Pelepasan Remah 39



Pelepasan
Remah 39


Kisah sebelumnya Klik disini



Aku mengeleng-geleng tak percaya saat ia kembali menjelaskan, pandanganku menjadi samar, batinku bergejolak, “ini pilihan yang sulit untuk kita semua, tapi kita nggak bisa nolak permintaan ibumu. Dia mohon-mohon sama kita buat maksa kamu pulang ke rumah dan mengakhiri hubunganmu dengan Willy, dia ingin kamu kembali Bell,”
“ASU KOE NDI!!!,” kutukku tajam, emosi melumat penuh tubuhku. Kutahan tanganku untuk tak menghantamkan barang-barang di depanku di wajahnya, “aku hampir mati gara-gara kalian semua!” lanjutku dengan nada meninggi, “aku nggak habis pikir! Kalian kok bisa setega itu sama aku? Aku bukan kelinci percobaan Ndi! Aku punya hati, aku punya perasaan! Ngehek banget jadi orang!”
“Aku ngelakuin hal itu juga karena aku punya alasan Bell,” katanya melembut, berusaha menenangkan hatiku yang kalut, “kita juga mikir itu lama, nggak langsung iyain aja permintaan ibumu gitu aja,”
Aku sama sekali tak percaya. Aku mulai memiliki alasan untuk membencinya, mataku mulai berkaca-kaca, nafasku hadir tak beraturan, aku masih kesulitan menerima hal ini. Aku membenci kenyataan ini,  “Alasan tai! Koe ki wong seng paling tak percoyo jobo jero Ndi, bosokku koe reti kabeh. Uripku tak ceritakke karo koe kabeh. Koe kok tegel men karo aku?” kutangkupkan telapak tangan untuk menutupi wajahku, “tujuh bulan lebih aku nggak fungsi jadi manusia, nggak bisa ngapa-ngapain karena sakit hati yang kalian rencanakan? Bangsat banget sih kalian jadi manusia!”
Air mataku mulai merembes lagi, padahal sudah lama aku damai dengan air mata itu. Rasa benci bergumul di dalam dadaku. Aku merasa seperti pecundang. Pecundang yang di permainkan.
“Gini lho Bell,” katanya lembut, berusaha menyentuh hatiku, “menurut Willy, sudah waktunya kamu buat rekonsiliasi sama keluargamu. Dia yang jadi saksi betapa sesunguhnya kamu masih butuh keluargamu dan rindu sama mereka. Aku, Willy, Sandra sama anak-anak emang keluargamu Bell, tapi nggak bakal ada yang bisa mutusin ikatan biologis. Sekuat apapun kamu nyangkal, mereka tetep keluarga kamu. Setiap orang pasti berbuat salah Bell, tapi kita nggak bisa meninggalkan keluarga,”
“Taik!” kataku penuh emosi sebelum meninggalkannnya sendirian.
Aku marah. Aku marah terhadap banyak hal. Aku marah terhadap Andi, Sandra, Ibuku, bahkan aku marah terhadap Willy karena menyutujui rencana bodoh itu. Rencana yang menempatkan diriku sebagai pecundang tempat percobaan mereka. Aku benar-benar benci semua hal itu. Bangsat! Tai! Ngehe! Gimana bisa aku sebodoh ini? Sama sekali tak bisa membaca apa yang mereka sembunyikan dariku?
FUCKKK!!!
Aku berteriak seperti binatang terluka di parkiran cafe sebelum memacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi di jalanan Solo yang mulai memadat. Aku tak bisa berfikir jernih. Emosi menguasai setiap sendi di tubuhku. Aku mengutuk diriku sendiri, memisuhi banyak orang. Berteriak-teriak sepanjang jalan. Aku kacau, aku bodoh, aku pecundang. Bajingan! Aku merasa muak dengan diriku sendiri.
ASU.
Aku sama sekali tak menyangka jika orang-orang yang aku percayai bisa memperlakukanku seanjing ini. Apa mereka fikir aku manekin tak berperasaan? Bagaimana kalau aku meninggal saat itu dan sama sekali tak mengetahui fakta ini? Apakah mereka akan bertepuk tangan karena berhasil memecundangiku?
NGEHEK!
Sepanjang jalan aku merutuk, mencaci dan terus berteriak tak karuan. Aku harus meluapkan emosi ini. Tai, bagaimana bisa aku sebodoh ini? Aku kecewa dengan mereka semua, kecewa dengan ibuku, kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa dulu aku tak berjuang lebih untuk menyakinkannya terus disisiku? Kenapa dulu aku hanya pasrah dan tak meminta penjelasan? Kenapa aku dulu tak menyusulnya ke Bandung? Anjing, kenapa aku segoblok ini?
Motorku berhenti di taman Balaikambang, kuputuskan untuk menenangkan diri disana. Pikiranku masih kacau dan emosi melumat habis tubuhku. Aku benci kenyataan ini. Apa yang harus aku lakukan jika orang-orang bangsat itu memang menginginkanku seperti ini? Notifikasi pesan masuk menyadarkanku.

