Showing posts with label remah equilibrium. Show all posts

skenario film pendek, anak bandel









Anak Bandel


Written by :
Triztan Famous

Directed by :
Triztan Famous

Produce by :
Karang Taruna AMUNISI



CAST
Bapak : pria 50 tahunan, memakai kaos singlet dan sarung
Ibu : wanita 45 tahunan, memakai roll rambut dan daster
Anak 1 : laki-laki 17 tahunan
Anak 2 : wanita 15 tahunan
Anak 3 : laki-laki 13 tahunan

Genre : Short Comedy

SKRIP
INT. Ruang Keluarga
Seorang bapak sedang bersantai di kursi rotan. Dia mengipasi wajahnya dengan majalah bekas untuk menahan hawa panas pada siang itu. Di dekatnya, si anak bungsu yang paling nakal sedang asik bermain tablet. Anak kedua sedang sibuk membaca buku dan anak ketiga tertidur pulas di depan TV. Sedangkan sang Ibu sedang sibuk menonton acara di TV sambil melipat pakaian.
BAPAK
Le, tulung tukokno wedang adem seng maknyess nek warung
ANAK
Nek gone Lek Sumi, Mbak Nur, Mbak Patim opo Mas Pareng Pak?
 BAPAK
Mas Pareng.
ANAK
(Sambil meneruskan utak-atik tabletnya)
Siap, Pak!. Wedange Fanta, Coca-Cola opo Sprite Pak?
BAPAK
Coca-Cola
wae Le.
ANAK
Kaleng
an opo botolan Pak?
BAPAK
Botol
an.
ANAK
Botol
e seng gede opo seng cilik Pak?
BAPAK
(Mulai jengkel)
Hehhhh! Ngenyelmen tho koe dadi cah cilik! Karek mangkat nek warung we kakean polah! Ra sido wedang adem! Tukokno es jeruk wae kono nek kulon deso!
ANAK
Jeruk keprok, jeruk nipis opo jeruk mbali Pak?
BAPAK
Jeruk nipis! (Sambil mengeleng-gelengkan kepalanya)
IBU
Aku sisan Le, bungkuske es teh!
ANAK
Teh tawar, teh Tarik opo teh ijo bu?
IBU
Teh tawar! (Geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya)
ANAK 2
Buk, wedang putihe nek mburi entek!
IBU
Yo wes Le, Sisan tukokno wedang putih!
ANAK
(Masih tidak menoleh
sama sekali) wedang putihe seng Aqua, Ades, opo le mineral?
BAPAK
(Mengambil napas panjang) AQUA!!!
ANAK
Aqua
seng botole cilik, tanggung opo seng galonan Pak?
BAPAK
Sapu!
Sapune endi Bu? Njaluk di ajar Gowa sapu bocah iki! Dasar bocah ra genah!
IBU
Sapune igek dijileh Mbokdhe Sumi Pak, ge nyapu latar! (sibuk melipati pakaian)
BAPAK
Wo... Wong kok ra modal! Sapu we golek silehan!
ANAK
Ng… sapu
seng di sileh sapu ijuk opo sapu lidi, Pak?
BAPAK
OALAH! (Mengambil sandal dan melemparnya ke si anak, wajahnya sudah merah menahan dongkol).
DASAR WEDUS!!!
ANAK
(Menghindari lemparan sandal, geser tempat duduk, tapi terus main tablet)
Et... ora keno (Tertawa cegengesan) weduse wedus Jowo opo wedus gimbal Pak?
BAPAK
Woooo,
LHA SETAAAAN!
ANAK
(Kali ini si anak menoleh dan menatap Bapaknya dengan wajah sedih) Anak
dewe kok di darani setan... tego eram tho Pak? (Hampir menangis)
BAPAK
(Nada suaranya merendah
, merasa bersalah) Lha kelakuanmu kui pancen koyo setan kok! Makane dadi anak ki ojo njawab perintahe wong tuo terus!
ANAK
Iyo Pak (dengan raut wajah bersalah) Tapi…. setanne pocongan opo gendruwo Pak? (Lalu si anak kembali mainan tablet)
BAPAK
ORA GAGGAS!!! MINGGATO WAE KONO!
ANAK
(Pura-pura berfikir berat) ehm... Minggate saiki opo sesok Pak?
BAPAK
(Menelan ludah, mencoba mengatur napasnya)
Bu, Piye nak bocah iki tak pateni wae? Awak dewe igek due anak loro. Mati siji ora enek rugine. Opo meneh bocah ngengkel koyo ngene?
IBU
(Sibuk menonton TV sambil melipat pakaian) Karepmu pak, ora tak gagas!
ANAK
Terus,
matenine Gowa ladeng, pecok opo Gowo pistol Pak?
BAPAK
PISTOL! LANGSUNG TEMBAK… JEDOR!! (sambil berdiri dari
tempat duduknya, menatap anak bungsunya dengan tatapan penuh amarah)
ANAK
Seng di tembak ndhase opo wetenge Pak?
BAPAK
(Terdiam. Lalu memegangi dada kirinya.
Mengelusnya pelan-pelan. Jantungnya kumat.)
IBU
(Pergi meninggalkan ruang keluarga dengan tatapan malas, menyingkirkan baju-baju yang sudah selesai di lipat)
BAPAK
Bu!
IBU
Opo Pak?
BAPAK
Tulung jipukno obat!
IBU
Obat mumet, obat watuk opo obat panu?
BAPAK
(Geleng-geleng kepala, pusing memikirkan istri dan anaknya)
CUT TO END TITLE

