Showing posts with label Review Film. Show all posts

Review: La La Land



Review: La La Land

Adalah Damien Chazelle yang membawa awal tahun 2017 menjadi begitu semangat, dan penuh euforia. Chazelle adalah sutradara di balik Whiplash yang penuh pesona itu, bahkan pada saat saya kemarin menontonnya, sihir itu masih ada, benar-benar film yang menakjubkan. Jika Whiplash menceritakan tentang penggebuk drum dengan guru super galak, maka La La Land ada di koridor yang berbeda walau tetap memakai instrument jazz sebagai bahan cerita. La La Land meceritakan tentang jatuh bangunnya dua orang pemimpi dalam mewujudkan mimpinya, hal yang menjadi begitu personal buat saya, karena saya juga golongan manusia pemimpi, maka film ini langsung begitu saja klop di hati dan fikiran saya.
Film musikal adalah salah satu genre yang amat sangat saya tonton karena tak jauh-jauh dari hal klise dan membuat jidat saya berkerut sebal. Tapi La La Land pengecualian karena orang dibaliknya punya pesona dan telah membuat saya tertawan. Dan jika saya sudah tertawan, mau bikin film apa saja si sutradara, saya akan nonton di hari pertama dengan ekspektasi tinggi, seperti karya-karyanya Christopher Nolan yang selalu saya buru dan nantikan.
La La Land mengusung semangat dan set yang lebih besar daripada film sebelumnya dengan track-track musik yang mempesona dan menggugah perasaan, tapi yang paling penting dari itu semua adalah magis yang dimiliki Chazelle. Magis pulalah yang membuat setiap pijakan kaki, dialog, alunan melodi dan lirik memiliki jiwa. Sungguh pengalaman menonton yang mempesona.
Berawal dari macet di jalan bebas hambatan, Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) bertemu untuk pertama kalinya. Sebastian adalah musisi jazz yang kelimpungan mencari pemasukan tambahan karena idealismenya, dan Mia adalah seorang barista yang terus menerus mencoba audisi untuk mewujudkan mimpinya menjadi artis. Di sebuah pesta mereka bertemu setelah sekian lama tak menjalin komunikasi dan menjalani kehidupannya sendiri-sendiri. Di pesta itu, kedua sejoli itu menyadari satu hal yang dapat menyatukan mereka berdua, passion. Asmara merekah, kemesraan terumbar, hubungan hati semakin merekat, lalu tibalah ujian ketika mimpi mereka berbenturan.
Jika hanya membaca sinopsis semata, ini akan nampak seperti kisah roman picisan semata, tapi cobalah menonton di layar raksasa dan kalian semua pasti merasakan magisnya yang begitu mencengkram jiwa-jiwa pemimpi ulung. Saya tahu kalau review ini sedikit berlebihan, tapi ini beneran! Film ini membuat hati hangat setelah menontonnya. Adalah musik yang dapat menggantikan serentetan kata yang tak bisa menggambarkan maksud yang dituju oleh sang pembuat film, dan film ini begitu cerdas menempatkan beragam musik yang begitu menghentak dengan lirik-liriknya yang punya pesona masing-masing.
Ketika film bermula, kita akan dihadapkan oleh segerombolan anak muda yang menari dan bernyanyi bersama di jalanan tol dengan kompak yang membuat kita terpompa semangat untuk mendalami filmnya, pembuka yang mempesona. Romantisme juga begitu wah di film ini dengan digambarkan melalui banyak adegan yang membuat kita baper, dari menari dijalanan, ciuman di kereta, menari di panetarium. Tapi, yang paling berjasa membuat film ini begitu mempesona adalah Emma Stone dan Ryan Gosling yang mampu menerjemahkan skenario dengan begitu dahsyat dari ekspresi, gestur, emosi hingga sorot mata yang mampu begitu banyak berbicara saat mulut tak berucap.
Karisma kuat sepasang sejoli inilah yang menjadi penggerak dahsyat film ini dari awal hingga akhir dan membuat kita lupa akan waktu. Saya terhenyut film ini dengan teramat sangat, dan saya berbahagia akan hal itu. Hingga akhirnya ditutup oleh ending yang begitu realistis. Dan membuat saya mengandai-andai banyak hal.
Saat saya menonton untuk kedua kalinya, saya kembali takjub karena mulai memperhatikan hal-hal kecil. Dari para pemeran pembantu yang bernyanyi dan berakting dengan baik, penghitungan gerakan, perpindahan dialog ke musik yang begitu lembut, tata artistik, pergerakan kamera dan semua hal yang membuat film ini begitu padu dan pas. Sama sekali tidak berlebihan. Apalagi topik yang dibicarakan oleh film ini begitu realistis, tentang mimpi dan cinta.
Saya juga senang bagaimana film ini menggambarkan dengan tepat saat lagi seneng-senengnya jadian, galau, semakin dekat dengan cita-cita, pas lagi suka sama seseorang, film ini dengan tepat menerjemahkan itu semua dengan elegan. Bahkan, gara-gara film ini, saya pas di parkiran mall ingin nari-nari sendiri saking girangnya hati saya dibuat oleh magisnya tangan Damien Chazelle. Sungguh mempesona.
Skor: 4,5/5

15 FILM TERBAIK TAHUN 2016 VERSI TRIZTAN FAMOUS


15 FILM TERBAIK TAHUN 2016 VERSI TRIZTAN FAMOUS


Tahun 2016 menyajikan pengalaman menonton yang indah bagi saya, terlebih dari sinema dalam negeri, tapi dari luar negeri juga ada banyak film yang saya saksikan, hingga saya kesulitan untuk menggolongkannya hingga 15 besar. Ada yang melebihi harapan, tapi banyak yang mengecewakan untuk dibahas. Langsung saja, ini daftar tahunan saya untuk tahun 2016;

#15. ELLE
Dibuka dengan adegan pemerkosaan wanita tua oleh sosok lelaki bertopeng hitam lalu mengalun begitu sepi dan disturbing dengan studi karakter yang wow, mengupas satu persatu lapisan kisah dengan begitu pelan tapi membuat kita tak bisa memalingkan mata karena akting Isablle Huppert yang benderan dan begitu dominan. Apalagi saat-saat masalalu Elle mulai terkuak, itu adalah saat-saat saya jatuh cinta dengan film ini dan menontonnya secara berulang.

#14. TONY ERDMANN
Saya terbahak, jengkel, gregetan, sebal saat menonton film ini. Kisah hubungan ayah-anak yang begitu menarik walau dengan durasi begitu panjang, film ini berhasil menyajikan komedi dengan begitu pintar dan membekas. Sulit untuk tidak terpikat dengan film ini. Tonton ulang film ini dan saya jamin kalian akan terbuai lagi dan lagi oleh kisahnya yang melantun dengan baik.

#13. SWISS ARMY MAN
Film ini aneh, sinting nggak jelas, tapi nagih buat ditonton ulang. Persahabatan nggak jelas tapi membuat hati hangat, sinting tapi mempesona, penuh komedi, romansa hingga haru di akhir. Saya tak pernah melihat Daniel Radcliffe sekeren ini sebelumnya.