Nggak ada rencana buat OD atau bunuh diri lagikan?
Pesan Keenan langsung menohokku. Aku tertawa getir, jika saat itu aku mati, hubunganku dengan kakakku ini tak akan seperti ini.

Nggak ada, mau jadi saksi bunuh diriku lewat streaming?
Jawabku sebal, pasti Andi yang menghubunginya.

Bentar-bentar, aku cariin lcd yang gede biar ponakan-ponakanmu bisa nonton bareng uncle-nya bunuh diri.
Detik berikutnya ia menelfonku melalui Skype dengan anak-anaknya yang berkulit putih dan bermata kelabu dan yang satu bermata sepertiku, mereka menghubungiku lewat smart TV di ruang keluarga. Sebisa mungkin aku tahan emosi yang melumat tubuhku, aku tak ingin tampil kacau di depan ponakan-ponakanku.
Wajah Keenan memenuhi layar sebelum mengoper layarnya ke wajah anak-anak disampingnya, “Kenalin Bell, ini ponakanmu, yang cowok namanya Jalu dan yang cewek namanya Gendhis,” jelasnya bangga mengenalkanku pertama kali dengan anak-anaknya yang bertubuh gempal dan lucu, membuat emosi yang bertahta di hatiku sedikit runtuh. Kudengar anak-anak itu ceriwis memakai bahasa Indonesia.
“Mereka pakai bahasa Indonesia?” tanyaku penasaran.
“Yups, Ibunya yang ngajarin pakai bahasa Inggris, sedangkan aku ke jatah ngajarin mereka bahasa Jawa dan bahasa Indonesia,”
Aku terpukau, “Hallo Jalu, hallo Gendhis!” sapaku dengan senyum merekah. Sebisa mungkin tak menampakkan jejak emosi di wajahku.
Mereka menyambutku dengan lambaian tangan dan senyum yang membuatku tersetrum untuk tersenyum lebih lebar.
“Hallo uncle,” jawab Gendhis lucu, “Kata ayah kita nanti pas natal mau ke Indonesia ketemu sama Grandma Grandpa,”
“Pas natal?” tanyaku terusik, “kalian mau liburan disini?” tanyaku meminta kepastian.
Keenan kembali mengambil kendali, “Aku di sini ikut agama istriku Bell, baru ibu yang tahu kalau aku pindah agama. Natal nanti kita kumpul bareng ya?” tawar Andi kusambut dengan senyum tak pasti, Keenan lalu meminta Jalu dan Gendhis ke luar rumah menyusul ibunya, “kamu kenapa Bell? Lagi ada masalah?” katanya dengan mimik serius.
“Andi nggak cerita sebelum hubungin kamu?” tanyaku langung.
“Enggak, dia cuma bilang hawatir kamu ngapa-ngapain terus minta aku buat telfon kamu buat mastiin kamu baik-baik saja. Ada problem apa lagi Bell?” tanyanya mendesak. Sejak peristiwa bunuh diriku yang gagal itu, Keenan memang selalu berusaha meluangkan waktu untuk menghubungiku melalui pesan instan ataupun telefon singkat.
“Ibu yang minta Willy buat ngakhiri hubunganku sama dia, terus Andi, Sandra –kakaknya Willy- sama Andi yang nyetting semuanya sampai akhirnya aku gagal bunuh diri kemarin, itu semua ternyata cuma hasil kong-kalikong orang-orang yang aku kasih kepercayaan di hidupku. Dan aku sakit hati banget sama mereka gara-gara hal itu,” jelasku dengan raut wajah buram. Aku merasa jika aku tak bisa berdamai dengan orang-orang itu setelah hal ini.
“Damn, itu pasti menyakitkan buat kamu,” kata Keenan kujawab dengan satu anggukan, gemuruh emosi masih kurasakan di dalam relung dadaku, “aku nggak tahu apa yang bakal aku omongin sama kamu, tapi ibu ya emang kaya gitu. Yang ibu sama kamu butuhkan sebenernya cuma obrolan hati ke hati lho Bell, jadi biar kalian berdua bisa saling memahami satu sama lain dan nggak langsung ngambil langkah frontal hingga saling menyakiti. Tapi, bukannya kamu sama ibu udah baikan ya? Soalnya beberapa hari yang lalu ibu cerita gitu,”