skenario film pendek, kesempatan kedua








Kesempatan Kedua


Written by :
Triztan Famous

Directed by :
Intan Pratiwi A.

Produce :
Karang Taruna AMUNISI


       
CAST
Wanita :
Lelaki :

GENRE : Drama, Romace,

SKRIP
IN. Di Dalam Ruangan
1. Narator : pernahkah di kunjungi masa lalu? Impian, kenangan, seseorang, sebuah rasa... karena kadang tak semua cinta tergantikan oleh cinta, karena kadang tak semua cinta itu ternyata cinta... times changed, things changed, we Changed.
Ext.  Sawah, Sore Hari
Seorang wanita duduk termenung di pinggir sawah, menatap bentangan gunung dari kejauhan, di tangannya terdapat sebuah buku harian tempat seluruh episodenya berpadu, buku harian pemberian seseorang yang pertama kali mengisi hatinya. Setelah dua tahun tak bertatap muka, akhirnya hari ini mereka memutuskan untuk berjumpa. Menggenapkan apa yang harus di genapkan, menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan.
WANITA
(tersenyum melihat kedatangan orang yang ia cintai datang)
LELAKI
Hay, sudah lama nunggunya? (turun dari sepeda motor, mencopot helm lalu langsung menjabat tangan si wanita)
WANITA
Belum, aku juga baru saja dateng kok (kikuk, tersipu malu)

LELAKI
(memanggut-manggutkan kepala) ehm, kamu kelihatan beda (melirik si wanita sebentar lalu kembali menatap gunung di kejauhan, tersenyum sekilas)
WANITA
Beda bagaimana?
LELAKI
Ya beda saja, lebih tenang, lebih luwes, dan kayaknya lebih santai. Nggak kaya dulu (tersenyum simpul)
WANITA
(menunduk, tersenyum singkat) kamu juga, kayaknya lebih dewasa dan tenang, nggak kaya dulu (melirik sang LELAKI) kamu, apa kabar?
LELAKI
Kabarku Menakjubkan!
WANITA
Lho, kok bisa?
LELAKI
Ya karena mau ketemu kamu hari ini, semalaman aku bahkan sampai nggak bisa tidur. Lucu ya?
WANITA
(tersenyum lebar) sama, aku juga. Mungkin karena kita sudah lama nggak ketemu, jadi sedikit antusias
LELAKI
Kamu masih ingat janji kita dulu?
WANITA
Janji yang mana? Kamu menjanjikan banyak hal sama aku

LELAKI
Hatimu adalah hatiku. Tubuhmu adalah tubuhku. Kamu milikku. Aku milikmu. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada dusta lagi. Tidak ada penghalang lagi. Sakitmu, tawamu, air matamu, amarahmu, lukamu, semuanya adalah-
WANITA
(menyela kalimat LELAKI) -tanggung jawabku
LELAKI
Kamu masih ingat? (antusias menatap sang WANITA)
WANITA
Tentu, itu janji sakral kita pas awal jadian dulu.
LELAKI
Aku senang kamu masih ingat itu. Kamu masih sendirikan selama aku pergi?
WANITA
(tersinggung) itu pertanyaan macam apa? Aku masih sendiri (ketus) pas kamu dulu pergi, kamu nggak ngasih kepastian apa-apa lho sama aku, secara nggak langsung kamu gantung aku lho. Dua tahun tanpa kabar. Tanpa surat, tanpa SMS, tanpa petunjuk sedikit pun.
LELAKI
Aku minta maaf untuk itu dan untuk segala kesalahanku selama menjalin hubungan sama kamu.
WANITA
Kamu tenang saja. Aku sudah maafin kamu jauh hari sebelum kamu minta maaf sama aku. (menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan)
LELAKI
Kamu benci sama aku?