#12. CAPTAIN FANTASTIC
Tentang keluarga hippie yang tinggal di hutan karena menolak semua hal berbau konsumenrisme dan kapitalisme yang menurut mereka memuakkan. Ada rasa hangat yang begitu melekat di dada saat kita berhasil mengikuti kisahnya dengan baik, film ini begitu indah, unik, dan dengan caranya sendiri menghadirkan komedi, kegilaan, kekonyolan dengan ending yang begitu mempesona. Ini bukan film tentang superhero, karena namanya banyak yang mengira jika film ini seperti itu, tapi film ini jauh lebih baik dari film superhero tahun ini, dijamin!

#11. ZOOTOPIA
Salah satu film yang sering saya tonton ulang karena keajaiban yang ada, untuk pertama kalinya saya merasa Disney berdiri sejajar dengan Pixar karena film ini. Sarat pesan, tapi begitu halus, menyentuh dengan karakter-karakter yang mudah disukai, gemesin. Salah satu film animasi terbaik tahun ini.

#10. KAPOOR AND SONS SINCE 1921
Sejak awal film ini menunjukkan jika film ini mempunyai pesona, dengan jalan cerita yang mengalun santai dan membuat hati hangat hingga akhirnya kita dibenturkan oleh klimaks yang begitu menggelegar. Ini adalah film yang paling sering saya tonton ulang karena magis yang masih bisa saya rasakan, tawa, haru, lucu dan hangat untuk ditonton bersama keluarga.

#9. THE HANDMAIDEN | PARK CHAN-WOOK
Saya gelagapan menonton film terbaru Park chan-wook ini, erotis, brilian, seksi, pintar, berani bermain di area tabu, penuh daya tipu dan intrik dengan intensitas terjaga dari awal hingga akhir. The Handmaiden didukung oleh castnya yang bernyali tinggi untuk beradegan telanjang ria dan erotis penuh hasrat dengan gila-gilaan. Bukan film terbaiknya memang, tapi tetap salah satu film terbaik tahun ini.

#8. SULLY
Film ini sepi dari gegap gempita peristiwa besar. tapi film ini berjalan begitu elegan menyelami psikologis tokoh Sully. Drama biasa tapi tampak begitu mempesona setelah ditonton berulang. Adagen detail pendaratan dan penyelamatan itu keren sekali.

#7. THE RED TURTLE
Film ini sepi, pelan dan sunyi. Bukan untuk penonton kecil, tapi film ini begitu dewasa yang membahas dengan baik relasi manusia dengan alam. Sesak dengan suara-suara alami yang menyejukkan telinga, kita ditempatkan sebagai pengamat dan kemudian merenungi segala momen dengan emosi membebat dada.

#6. FINDING DORY
Tidak mudah memang untuk mengulang rasa saat menonton Finding Nemo belasan tahun silam, tapi Finding Dory begitu mempesona dengan petualangan dan karakter-karakter yang mudah diingat, dengan kelucuan setara dengn pendahulunya hingga akhirnya haru dan tepuk tangan karena adegan klimaksnya.

#5. DANGAL
Adalah hal wajib bagi saya untuk menonton film Amir Khan yang akhir-akhir ini semakin selektif memilih film dan selalu tampil di film-film penuh pesona dan super duper keren. Memang lama banget sih film ini, tapi film ini nggak pernah kehabisan amunisi untuk terus disajikan kepada penonton. Apalagi penataan adegan laganya yang wow banget. Gila!

#4. YOUR NAME
Sebelum menonton film ini, saya percaya jika piala Oscar untuk film animasi terbaik akan jatuh di Zootopia atau Finding Dory, tapi setelah menonton Your Name, persepsi saya berubah. Ini adalah film animasi terbaik tahun ini. Penuh pesona, detail, cerita cinta yang menakjubkan dan ost yang juara. Menggabungkan beragam genre dengan begitu mulus dan ajaib, premis menarik, tapi tunggu film ini hingga klimaks yang mampu memporak porandakan hati hingga sesegukan. Sialan.

#3. ARRIVAL
Alien tak pernah hadir sedahsyat ini, sepi, jauh dari hingar bingar, tapi film ini intens, humanis dan penuh pesan spiritual dalam kehidupan. Film yang akan sulit dilupakan, membekas dengan begitu hebat di dalam kepala. Dahsyat.

#2. LA LA LAND
Film ini magis, langsung menghipnotis sejak pertama. Surat cinta yang manis, pahit tentang mimpi, idealisme, musik hingga hidup yang begitu realistis. Film ini penting, benar-benar digosok dari segala segi hingga menjadi karya yang begitu waw sekali. Sederhana, tapi mempesona. Begitu personal untuk orang-orang pencari mimpi seperti saya.

#1. MOONLIGHT
Film ini juga begitu personal untuk saya, sederhana, tapi begitu merasuk ke dalam jiwa lalu ditutup dengan haru biru hingga membuat dada sesak dan tertinggal lama di hati, batin dan fikiran. Benar-benar film yang teramat dahsyat tahun ini. Ayo, silahkan rasakan sendiri.