“Iya, aku emang sudah baikan sama ibu,” jelasku dengan nada bingung, “tapi setelah denger penjelasan Andi, aku nggak lagi yakin kalau itu yang aku butuhkan, atau itu bentuk pelampiasan. Yang pasti, Aku nggak yangka mereka bakal tega buat ngelakuin hal itu sama aku bang. Aku sakit hati banget sama mereka bang,”
“Aku yakin mereka juga nggak bakal tega sama kamu kok Bell, mungkin faktor permintaan ibu yang nggak bisa mereka tolak yang jadi pemicunya. Jangan sampai hal ini buat rengang hubunganmu sama ibu lagi ya, ibu ngelakuin hal itu pasti nggak berniat buat misahin kamu sama Willy, dia cuma ingin kamu pulang dan jalin hubungan yang baik sama orang tua aja. Dia kehilangan dua orang anak Bell, dan ayah nggak bakal minta kita buat pulang ke rumah, jadi wajarlah dia ngelakuin apa aja biar bisa buat kamu kembali ke rumah, soalnya aku nggak mungkin lagi tinggal di rumah itu. Aku sudah punya rumah dan bangun kehidupan disini,”
Aku masih tak terima dengan penjelasan Keenan, “Tapi caranya nggak gitu juga bang,” tambahku frustasi, “jangan-jangan kamu juga tahu bang tentang hal ini?” tanyaku sengit.
Keenan terkekeh menghadapi tuduhan kekanakanku, “Aku berani sumpah demi apapun, aku nggak tahu hal ini sama sekali. Ibu cuma bilang kalau dia pengin kamu pulang ke rumah aja, nggak lebih nggak kurang. Tapi apapun yang udah ibu lakuin, yang pentingkan hubunganmu sama dia udah baik lagi Bell,”
Aku terdiam lama, pendanganku terhampar jauh di danau di depanku.
“Tapi setelah aku tahu kenyataan ini, aku nggak lagi yakin kalau aku bisa jalin hubungan baik sama ibu bang,”
“Usahain jangan sampai hal ini ngrusak hubunganmu sama ibu sekarang Bell, kasian ibu, setelah Sherin pindah dari rumah, dia ngerasa kesepian,” jelas Keenan memelas, berusaha mengais iba dari dalam hatiku, “aku, kamu, ayah, adalah orang-orang yang harus di gampar biar bisa sadar. Kita bertiga sama-sama keras kepala, bedanya ayah menua dan menjadi kolot, dan kita adalah orang yang masih bisa mengikuti perubahan. Maafin ibu sama temen-temenmu, buat apa kamu memendam dendam dan benci di dalam hati? Pikirin itu semua baik-baik Bell, gimana kalau kamu ada di posisi temen-temenmu itu, gimana posisi Willy, dan gimana sudut pandang ibu dalam melihat ini semua. Luka seorang ibu lebih parah daripada luka seorang ayah lho Bell, jangan egois,”
Aku ingin membalasnya, tapi tak ada satupun kata-kata yang meluncur dari bibirku. Tenggorokanku seakan-akan terkunci rapat, menyendat kalimat yang akan mengelincir liar. Aku juga sedang tak mood untuk mendebatnya.
“Jangan sampe masalah ini ngrusak hubunganmu dan ibu yang sudah susah-susah kamu bangun lagi, kamu anak laki Bell, lapangin dadamu, jangan jadi pendendam, jadilah manusia pemaaf. Lagian pasti temen-temenmukan yang ada pas kali lagi down, jangan gara-gara satu masalah, hubunganmu dengan mereka hancur. Inget yang baik-baik aja tentang mereka, manusia tempatnya salah, nggak ada yang sempurna, saling menerima dan menghormati satu sama lain itu adalah langkah terbaik daripada memperdebatkan apa yang sudah jelas-jelas beda dan salah,”
“Aku pikirin dulu semuanya bang,”
“Pake hati jugaya, jangan cuma pake emosi,”
“Iya,” sahutku lemas, “salam buat Jalu sama Gendhis,”
