menatap Bapaknya dengan wajah sedih) Anak
dewe kok di darani setan... tego eram tho Pak? (Hampir menangis)
BAPAK
(Nada suaranya merendah
, merasa bersalah) Lha kelakuanmu kui pancen koyo setan kok! Makane dadi anak ki ojo njawab perintahe wong tuo terus!
ANAK
Iyo Pak (dengan raut wajah bersalah) Tapi…. setanne pocongan opo gendruwo Pak? (Lalu si anak kembali mainan tablet)
BAPAK
ORA GAGGAS!!! MINGGATO WAE KONO!
ANAK
(Pura-pura berfikir berat) ehm... Minggate saiki opo sesok Pak?
BAPAK
(Menelan ludah, mencoba mengatur napasnya)
Bu, Piye nak bocah iki tak pateni wae? Awak dewe igek due anak loro. Mati siji ora enek rugine. Opo meneh bocah ngengkel koyo ngene?
IBU
(Sibuk menonton TV sambil melipat pakaian) Karepmu pak, ora tak gagas!
ANAK
Terus,
matenine Gowa ladeng, pecok opo Gowo pistol Pak?
BAPAK
PISTOL! LANGSUNG TEMBAK… JEDOR!! (sambil berdiri dari
tempat duduknya, menatap anak bungsunya dengan tatapan penuh amarah)
ANAK
Seng di tembak ndhase opo wetenge Pak?
BAPAK
(Terdiam. Lalu memegangi dada kirinya.
Mengelusnya pelan-pelan. Jantungnya kumat.)
IBU
(Pergi meninggalkan ruang keluarga dengan tatapan malas, menyingkirkan baju-baju yang sudah selesai di lipat)
BAPAK
Bu!
IBU
Opo Pak?
BAPAK
Tulung jipukno obat!
IBU
Obat mumet, obat watuk opo obat panu?
BAPAK
(Geleng-geleng kepala, pusing memikirkan istri dan anaknya)
CUT TO END TITLE