Review : Istirahatlah Kata-Kata



Review : Istirahatlah Kata-Kata

Saya mengenal Wiji Thukul karena doktrin seorang mentor dalam banyak hal, dia memujanya seperti memuja Pramudya Ananta Toer, tapi saya merasa dia lebih menggilai Thukul daripada Pram. Film ini saya niatkan untuk membuka lembaran manis saya menonton film Indonesia di tahun ini sebelum saya dijebak teman-teman muda dewasa yang masih sering kumat alaynya untuk menonton drama paling nggak penting di awal tahun, Promise. FTV yang di pindah ke bioskop, bahkan saya melihat banyak FTV lebih bagus daripada film Promise yang hanya bisa nikmati setting luar negerinya saja, kembali lagi ke Istirahatlah Kata-Kata.
Istirahatlah Kata-Kata mengupas tentang Wiji Thukul yang terkenal menyuarakan keadilan pada rezim Orde Baru, dia dituduh bertangung jawab dibalik pengerahan massa seperti beberapa aktifis lainnya hingga dia harus meninggalkan istri dan anaknya di Solo dan bersembunyi di Pontianak selama kurang lebih delapan bulan dan kini tak diketahui keberadaannya. Selama di Pontianak, secara berkala dia harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari intel dan aparat. Di Solo, istri dan anak-anaknya bahkan di interogasi untuk memperoleh keberadaannya. Film ini kebanyakan sepi, mencekam penonton degan rasa tak nyaman karena kesepian itu sendiri. Sepi yang membantu kita untuk menyelami bagaimana situasi Thukul saat sendiri, bagaimana paranoidnya dia jika disergap diam-diam yang membuat penonton semakin tak nyaman.
Adalah akting brilian Gunawan Maryanto yang fasih menerjemahkan gerak-gerik, ekspresi wajah, dan laku Thukul dengan begitu mempesona, dan jangan lupa saat dia mengalunkan puisi-puisinya yang membuat hati kita tersayat-sayat. Bagaimana rindunya dia untuk bertemu Sipon yang dimainkan begitu luwes oleh Marissa Anita dan peran-peran pendukung yang pas dan tak mubaazir. Hingga akhirnya kita akan dihantam oleh emosi besar saat film ini berakhir.
Saya yakin para aktifis di Indonesia tahu betul siapa Wiji Thukul seperti mereka tahu siapa Pramudya itu sendiri, tapi film ini penting untuk generasi muda seperti saya untuk tetap mengingat bagaimana dia berjuang, melawan dengan kata-kata hingga akhirnya lenyap entah dimana. Dan meninggalkan kata-kata yang dipaksa untuk beristirahat.
Film ini seindah puisi, tanpa musikalitas berlebihan tapi pas dan kebanyakan menghadirkan sunyi. Begitu pula dengan jalan ceritanya yang lamban, dan penuh dengan adegan one take yang menakjubkan, luar biasa dan cantik sekali. Belum lagi dengan deretan dialog natural dari para pemerannya, puisi-puisi yang dinarasikan dengan menyayat hati, duh, beneran film juara, film ini benar-benar penghormatan bagi Wiji Thukul. Mengingatkan saya akan film-film bangsat Indonesia tahun lalu, Atirah, A copy of My Mine dan Surat Dari Praha, film dengan kualitas diatas rata-rata tapi mendapat jatah layar di bawah rata-rata film-film sok baper yang nggak berguna.
Memang, tipikal film seperti ini bukan untuk dikonsumsi banyak orang karena mengalun lambat, sunyi penuh bahasa gambar absurd tapi punya maksut tertentu dan berhasil menggambarkan suasana pengasingan Thukul dengan kenunyian dan paranoid intel dan aparat keamanan yang mencari dirinya. Benar-benar film super yang akhirnya mampu membawa mood saya kembali cerah untuk menonton film-film Indonesia lagi. Film ini penting, berdialog natural, berakting juara, dan sangat puitis. Jauh dari glorifikasi dan sangat membumi. Indah.
Ayo cepat ke bioskop, sebelum ini turun dari layar. Biasanya film-film seperti ini tak akan sampai dua minggu karena sepi peminat. Andai, film-film seperti ini mendapatkan jatah layar lebih banyak di bioskop J



Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai. Puisi singkat tersebut membuat Thomas dan Martin, kedua sahabat Wiji Thukul, spontan tertawa. Saya juga ikut tergelitik tanpa menyadari makna dahsyat yang terkandung dalam puisi tersebut. Tampak seperti lelucon, tetapi kemudian olahan kata ciptaan si penyair kerempeng yang sedang melarikan diri dari kejaran rezim bangsat tersebut, lambat laun berhasil menghantui saya sewaktu sedang asyik-asyiknya buang hajat. Lebih menghantui ketimbang adegan kepala nongol dari toiletdi film Telaga Angker (1984), mimpi buruk tersebut bikin saya tidak berani berak malam-malam sewaktu kecil. Orang yang merdeka itu bisa berak kapanpun dia mau, tanpa harus terpenjarakan oleh rasa takut. Orang merdeka itu beraknya tidak perlu sembunyi-sembunyi, karena takut digerebek sama aparat. Istirahatlah Kata-Kata itu menyadarkan arti bebas dan merdeka, meskipun Yosep Anggi Noen menjelaskan hanya bermodal adegan Wiji Thukul jongkok berak sambil cengar-cengir berbisik “bau tai” kepada Sipon. Bahasa visual Anggi dan kekuatan kata-kata Wiji Thukul kompakan menciptakan kedahsyatan dalam Istirahatlah Kata-Kata.
Sebait kisah pelarian Wiji Thukul sampai ke Pontianak memang disampaikan tak banyak bicara, tapi selama 90-an menit, dengan penampakan yang sederhana itu, Anggi danIstirahatlah Kata-Kata-nya mampu membuat saya mengerti beraneka ragam rasa yang terperangkap dalam raut muka seorang Wiji Thukul. Rasa yang nantinya akan terbebas kala Wiji Thukul melampiaskannya di atas secarik kertas kucel. Istirahatlah Kata-Katamenyiulkan kegetiran yang tersembunyi di antara kesunyian. Menyuarakan kepedihan yang terbungkam dalam kebisuan. Bisikkan kepiluan yang tergeletak tertutup oleh bayang-bayang malam. Istirahatlah Kata-Kata pun meneriakkan ketidakadilan yang semakin mencekik kala listrik sedang padam. Namun nyanyian perlawanan tidak akan pernah bisa dipadamkan, masih ada terang cahaya lilin hasil beli di warung. Istirahatlah Kata-Kataadalah sebuah peringatan, mengingatkan lagi bahwa dulu negeri ini pernah punya masa dimana orang bisa terenggut kemerdekaannya untuk berak dengan tenang, hanya karena dia membuat puisi jujur tentang rezim yang zalim. Rezim yang takut dengan laki-laki ceking yang berani berkata-kata soal kebenaran.
Dalam Istirahatlah Kata-Kata, kita tidak sekedar menonton, tapi diajak berdialog, mengobrol, layaknya adegan Wiji Thukul bercengkrama dengan dua sahabatnya di pinggiran sungai Kapuas. Blak-blakan bercerita, tidak melulu harus serius tapi adakalanya dibawa duduk santai dengan seteguk guyon dan cemilan humor, agar kita bisa sedikit nyengir memperlihatkan gigi-gigi yang kuning. Obrolan yang tak selalu berkomunikasi lewat kata, meski begitu Anggi mampu menyampaikan apa yang sedang dirasakan oleh Wiji Thukul, bukan hanya tentang ketakutan bakalan ditangkap, tapi juga soal kerinduan dengan Sipon. Istirahatlah Kata-Kata tak mau kalah dengan Habibie & Ainun, maka Anggi turut juga mencelupkan kisah asmara sepasang suami istri yang terpaksa terpisah jarak. Cinta-cintaan yang tidak pakai adegan hiperbolik untuk mengungkapkan rasa sayang, sesederhana membelikan istrinya sebuah celana sebagai oleh-oleh, bagian manisnya adalah Wiji tidak lupa untuk mencucinya terlebih dahulu. Istirahatlah Kata-Kata membuat kita tak saja dekat dengan sosok Wiji Thukul, sisi emosional kita pun “dipaksa” untuk melekat dengan hubungan antara Wiji dan istrinya, Sipon.
Wiji Thukul mengambilkan segelas air untuk menenangkan Sipon, dia lalu pergi, dalam hati saya berharap Wiji kembali dari dapur membawa kacang goreng, lalu film berakhir bahagia. Detik demi detik berlalu, tapi batang hidung peseknya tak kunjung muncul, barangkali Wiji sedang berak, saya masih berharap dia muncul. Setelah Sipon menyudahi tangisnya, dia berdiri berlanjut dengan menyapu, layar kemudian gelap. Ah! tai benar Anggi dengan segala metafora bangsatnya. Adegan pamungkas di Istirahatlah Kata-Katatersebut mungkin akan berbeda efek serta rasanya, apabila Anggi tidak berusaha membuat kita lengket dengan Wiji Thukul dan Sipon, yang dilakonkan Gunawan Maryanto dan Marissa Anita dengan penuh penjiwaan, performa dengan totalitas yang menggetarkan. Istirahatlah Kata-Kata benar-benar mengesankan bukan sekedar karena adegan penutup yang berhasil menghantam dan menghancurkan, keseluruhan durasinya dibuat penting, semua adegan menyatu untuk membuat film ini menjadi tontonan yang istimewa. Karya yang memberi penghormatan sekaligus penolakan untuk melupakan. Karya yang menyadarkan sekaligus mengingatkan.