“Iya, jangan lupa nanti kita ngerayain natal bareng-bareng, nanti kita hadapi ayah sama-sama Bell,”
“Kamu masih takut ya sama ayah?” tanyaku usil.
“Emangnya kamu enggak?”
“Ya takut sih, tapikan kamu punya Jalu sama Gendhis, seenggaknya ayah nggak bakal damprat kamu di depan cucunya,”
“Mereka ke Indonesia bukan buat aku jadiin tameng kali Bell. Ibu yang minta aku pulang, dia pengen ketemu cucu-cucunya, aku nggak bisa nolak permintaan itu. Lagian anak-anak juga pengin kenal kakek-neneknya,”
Setelah ngobrol ngalor-ngidul belasan menit kemudian, Keenan menyudahi panggilan dan memintaku untuk memikirkan ulang semuanya. Kuhubungi Sobey untuk menemaniku.
Matahari terbenam dan aku sudah berada di Alun-Alun Kidul untuk mencari jajanan ringan pengganjal perut bersama Sobey, kebetulan dia sedang berada di Solo, jadi dia dapat menemuiku dengan cepat. Hampir satu jam dia mendengar unek-unekku hingga tak ada lagi yang dapat aku ceritakan lagi, hatiku sedikit melonggar setelah bertemu dengannya. Setelah puas curhat dan jajan makanan ringan di tempat itu, kita berdua lalu makan malam di kedai Mie Angklung daerah Kartasura. Sebelum akhirnya mampir di kedai susu daerah UMS, hanya untuk menghabiskan waktu bersama.
“Kamu punya perasaan sama aku Bey?” tembakku langsung, selain dengan Willy dan Andi, aku tak pernah menjalin hubungan sedekat ini dengan seseorang. Pertanyaan Andi beberapa hari di cafelah yang memicu pikiranku tentang hal ini.
Ia kaget, tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dariku. Sorot matanya menelusuri wajahku, mencari-cari jejak canda disana.
“Bell, kalau kamu-”
“-Ini pertanyaan serius kok,” sahutku langsung.
“I don’t now Bell, kita emang sering jalan bareng akhir-akhir ini, karena kita sama-sama patah hati dan butuh hiburan,” jelasnya sambil menatap langsung mataku, “aku nggak bisa jawab pertanyaanmu itu, aku masih punya perasaan sama mantanku kaya kamu masih nyimpen rasa buat Willy. Kalau aku jawab iya, aku takut itu cuma sekedar pelampiasan aja. Tapi, aku nyaman sama kamu, dan itu fakta,” tambahnya sambil menyungingkan senyum untukku.
Aku membalas senyumannya, “Dan ini juga fakta Bey, aku juga nyaman sama kamu. Bukan karena aku butuh pelampiasan atau apapun, tapi karena aku sulit terbuka dengan banyak orang, dan kamu adalah pengecualian. Kamu membuatku bebas menjadi diri sendiri,”
“Habis ini mau kemana?” tanya Sobey menantangku. Matanya berkilat, pertanda jika malam ini akan menjadi malam yang panjang, “Surabaya, Bandung atau Bali?”
“Gila!” sahutku penuh semangat, “aku nggak bisa libur seenak hati kaya gitu!”
“Yaudah gini aja kalau gitu,” katanya membuat ulang rencana, “Jogja atau Semarang? Kalau yang ini pasti kamu mau,” tambahnya sedikit memaksaku.
“Jogja. Pantai. Kamu yang nyetir. Aku capek banget hari ini,” kataku membuat penawaran.
“Nggak masalah, deal?”
“Deal!”
Setelah memarkirkan motorku di rumah, aku langsung mengepak barang-barang yang aku butuhkan, baju ganti, peralatan mandi dan lain-lain. Tenda dan beragam makanan ringan sudah Sobey taruh di bagasi belakang saat aku mengunci gerbang dan langsung membenamkan diri di kursi depan, memutar musik EDM kencang-kencang dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Kisah selanjutnya Klik disini



Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

Review: XXX Return Of Xander Cage



Review: XXX Return Of Xander Cage

Pertama, ini film Vin Diesel jadi siap-siap goblok-goblokan aja. Kedua, film ini duplikasi Fast and Furious denga ala-ala James Bond yang gagal mengikuti keduanya. Ketiga, titipkan otak anda di tempat penitipan barang sebelum menonton film ini. Jika anda mengharap film dengan skenario kelas Oscar, dadah ajalah. Ini cuma buat aksi sok-sokan para pemainnya doang kok.
Selama di bioskop, saya lebih senang makan pop corn dan minum soda daripada menonton film ini. Jangan harap bakal ada penjelasan penuh kelokan cerita bagaimana Xander Cage memalsukan kematiannya. Goblok memang, tapi ya mau gimana lagi? Selain serial Fast and Furious, kebanyakan film Vin Diesel kan kelas B dan tolol-tololan doang. Jadi jangan harap lebih, oke? Lanjut.
Tapi, saat saya memasrahkan diri untuk disuguhi apapun di layar, tanpa mempedulikan cerita, film ini dimata saya tetap saya, tolol, bodoh, tak masuk akal, lebay, nggak serius. Buat hiduran pun film ini tetep, apaan sih lu!
Film ini bercerita tentang CIA yang kelabakan karena Xiang (Donnie Yen) fan anak buahnya mencuri Pandora Box yang mampu megontrol pergerakan satelit. Karena suatu alasan, Xander bersedia kembali dan merekrut tiga anak buah yang sama sekali nggak ngaruh buat cerita dan dibuangpun nggak ada masalah. Ingat, ini film kelas B yang cuma buat seru-seruan aja adegannya.
Film ini menderita dipembagian porsi peran pendukungnya untuk bersinar dengan peran dan kelebihan nggak penting mereka selain kegiatan marketing, Donnie Yen dan Tony Jaa digunakan untuk mengaet penonton Asia, Kris untuk penggemar K-pop, Deepika Padukone untuk penonton India. Dan jujru, penyelamat film ini adalah Deepika yang selalu mampu mencuri perhatian saat tampil, bukan Vin yang begitu nggak jelas.
Film ini menderita di banyak hal, dari naskah, karakterisasi dangkal, kelakuan tokoh tanpa motifasi, kekacauan alur, humor konyol, CGI buruk sekali, dan menayangkan aksi lebay banget di luar nalar. Plis, jangan anggep film ini serius, ini cuma jadi sekedar serial sampingan Vin Diesel sebelum Fast and Furious selesai di film kesepuluh.
Silahkan bersenang-senang dengan film ini jika anda sudah menitipkan otak di tempat penitipan barang, dan jangan lupa beli pocorn dan soda jika anda sudah terlalu malas menonton layar perak.
Skor : 1/5