WANITA
Enggak, aku sama sekali nggak benci sama kamu. Aku cuma lelah menunggu kepastianmu, dua tahun aku kamu gantung, tanpa kepastian apapun. Dan itu sakit. Aku ngerasa hampa, padahal hampa itu kan kosong, nggak ada apa-apa, tapi kenapa hampa yang aku rasain saat kamu tinggalin aku itu menyakitkan ya?
LELAKI
(menundukkan wajah, menyesal) Aku minta maaf, aku mohon sama kamu, maafin aku. Sumpah aku nggak ada maksud apa-apa, nggak pernah aku niat buat sakitin kamu.
WANITA
Kamu ada maksud sama aku juga nggak apa-apa kok, sudah tenang saja, itu kan sudah berlalu, yang udah ya udah, biarin saja jadi kenangan. Dan kenangan nggak seharusnya jadi bebankan?
LELAKI
(tersenyum pahit, tersinggung dengan ucapan si wanita) sekarang kamu kuat ya
WANITA
(menghembuskan nafas perlahan, menahan tawa) keras kepala iya, tapi kadang menjadi kuat itu bukan berarti tahu segalanya lho. Bukan berarti aku tak bisa hancur. Kekuatanku ada pada kemampuanku bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh.
LELAKI
Dan akulah orang yang membuatmu berkali-kali jatuh? Orang yang membuatmu menjadi sosok yang kuat? (tersenyum getir)
WANITA
(tersenyum) masihkah kamu harus tetap bertanya ketika kamu sudah tahu jawabnya? iya, kamu salah satunya. Tapi tenang, masa itu sudah berlalu. Nggak ada gunanya ngungkit-ngungkit itu. Kamu ketemu aku nggak buat ngungkit-ngungkit itu kan?

LELAKI
Nggak, aku ngajakin kamu ketemu bukan untuk ngungkit-ngungkit itu kok. Tapi aku minta sama kamu, Jangan sakiti aku mengatasnamakan masa yang telah berlalu (serak) aku ingin pertemuan kita setelah dua tahun tak jumpa menjadi kenangan yang indah. Bukan seperti ini, mengungkit-ungkit masa lalu hanya untuk saling menyakiti.
WANITA
(terdiam lama, berfikir) kamu benar, maafin aku. Aku hanya terbawa emosi sesaat saja. Sorry,
LELAKI
Sama-sama, kita saling memaafkan saja (melirik buku diary di tangan sang WANITA) buku itu masih kamu simpan?
WANITA
Iya, buku ini selalu aku bawa kemana-mana, nggak semua kenangan bisa aku lupakan begitu saja.
LELAKI
Kamu tahukan kalau aku masih sayang sama kamu?
WANITA
Tahu, aku pun juga masih merasakan hal itu
LELAKI
Jadi?
WANITA
Jadi apa?
LELAKI
Kita balikan?
WANITA
Memangnya sejak kapan kita putus?
LELAKI
(sumringah mendengar jawaban sang WANITA) jadi sekarang kita masih pacaran?
WANITA
Enggak
LELAKI
(kebingungan) Lha terus?
WANITA
Mulai sekarang kita jadi teman dulu saja
LELAKI
Jadi nanti aku masih bisa jadi pacarmu lagi?
WANITA
Tergantung,
LELAKI
Tergantung bagaimana?
WANITA
Tergantung kamu nantinya. Jujur aku masih sayang sama kamu, sayang banget malah. Tapi, setelah kamu pergi tanpa kepastian apapun rasa itu memudar dengan sendirinya. Masih ada, tapi tak sekuat dulu.
LELAKI
Terima kasih untuk hal ini, dan maaf untuk dua tahun belakangan ini.
WANITA
Sudahlah, jangan minta maaf terus. Biasa saja, aku cuma nggak suka saja sama konsep pacaran yang bubar terus musuhkan satu sama lain. Saling menjatuhkan. Cepat-cepatan cari pasangan baru dan lain-lain. Hubungan antara hati ke hati itu tak serendah itu, nggak senista itu dan nggak seremeh itu. Cinta itu sebenarnya cukup lapang kok untuk menampung apapun, termasuk kesalahan fatal.
LELAKI
Iya aku paham
WANITA
Intinya, aku ngasih kesempatan kedua buat kamu karena itu keputusan yang paling adil buat kita berdua. Kita masih saling sayang, tapi aku juga butuh pembuktian kalau kamu serius masih mau jalin hubungan sama aku, oke? (mengulurkan tangan)
LELAKI
Oke (menjabat tangan si WANITA)
WANITA
Deal, baru mulai besok kamu boleh ngejar-ngejar aku lagi (tersenyum senang)
LELAKI
Siapa takut?
WANITA
Selama dua tahun kemarin kamu beneran nggak jalin hubungan sama siapa-siapa?
LELAKI
Enggak
WANITA
Lha kenapa?
LELAKI
Masih perlu ya tanya hal yang sudah pasti kamu tahu jawabannya?
WANITA
Nggak ada yang salah dengan kepastian

LELAKI
(mengangguk-anggukan kepala) ya, nggak ada yang salah sama itu. Nggak ada cinta yang rasanya sama, kenapa harus coba-coba kalau sudah menemukan yang pas? Yang tepat dan klop banget?
WANITA
(tersenyum senang, lalu menyandarkan kepalanya ke pundak sang lelaki, menghabiskan waktu menatap matahari yang mulai terbenam)

CUT TO THE END TITLE