Review: XXX Return Of Xander Cage



Review: XXX Return Of Xander Cage

Pertama, ini film Vin Diesel jadi siap-siap goblok-goblokan aja. Kedua, film ini duplikasi Fast and Furious denga ala-ala James Bond yang gagal mengikuti keduanya. Ketiga, titipkan otak anda di tempat penitipan barang sebelum menonton film ini. Jika anda mengharap film dengan skenario kelas Oscar, dadah ajalah. Ini cuma buat aksi sok-sokan para pemainnya doang kok.
Selama di bioskop, saya lebih senang makan pop corn dan minum soda daripada menonton film ini. Jangan harap bakal ada penjelasan penuh kelokan cerita bagaimana Xander Cage memalsukan kematiannya. Goblok memang, tapi ya mau gimana lagi? Selain serial Fast and Furious, kebanyakan film Vin Diesel kan kelas B dan tolol-tololan doang. Jadi jangan harap lebih, oke? Lanjut.
Tapi, saat saya memasrahkan diri untuk disuguhi apapun di layar, tanpa mempedulikan cerita, film ini dimata saya tetap saya, tolol, bodoh, tak masuk akal, lebay, nggak serius. Buat hiduran pun film ini tetep, apaan sih lu!
Film ini bercerita tentang CIA yang kelabakan karena Xiang (Donnie Yen) fan anak buahnya mencuri Pandora Box yang mampu megontrol pergerakan satelit. Karena suatu alasan, Xander bersedia kembali dan merekrut tiga anak buah yang sama sekali nggak ngaruh buat cerita dan dibuangpun nggak ada masalah. Ingat, ini film kelas B yang cuma buat seru-seruan aja adegannya.
Film ini menderita dipembagian porsi peran pendukungnya untuk bersinar dengan peran dan kelebihan nggak penting mereka selain kegiatan marketing, Donnie Yen dan Tony Jaa digunakan untuk mengaet penonton Asia, Kris untuk penggemar K-pop, Deepika Padukone untuk penonton India. Dan jujru, penyelamat film ini adalah Deepika yang selalu mampu mencuri perhatian saat tampil, bukan Vin yang begitu nggak jelas.
Film ini menderita di banyak hal, dari naskah, karakterisasi dangkal, kelakuan tokoh tanpa motifasi, kekacauan alur, humor konyol, CGI buruk sekali, dan menayangkan aksi lebay banget di luar nalar. Plis, jangan anggep film ini serius, ini cuma jadi sekedar serial sampingan Vin Diesel sebelum Fast and Furious selesai di film kesepuluh.
Silahkan bersenang-senang dengan film ini jika anda sudah menitipkan otak di tempat penitipan barang, dan jangan lupa beli pocorn dan soda jika anda sudah terlalu malas menonton layar perak.
Skor : 1/5

Review : Promise



Review : Promise

Setelah ILY from 38.000 ft yang rada lumayan, saya kira Screenplay Films seengaknya akan naikin kualitas kisahnya, dan akan memberi toleransi untuk orang-orang diluar target pernontonnya sehingga dapat memperluas pasaran mereka. Dan enggak sok eksklusif sama target penonton alay yang murah banget bapernya, plis deh, seklise-klisenya kisah hidup yang diinginkan para remaja putri super alay juga enggak gini-gini juga.
Emang nggak ada masalah yang jauh lebih besar daripada cerita cinta-cintaan kaya gini ya? Ya kalau emang di umur-umur segitu urusan cinta lebih gawat daripada apapun, setidaklah buatlebih niatlah, lihatlah AADC atau Twilight yang ninggalin kesan walau tema sama pengisahannya cenderung standar. Entah apa yang terjadi dengan Promise, tapi cerita yang simpel tapi diobrak-abrik nggak jelas agar terkesan rumit dan pintar yang malahan mencederai sendiri filmnya.
Promise bermula dengan adegan konyol, Rahman (Dimas Anggara), seorang anak pengurus pesantren di Jogja disuruh menikah oleh orang tuanya sama seseorang yang dijodohkan sama dia gara-gara dia ketahuan nyimpen film bokep milik temennya yang bandel, Aji (Boy William). Goblok nggak? Oke kalau masih bisa nerima, lanjut, tiba-tiba setting berpindah dua tahun kemudian, di Milan, Italia, saat Rahman kuliah Grafis disana. Selama kuliah, Rahman didekati Moza, gadis Indonesia, tapi hati Rahman tertutup dari cinta yang baru. Saya tak akan menjabarkan kisah dari film ini lagi karena hal itu akan menggangu sensasi menonton, Promise terlalu berjuang sok beda dan memberikan kejutan yang nggak mengejutkan untuk pangsa penontonnya biar nggak bosan sama materi mereka yang itu-itu aja. Dasar.
Sebel nggak sih nonton film yang isinya cinta segi banyak, yang nggak tahu perasaan satu sama lain, sok menjaga perasaan, atau nggak mau menyakiti dengan bilang apa adanya, ya cuma muter-muter disitu doang sih. Tapi tetep ya, endingnya ehm, kaya gitu melulu, usaha banget buat baper tapi ya gitu deh, bapernya cuma ngefek buat kalangan alay doang. Kisah yang acak membuat film ini jadi kacau, terlebih emosi yang harusnya banyak kata kepada penonton jadinya nggak nyampe gara-gara editing nggak tentu maksudnya apa ini. Saya bisa nikmatin film ini cuma gara-gara pemandangan film aja, soalnya keganggu banyak hal di film ini. Ngehek bangek nggak sih pas tiba-tiba ada quote IG muncul mendadak dikisah 18-20 tahun, yang alay, nggak sesuai banget deh sama umurnya. Terus ada yang digambarin sahabat, tapi nggak ngeh sahabatnya gimana-gimana, alay, terus aktingnya kaya masih kelas FTV banget, cuma lokasinya lebih wah aja gitu.
Dan ini yang paling penting, PROMISEnya itu dimana?