Pelepasan Remah 38





Pelepasan
Remah 38


Kisah sebelumnya Klik disini


Satu minggu lebih tak ku jawab pesan yang terlampir dini hari itu. Kembali aku ling-lung saat menatap kehidupan, seperti kehilangan pegangan. Bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Satu pesan darinya, sukses mengelindingkanku dalam kehampaan. Lama aku berfikir dan mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya aku ceritakan kepada Andi.
Tak seperti perkiraanku, jika dia akan menyuruhku menolak atau tidak mengabaikan permintaan itu. Ia malah menyuruhku untuk menemuinya, dan itu semakin membuat hatiku kelu. Menambah beban kebimbanganku.
Ditemani dengan segelas susu encer, sesi curhat sore itu bergulir tenang.
“Nggak ada salahnya kamu nemuin dia lagi Bell, tanpa embel-embel atau tujuan apapun, hanya sekedar menuntaskan apa yang belum tuntas saja. Menggenapkan apa yang belum genap. Nggak lebih, nggak kurang,” bujuk Andi berusaha menguatkanku. Sejak pesan itu hinggap, seketika tubuhku membelah jadi dua bagian. Si bodoh yang ingin langsung mengiyakan permintaan Willy dan si bodoh satunya yang menolak mentah-mentah ajakan tersebut, “aku tahu kalau kamu nggak bisa ngapus bayang-bayang Willy secara tuntas di dalam hidupmu. Aku tahu kamu Bell, aku paham kamu. Temui dia. Kalian pernah menjalin hati bersama, nggak seharusnya kalian seperti ini,”
Kutanggapi dengan anggukan pelan. Aku masih belum yakin dengan hal ini.
“Nah, ini juga kesempatanmu buat nyelesein semuanya. Nggak baik buat hati kamu atau hati Willy ngambang seperti ini terus, takdir hati kita itu pada akhirnya berlabuh Bell, bukan mengambang terus tanpa kepastian,” kata-kata Andi langsung menohok hatiku, “sebenernya aku tahu Bell kalau kamu belum bisa ngelepasin dia. Coba tanya deh sama dirimu sendiri, sebenernya kamu masih sayangkan sama dia? Kamu masih bingungkan mau nentuin status apa buat dia?”
Kujawab dengan anggukan pelan, nyaris tak ketahuan.
“Bell, Bell,” ujar Andi sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, memandangiku dengan tatapan yang sulit untuk aku jabarkan, “sampai kapan kamu bisa mengenal dirimu sendiri Bell? Nggak selamanya lho aku bakal ada di sampingmu terus buat jernihin hati sama fikiranmu. Nggak selamanya aku bisa jadi kaca buat kamu. Bingung yang kamu rasain sekarang itu sebenernya pertanda. Jika hatimu emang masih menyisakan ruangan buat dia. Ruangan khusus buat dia. Ruangan dimana kamu nggak bisa nentuin mau di bawa kemana kedepannya. Aku pernah ada diposisi seperti itu Bell,”
“Tapi, bukannya emang begini ya Ndi kalau cinta pertama?”
“Iya dan enggak jawabannya. Kalau cinta pertama sedalam cinta kalian berdua sih, kemungkinan iya. Tapi kalau sekedar cinta monyet atau cinta abal-abal berapa minggu doang juga pasti bisa nggak kamu gubris lagi, tapi kalau cinta orang-orang LGBT kaya kalian sih emang sulit Bell, tambah sulit lagi kalau orang itu yang sudah nyentuh inti jantung kamu, dan menyisakan orang-orang yang akan datang hanya dengan sebuah kemungkinan,”
“Kalau kamu bilang kaya gitu sama aja kamu bilang kalau orang-orang yang akan memiliki hatiku tak akan bisa aku cintai dengan seluruh diriku Ndi,”
“Lha kamu lebih milih di cintai atau mencintai dalam kasusmu ini?”
“Damn, itu pilihan yang sulit Ndi,”
“Ya kita berandai-andai nggak ada salahnya kan?” ucapnya sedikit memaksa.
Aku butuh waktu lama untuk memikirkan hal itu, “Mencintailah kalau gitu,” jawabku mantap, “setidaknya kita masih bisa kontrol seberapa besar dan dalam perasaan kita saat mencintai seseorang itu, jika kita memilih untuk di cintai kita nggak bisa ngontrol perasaan orang itu Ndi,”
Ia tersenyum samar kepadaku, “Sepintar apapun kita berteori tentang cinta, pada akhirnya saat kita berhadapan, kita menjadi lembar kosong dan kembali sama-sama belajar. Entah dia nomor berapa di kisah percintaanmu, selalu ada jenis cinta yang tak mudah buat kita singkirkan. Kamu tahu benar kisahku, tunanganku kabur sama sahabatku,” lanjutnya getir, nuraniku selalu koyak saat mendengar ia membicarakan hal ini. Pahit itu masih ada, dan dia tak pernah membahas hal ini kecuali benar-benar mabuk. Tapi hari ini dia dengan sadar mengungkap masalalunya, “sampai sekarang, aku masih sayang sama dia, paling sayang,”