Review : Cek Toko Sebelah



Review : Cek Toko Sebelah

Ernest menjadi sutradara yang saya tunggu-tunggu karya selanjutnya karena kepekaannya dalam banyak hal dan setelah menonton filmnya, kita mendapat sesuatu, bukan hanya hahaha hihihi tapi kosong seperti temannya itu.  Dari daftar film Indonesia yang tayang di bulan Desember, ada Headshot, The Profesional dan Cek Toko Sebelah yang menarik perhatian saya walau saya juga keseret nonton Hangout karena seorang kawan, dan buat yang nanya kenapa saya nggak pernah ngeriview film-film Islami dengan banyak tokoh berkerudung, saya bukan segmen penonton film-film itu dan sedikit benci sama film-film kaya gitu, Ok? Lanjut reviewnya.
Tahun ini Ernest merilis Cek Toko Sebelah yang naskahnya ia tulis bersama sang istri. CTS bercerita tentang dua bersaudara dengan sifat bertolak belakang, Yohan (Dion Wiyoko) seorang fotografer lepas dan Erwin (Ernest) pekerja kantoran yang sukses di usia muda. Pembertontakan Yohan dan keputusannya untuk menikahi Ayu (Adinia Wirasti) membuat hubungan dengan ayahnya memburuk, bergulirlah kisah saat kesehatan sang ayah menurun dan ia ingin mewariskan toko yang selama ini dia kelola kepada Erwin karena dia masih belum bisa memaafkan kesalahan Yohan di masa lalu.
Sebagai komedi, CTS mampu berkerja dengan sangat baik, terlebih dengan premis simpel tapi sangat dekat dengan kehidupan kita yang membuat kita mudah untuk terhubung dengan guliran kisah yang disajikan. Kehadiran banyak komika memang banyak membantu lelucon di film ini bekerja (walau kadang terlalu lama dan bisa di pangkas), apa yang membuat salut dengan komedi di CTS adalah kecerdasan Ernest dalam mengeksekusi komedi dengan baik sehingga menghasilkan tawa yang membludak dan tak berkesudahan.
Saat menonton pertama kali, kita memang akan menikmati sensasi bahagia saat film ini berakhir, tapi saat saya menonton dua kali, barulah tabir film ini terbuka. Ketika lelucon hadir berlebihan sehingga menutupi drama yang sedang berkembang, terasa begitu menganggu karena kita tidak benar-benar diajak untuk merasakan emosi yang terpampang di dalam layar. Editing yang cepat juga sedikit mencederai hal tersebut, walau rapi tapi tetap menganggu. Belum sempet ternyuh, terus terbahak, mau tersentuh, eh udah ngakak lagi. Apa hal ini yang dikatakan banyak orang komedi dan drama yang seimbang? Menurut saya bukan.
Adalah ketidak seimbangan porsi drama dan komedilah yang menganggu CTS saat saya tonton ulang, saya tidak terkesan dengan akting Gisele yang kerasa lempeng dan nggak punya chemistry sama Ernest dan EGP aja sama beberapa karakter, Adinia Wirasti yang saya pikir akan tampil mempesona, ternyata hanya gitu aja, berkesan sih, tapi ya gitu deh pokoknya. Dan yang menjadi pencuri perhatian dan cukup menggugah hati adalah Dion Wiyoko yang mengalami peningkatan bermain peran dan sosok ayah yang di mainkan oleh A Fuk yang pernah main My Stupid Boss tahun ini. Mendingan nonton CTS daripada film komika sebelumnya yang banyak garingnya dan momen-momen jangkrik.
Kelebihan lain CTS adalah membuat saya sama-sama peduli dengan Erwin dan Yohan karena porsi mereka yang seimbang, entah siapa yang bakal nerusin toko, saya percaya aja sama mereka beruda. Kalau pada sadar, ada banyak lelucon tentang nama produk yang dijual di toko, CTS adalah film yang paling banyak saya terbahak selama nonton di bioskop (sorry pemecah rekor film Indonesia, masih banyak garingnya), ada sensasi yang sulit di gambarkan pada saat pertama kali nonton film ini, andai aja karakternya semua otaknya rada gesek, pasti tambah konyol film ini, jadi total komedi kali ya kalau gitu?. Tapi diantara banyak komika yang bersliweran di film ini, kehadiran Asri Welaslah yang menjadi bom tawa berkepanjangan, bahkan saat di rumah pun saya masih terbahak saat teringat hal ini. Keren.
Overall saya terhibur banget sama film ini, walau ngak lebih bagus dari ngenest tahun lalu, tapi film ini bagus buat nutup perfileman Indonesia tahun 2016 yang terasa begitu membanggakan karena rekor saya nototn film indonesia juga pecah hehehe, saya jadi nggak terlalu sensi sama film-film Indonesia kalau pada serius di garap.

Skor : 4/5

Review Hangout



Review Hangout


Pertama, saya bukanlah segmen penonton yang selalu menonton film Raditya Dika, saya menonton film Dika pertama kali adalah Single hanya karena saya suka rumah produksi yang memproduksinya karena sarat kemewahan, niat produksi dan nggak pernah tangung-tangung dalam membuat sesuatu. Lalu sekarang di lemparlah Hangout ke pasaran, sebuah film yang mengawinkan thriller dengan komedi dengan premis sembilan tokoh publik di undang ke sebuah pulau kosong tak berpenghuni yang tanpa diduga berujung kematian mereka satu persatu. Saya menonton Hangout karena membuat perjanjian dengan teman saya, dia akan menemani saya menonton The Profesional jika saya mau menemaninya nonton Hangout, jadilah saya menonton film ini.
Kesembilan tokoh publik yang diundang ke sebuah pulau ini memulai sebuah cerita saat Mathias Muchus tewas akibat racun akibat makanan yang ia konsumsi ketika makan malam, panik melanda kedelapan figur publik tersisa. Hangout memang film Dika paling berbeda, tapi belum signifikan. Komedi memang relatif, dan saya memang bukan segmen penonton yang ditargetkan oleh tim promosinya, jadi sangat wajar jika film ini tak begitu wajar untuk mengugah saya untuk terhanyut bersamanya.
Saya lumayan suka bentuk sarkasme tentang pop cultu di film ini, tapi lelucon-lelucon lain tampak begitu bodoh dan jorok hingga hanya mampu membuat saya cengar-cengir nggak karuan, walaupun ada penonton yang terpingkal-pingkal sampai meneteskan air mata, tapi jelas itu bukan saya. Mungkin hanya Prili dan Surya Saputra saja yang tampil dengan karakter menarik di film ini, sisanya sama saja, tidak begitu mampu menimbulkan emosi untuk peduli, termasuk karakter Dika sendiri. Dari refrensi film dika yang saya tonton, walau hanya Single yang saya tonton di bioskop, sisanya melalui banyak media, Dika selalu memerankan karakter yang sama sekali tak menarik, padahal dia selalu yang jadi bintang utamanya, dan selalu kalah menarik dengan karakter-karakter lain di dalam filmnya.
Saya adalah pecinta film thriller dan sama sekali tak terhibur dengan film ini, walau komedi dan thriller tidak terlalu jomplang di dalam film ini, tapi sebenarnya film ini bermasalah di babak awal yang tak mampu mencengkram benak penonton untuk terus mengikuti guliran pengisahannya, lalu saat mulai nyaman dengan ritme penceritaan di babak kedua, babak ketigalah yang benar-benar kacau dalam film ini, berantakan tanpa motivasi yang jelas. Ini menjengkelkan, sumpah.
Seandainya Dika mau menggodok babak ketiga lebih lama agar tampil begitu prima, niscahya film ini bakal berhasil dalam coba-cobanya, tapi, ternyata tak begitu. Karena untuk film bergenre thriller, babak ketiga adalah babak penentuan, babak klimaks yang harus dihitung secara matang dan hati-hati, bukan terkesan amburadul dengan motifasi yang klise, tak menyakinkan dan meninggalkan pertanyaan dibenak penonton: udah? Cuma gitu doang? Yang akhirnya tak mampu memberikan sesuatu yang lebih.
Saya juga tak terlalu mampu untuk menikmati humor Dika yang semakin lama semakin jorok dan tak penting di film ini, joke tentang selangkangan? Toilet? Dan alin-lain? Ayolah Dika kamu jelas mampu lebih baik dari ini. Leluconmu nggak tepat sasaran. Saya paham usaha Dika agar tak stagnan dan diam dalam zona nyamannya, tapi usahanya masih terkesan setengah matang dan coba-coba, walaupun saya sudah mampu menebak siapa pelakunya dari awal tapi ada keinginan di dalam diri saya jika tebakan itu salah dan ternyata saya kecewa. Saya salah mengharap terlalu banyak. Film ini membuat saya mendung sebelum menonton film selanjutnya.
Kamu kurang berusaha Dika, lain kali tolong berusaha lebih matang ya, jangan terkesan kejar setoran harus nayangin berapa film pertahun hehehe, saya tunggu sekuel film Single.

Skor: 2/5

Review: Your Nam (Kimi No Na Wa)



Review: Your Nam (Kimi No Na Wa)


Jujur, saya jarang sekali bersentuhan animasi panjang ataupun serial anime selain dari studio Gibli yang menginspirasi tangan-tangan penuh keajaiban Pixar itu. Karena produk Pixar dan Gibli adalah harga mati yang harus saya nikmati setiap edar di layar perak. Dan jika saya ingat-ingat saya hanya menonton Doraemon, Shinchan dan One Piece saja karena terlebih dahulu populer di tv saat saya masih bocah dan kemudian berhasil menjerat saya sampai sekarang (saya masih ngikutin serial One Piece sampai sekarang lho).
Ini juga perkenalan pertama saya dengan karya Makoto Shinkai dengan studio Comix Wave yang di gadang-gadang akan menjadi penerus Gibli selanjutnya, lengkap dengan Makoto Shinkai yang juga dianggap akan menjadi Hayao Mizaki selanjutnya. Dari trailer yang dilempar ke pasaran memang kurang menjual, karena hanya berbekal premis simpel tentang body-Swap biasa, tapi saat saya mendapati fakta jika film ini menempati urutan pertama di tangga Box Office jepang selama 12 pekan (bahkan saat dilempar ke china, opening weekendnya menyamai Fantastic Beast yang di bekali modal produksi dan promosi super duper besar), saya mulai penasaran apa yang membuat film ini begitu digilai, apalagi banyak review yang mengatakan jika film ini begitu indah dan menyentuh. Jadilah saya melengang ke bioskop dengan ekspektasi yang membumbung tinggi karena rekor demi rekor yang dipecahkan, apalagi dengan balutan romansa-fantasi yang saya gemari.
Your Name (Kimi No Na Wa), bercerita tentang dua orang remaja yang terpisah jarak ratusan kilomenter namun disatukan dalam sebuah keajaiban dan fenomena komet langka. Adalah Mitsuha seorang siswi SMU dari desa kecil Itomori dan Taki dari Tokyo yang suatu hari terbangun dari tidurnya dengan tubuh tertukar. Mitshua menjadi Taki dan sebaliknya. Harap-harap cemas saat premis ini bermula, saya takut kecewa karena ekspektasi yang terlampau tinggi saya tetapkan di awal. Tapi saat melihat perkenalan karakter, kebiasaan mereka sehari-hari, lengkap dengan gambar yang begitu indah. Saya tak lagi mempedulikan harapan saya, mau mengecewakan atau tidak, itu tak lagi soal, karena saya sudah tertawan ke dalam cerita dan hanyut dalam kepasrahan.
Saya jatuh cinta dengan film ini, visualnya yang dahsyat, karakternya yang terasa dekat, leluconnya yang kocak, romansa yang begitu dahsyat, dan saat saya yang sedang senyum-senyum sendiri karena nyaman tiba-tiba sebuah twist menghampas dan membuat segalanya berbeda. Kesam kelam, depresif namun romatis semakin hebat, apalagi saat Taki mulai mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah romansa tentang keajaiban ruang waktupun dimulai dan ditutup dengan klimaks dan ending yang begitu menghentak, benar-benar sebuah mahakarya yang penuh pesona.
Setelah menonton ini, saya langsung berburu karya Makoto Shinkai, sekedar ingin tahu lebih banyak tapak sinemanya di dunia anime jepang. Bahkan setelah beberapa hari kemudian, saya ingin kembali ke bioskop semata-mata untuk merasakan sensasi yang sama, super duper dahsyat. Saya ingin kembali terbuai dengan visualisasinya yang indah, senja yang romantis, butiran salju, pemandangan kota dan desa terpencil, pegunungan yang indah, dan yang paling utama adalah komet yang menjadi penggerak cerita, sumpah itu dahsyat. Bahkan saat film selesai, saya harus duduk beberapa saat terlebih dahulu menetralisir beragam rasa yang muncul, dari tawa, sedih, trenyuh, tegang dan tangis yang silih berganti muncul. Benar-benar film yang berkesan.
Ada tiga film animasi di tahun ini yang benar-benar bisa membuat saya berkaca-kaca dan terbawa perasaan selama beberapa hari kemudian, di awal tahun, Zootopia sukses membuat saya jatuh cinta ulang dengan Disney, lalu Finding Dory yang begitu terasa personal untuk saya dan tahun ini ditutup oleh Your Name dengan begitu sempurna. Benar-benar animasi yang menghangatkan hati.
Ayo cepetan nonton Your Name, nggak bakal nyesel.

Review : Headshot


Review : Headshot

Jangan pernah berharap berlebihan saat menonton film, terutama untuk film Indonesia walaupun ada beberapa nama yang konsisten menjaga track record hasil karya mereka, seperti Angga Dwimas Sasongko, Joko Anwar atau Riri Riza. Tapi, dalam genre action martial arts, jujur The Raid dan Berandal terlampau tinggi untuk di lampaui.
Dunia perfileman di Indonesia memang sedang mengeliat dari tidur panjangnya, bertahap memang, tapi terlihat pasti dan membanggakan. Selain karena semakin banyaknya genre yang di tawarkan selain horor, drama, dan adaptasi yang terlampau menyesakkan, masih ada genre action yang memiliki masa depan cerah.
Apa yang dilakukan Gareth Evans dengan Merantau, lalu The Raid dan Berandal, membuat saya sangsi jika ada yang akan bisa melampauinya. Banyak yang ikut-ikutan membuat film sejenis yang akhirnya hadir selintas tanpa bisa memberikan kenangan di dalam otak. Lalu setitik harapan muncul saat Headshot muncul, sekilas dari trailernya, saya yakin jika film buatan Mo Brothers ini akan malesin di sisi drama tapi mempesona disisi aksinya (ada yang ngerasa gitu nggak?).
Dari premis memang seperti tak ada pembaruan, dari cerita apalagi, terlalu generik dan membosankan. Headshot menghadirkan cerita tentang sosok penjahat yang terdampar di sebuah pulau terpencil, lalu insaf setelah koma panjang. Penjahat insaf itu bernama Ismael (Iko Uwais), berusaha mengungkap masalalunya yang hilang, hal berikutnya yang terjadi adalah Ailin (Chelsea Islan), seorang dokter magang yang merawatnya selama 2 bulan kemudian di culik oleh sosok penjahat bengis bernama Lee setelah mendengar kabar tentang keberadaan Ismael yang begitu dikenalnya. Klise memang, tapi jika mau memberi pendalaman lebih untuk banyak karakter yang tampil begitu datar dan memberikan lebih banyak waktu untuk membenarkan naskah, niscahya film ini akan tampil lebih mengikat.
Bagi saya, Mo brother masuk ke dalam radar sutradara yang harus di tonton karyanya setelah menghadirkan Dara, Rumah Dara, lalu Killers. Saya adalah tipe penonton bejad dan bangsat yang gemar mandi darah dan menikmati betul adegan-adegan sadis di dalam sebuah film, dan saya pernah di puaskan dua kali lewat The Raid dan Berandal yang membuat saya merasa natal dan tahun baru tiba esok hari. Saya mencintai adegan memecah batok kepala, menyilet leher, mematahkan tulang belakang, jemari ataupun tungkai kaki. Saya juga gemar adegan menancapkan mata pisau ke anggota tubuh, menariknya hingga membuat kulit mengganga, dan menghaburkan isinya keluar. Guyur saya dengan segentong darah dan usus manusia, saya pasti akan berteriak kegirangan bukannya misuh-misuh penuh rasa jijik. Saya memang penggemar berat sinema psikopat berkualitas.
Ada kesenangan memang yang bisa saya nikmati di Headshot, apalagi adegan action di film ini memang di rancang oleh uwais team yang memang nggak perlu kita ragukan lagi kapasitasnya merancang aksi-aksi sinematik cantik yang memukau di depan kamera dalam soal menghancurkan tulang lawan mainnya. Tapi lagi-lagi, saya telah berharap terlalu tinggi saat masuk ke dalam bioskop yang akhirnya menyisakan sensasi menganjal saat film ini berakhir. Menyenangkan, tapi tidak memuaskan.
Tak ada yang perlu diragukan jika Mo brothers membuat film Triller banjir darah, tapi yang perlu di hawatirkan adalah kali ini mencoba genre yang berbeda, genre yang mau tak mau harus kita bandingkan dengan The raid yang berada di awang-awang. Bukan maksud membandingkan The Raid dan Headshot, tapi mau gimana lagi? Genrenya sama, alumninya juga pada main disini walau secara karakter berusaha diubah total, dan hasilnya? Mereka belum beruntung.
Tidak terasanya ikatan emosi saat saya menyaksikan film ini dan sosok Iko yang ditampilkan terlalu super setelah menghadapi berbagai pertempuran, membuat saya tidak terlalu respek dengan film ini. Banyak memang orang yang tak mempermasalahkan kualitas narasi dan pengembangan cerita, dan memang benar The Raid mempunyai masalah yang sama. Tapi The Raid berhasil memuaskan kita saat film berakhir dengan koreografi dan laga yang super duper memukau pada saat itu, bukannya meninggalkan sensasi nangung karena kurang puas.
Di sektor teknis, saya acungkan jempol untuk Headshot, terutama karena seni pergerakan kamera yang begitu dinamis dan mempesona yang tampil begitu juara. Headshot dianugrahi banyak karakter pendamping yang memiliki ciri khas dan potensi, sayang, semua itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Tapi yang membuat saya sebal adalah ketika saya berharap Julie Estelle dan Iko akan membuat saya gregetan saat mereka berantem, ternyata adegannya cuma segitu aja, malah yang paling lemah di film ini. Walau tidak semua bermain buruk, saya tetap bergidik ngeri saat melihat Sunny Pang muncul. Angker, sadis, begis, tapi karismatik. Saya benar-benar suka dengan karakternya.
Selanjutnya Mo Brothers akan menyuguhkan film action lagi dengan Joe Taslim sebagai pemain utama dengan judul The Night Come For Us dan yang paling saya tunggu adalah sekuel Rumah Dara yang banjir darah itu.
Overall, tentukan sikapmu sebelum menonton Headshot, kamu ingin menyaksikan dramanya atau aksinya? Jika drama, jangan berharap lebih, tapi jika aksi dan kamu penggemar berat The Raid, turunkan ekspektasimu. Tapi jika kamu nonton cuma mau disuguhi adegan brutal ciamik dan darah, maka, bersenang-senanglah.

skor : 2/5

Review : Fantastic Beast And Where to Find Them



Review : Fantastic Beast And Where to Find Them


Perluasan dunia Harry Potter di mulai dari buku suplement setebal 128 halaman berjudul Fantastic Beast and Where to Find Them, prolog dari sebuah saga ambisius yang terdiri dari lima bagian, dan pelengkap dunia sihir Harry Potter sebagai salah satu dunia fiksi terbesar yang akan kita ingat belasan tahun mendatang selain Star Wars, dan Midle earth yang menakjubkan dan penuh pesona itu.
Pada tahun 1926, Newt Scamander alumni Hogwart baru saja selesai dari perjalanan keliling dunia untuk menangkap dan mempelajari berbagai hewan magis. Sesampainya di New York, secara tidak sengaja beberapa hewan magis lepas dari kopernya. Di bantu seorang No-Maj bernama Jacob, Newt berkeliling kota New York tahun 1926 yang apik dan artistik untuk menangkap hewan-hewan magis dari dalam kopernya yang berbahaya untuk masyarakat umum dan berpotensi untuk membongkar komunitas sihir di kota itu. Tapi seiring berlalunya waktu yang ia tandaskan di New York, Newt sadar jika ada bahaya besar yang sedang mengintai dan menyeretnya dalam konspirasi besar.
Para fans Harry Potter, ayo kita bersorak bersama-sama, karena film Fantastic Beast ini adalah benar-benar film yang kita inginkan. Film ini adalah film yang sangat manjur untuk mengobati kerinduan dunia Harry Potter yang sudah tamat di layar perak tahun 2011 lalu. Malkum, saya adalah salah satu anak yang tumbuh bersama dengan dunia Harry Potter dan terjebak disana untuk waktu yang lama. Bahkan saya masih sering membaca ulang semua buku Harry Potter dan kerap kali hanyut dan jatuh cinta ulang dengan dunia itu.
Seperti judulnya, jualan utama film ini memang adalah hewan-hewan magis yang lucu, mempesona, keren, menakjubkan hingga mengerikan di dalam koper Newt yang nampak seperti kebun binatang. Janiusnya, hewan-hewan magis di film ini tak hanya untuk membuat penonton terkagum-kagum saja seperti di Avatar, tapi juga lengkap dengan karakter masing-masing yang membuat mahkluk-mahkluk ini semakin nyata. Setiap adegan penangkapan hewan-hewan magis jelas sekali menghibur, lucu, kocak, menegangkan, kadang juga menjengkelkan tapi membuat hati hangat dengan sensasi nostalgia.
Fantastic Beast juga dianugrahi, Quartet jajaran utama Newt-Jacob-Tina-Queenie sebagai penganti Trio Harry-Harmonie-Ron yang sama mempesonanya walaupun jauh di dalam hati saya merasa Trio Harry-Harmonie-Ron tak akan pernah terganti. Newt bukan satu-satunya bintang di film ini, masih ada Tina (Katherine Waterston), Credence (Ezra Miller) yang berakting sangat baik sebagai anak depresi yang disiksa, Queenie yang lucu, genit dan hobby membaca pikiran orang, Percival Graves(Collin Farrell) yang unik dan ambisius tapi yang benar-benar menjadi pencuri perhatian adalah Dan Fogler sebagai Jacob Kowalski yang membuat kita mudah simpati, terbahak, kasian, dan terbahak-bahak karenanya, mengingatkan kita dengan Ron Weasley.
Banyak kejutan manis yang membuat fans Harry Potter bergidik saat menonton Fantastic Beast, sebagaimana saya gregetan saat nama mantan kepala sekolah Hogwarts di sebutkan, atau nama salah satu keluarga besar pelahap maut yang super duper sadis, dan yang paling manis adalah penampilan singkat Jhonie Deep yang membuat saya tak sabar untuk menantikan kelanjutannya. Bahkan saya berharap agar setiap tahunnya muncul film Fantastic Beast dan sehingga tak harus menunggu selama dua tahun sekali karena menurut berita sekuelnya baru akan tayang di tahun 2018 dan 2020. Saya juga suka dengan banyak detail dunia sihir tahun 1926 di fantastic Beast, mulai dari struktur sosial, keadaan politik, sejarah dan lain-lain yang membuatmu kangen ingin menonton ulang seluruh film Harry Potter lagi.
Sayang, film ini dumulai dengan karakter terlalu banyak yang akhirnya membuat film ini sedikit terseret-seret. Terkesan sekali memang JK. Rowling terlalu terburu-buru untuk mengenalkan seluruh karakter di film ini, apalagi masih banyak karakter yang kurang digali terlalu dalam walaupun mempunyai potensi untuk bahan jualan di film selanjutnya. Dan juga saya merasa jika judul Film ini kurang pas, karena di prolog saga film ini tidak menceritakan dimana hewan-hewan itu bisa ditemukan seperti judulnya, melainkan sudah menangkap hewan-hewan itu di dalam koper dan melepas satu hewan di New York.
Overall, Fantastic Beast adalah film yang menghibur dan wajib ditonton, mau fans Harry Potter atau bukan, tak ada masalah karena film ini memiliki cerita original yang bisa kalian nikmati tanpa harus menonton seluruh film Harry Potter terlebih dahulu.
Skor: 3,5/4

Review: Doctor Strange


Review: Doctor Strange



Jujur saya bukan pengemar jagad Marvel Cinematic Universe atau lebih dikenal MCU karena hati saya sudah tertambat di DC dengan trilogy The Dark Knight yang begitu impresif  unggul dari banyak segi dan karena saya tumbuh bersama komik dan animasi Batman, Superman, Wonder Woman dan jatuh cinta habis-habisan dengan karakter Joker. Tapi sejak jagad sinematik digempur film-film superhero, saya mulai mengikuti banyak garis cerita, mulai dari MCU, DCEU, hingga X-Man yang amburadul dan tak membekas itu.
Tahun ini layar perak menghadirkan Deatpool yang menurut saya nggak sebagus pemberitaan banyak orang, lalu BvS yang membuat saya girang saat pertama kali nonton dan bosan saat nonon untuk kedua kali, lalu Civil War yang menurut saya lumayan tapi dengan villian kas Marvel yang membosankan, lalu yang saya tunggu-tunggu, Suicide Squad yang menurut saya unik setengah jam pertama dan satu setengah jam kemudian terselamatkan pesona Harley Queen, lalu Doctor Strange kini yang mempesona secara visual tetapi sangat mudah ditebak dan sama sekali tak klimaks.
Doctor Strange adalah kisah original superhero yang sangat berbau Iron Man sekali, yang menceritakan tentang dokter bedah ahli saraf yang kaya, jenius dan arogan tetapi karena sebuah kecelakaan mobil, ia tak bisa lagi menggunakan tangannya secara sempurna. Secuil informasilah yang akhirnya membawa dia ke nepal mencari kesembuhan dari sebuah tempat bernama Kamar-Taj, dimana ditempat itu tersimpan keajaiban yang sulit dijabarkan dengan kata-kata dan mengubah pola fikir Doctor Strange.
Di tempat itu akhirnya dia bertemu dengan sosok Ancient One yang melatih Stange dengan sedemikian rupa, lalu ada mantan murid yang memberontak dan menjadi tangan kanan sang musuh utama. Jujur, saya bosan dengan pola penceritaan seperti ini, ayolah Marvel, ini film ke 14 kalian dengan formula yang hampir sama semuanya. Saya bosan, oke? Saya butuh terobosan film-film superhero yang lain.
Secara visual memang kita akan diingatkan dengan film inception dimana di film ini berevolusi lagi dengan penuh magis saat kota terlipat-lipat, portal dimensi lain bisa terbuka sedemikian rupa dan ilmu bela diri yang dipelajari secara singkat. Visual sangat berperan penting disini dan juga yang paling bisa kamu nikmati karena hanya itu jualan utamanya.
Saya mengeluhkan adegan Strange dengan musuh utama yang menurut saya “Udah? Cuma gitu doang?” dan sama sekali tak klimaks atau alih-alih mengagumkan seperti banyak dunia yang dijabarkan di awal film. Ada sahabat saya yang bilang kalau lumayan beda klimaksnya karena dibuat negosisasi seperti itu. Tapikan ini film superhero? Bukan film tentang negosiator dan tujuan saya nonton film superhero karena ingin lihat bagaimana kekuatan mereka tumbuh, motivasinya, pertempurannya, superviliannya, dan lain-lain.
Overall, menurut saya Marvel mempunyai cerita-cerita dengan aroma sama tetapi pintar mengemas sehingga nampak menarik dan DC mempunyai segudang cerita bagus dan kaya tapi tak tahu benar bagaimana mengolah dan menjualnya.
Skor: 2/4