Ia hela nafas pelan, menata kembali emosinya. Sesaat dia sibuk dengan tas kecil dan menarik bungkus rokok dari lambung tas mungil itu, menyulutnya sebatang dan kembali meneruskan, “Beberapa hari yang lalu aku ketemu sama dia dan menyelesaikan semuanya, kita saling memaafkan, saling melepaskan semua kenangan dan masa laluku sama dia. Kita saling membebaskan satu sama lain,” ia hamburkan asap pekat dari sudut kanan bibirnya, “hatiku sakit pas dia cerita kalau dia masih terbayang-bayang kenangan tentang aku dan dia. Aku terluka, dia terluka. Padahal dia sudah menikah dan aku juga sebentar lagi menikah,”
“Ndi, aku sama sekali nggak berniat buat ngungkit-ngungkit masa lalu kamu lho, aku cuma minta pendapat aja tentang ajakan Willy aja,” kataku segan melihat nanar di matanya.
“Santai aja Bell, ini cuma sekedar berbagai pengalaman hidup aja kok, nggak usah hawatir,”
“Oke,” sahutku tak enak, tapi juga penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Dari dulu, ada satu hal yang dijaga rapat-rapat olehnya dan sekarang ia membukanya.
“Kemarin emang aku masih emosional pas ketemu dia, susah buat nahan tanganku buat nggak nyekik dia,” jelasnya sambil terkekeh, “tapi pas hati mulai bicara dan mengurai satu persatu beban yang masih tersisa. Aku mulai ngerasa bebas dan lepas. Entahlah, ini terlalu filosofis ataupun klise, tapi saat itu aku sadar kalau kita memang nggak di takdirin buat jalanin hidup bareng-bareng di bawah satu atap. Apa yang kita berdua alami, karena memang sudah waktunya buat kita alami, memang prosesnya harus begitu sebelum akhirnya kita menjadi sahabat baik seperti sekarang. Memang butuh waktu buat nyembuhin hati masing-masing, tapi itu sepadan dengan hasilnya. Aku nggak lagi dendam sama dia, nggak lagi benci sama kenangan-kenangan kita dulu. Kita saling belajar, sadar kalau hubungan kita sudah sekarat dan nggak bisa lagi didaur ulang. Intinya ya, kalau memang sudah waktunya perpisahan itu adalah hal paling alamiah. Mau nggak mau, siap nggak siap, dia datang kaya pencabut nyawa,”
Aku mengangguk pelan, setuju dengan apa yang barusan dia katakan.
“Nah, kalau kamu siap, temui Willy, selesaikan semua perkara kalian, tuntasin apa yang belum tuntas menurutmu biar kalian sama-sama bebas. Perpisahan yang indah itu perpisahan yang kita terima dengan lapang dada Bell, dengan baik-baik saja, dengan pengertian, dengan kesadaran,”
“Oke deh Ndi, aku pikirin dulu baik-baik semuanya,”
“Dapet salam kamu Bell, dari anak-anak panti sama yang ada di rumah sakit. Katanya mereka kangen sama kamu, sudah hampir dua bulan nggak ketemu,”
“Wah, iya ek Ndi, udah lama aku nggak ketemu mereka. Kemarin kamu dari sana?”
“Iya, kemarin aku dari sana,”
“Tapikan kemarin bukan weekend Ndi, kok kamu kesana? Nggak biasanya kamu kaya gitu,”
Lalu ia tersenyum simpul, “Lagi pusing Bell, akhir-akhir ini kepalaku panas terus. Kaya mau meledak!”
“Resepsi kan masih dua bulan lagi Ndi, santai dikitlah,”
“Aku pengen hari itu sempurna Bell, makanya aku persiapin semuanya bener-bener,”
“Udah deh, biarin keluarga besarmu sama sahabat-sahabatmu yang ngurus hal ini. Kamu tenang aja, kamu tinggal ngomong, bakal langsung kita lakuin kok. Percayalah sama kita-kita, lagian Sandra juga udah punya nama dan latar belakang berkualitas buat ngurusin acaramu. Kamu yang santai aja,” kataku dengan nada gembira.
“Udah ketemu sama ibumu lagi?” tanya Andi semangat, sejak aku bercerita jika hubunganku sudah mulai mencair dengan ibu karena ulang tahun ponakanku, dia adalah orang yang paling sering bertanya tentang kelanjutan kabar kami berdua.
“Belum, habis ulang tahun ponakanku itu, terakhir ya pas aku nganterin dia belanja di pasar tradisional itu,”
“Nggak ada niat buat mampir ke rumah apa?”
“Aku belum siap buat ngadepin amukan ayahku Ndi, untuk sementara, ibu sama kakakku dulu nggak masalahlah. Pelan-pelan bos prosesnya,”
“Bukannya malah kasian ya kalau cuma bapakmu doang yang nggak tahu kalau hubungan kalian sudah mulai cair?”
“Sulit kalau mau buka hubungan sama dia, kepala sama hatinya sekeras batu,”
“Bukannya itu yang kamu turunin dari dia?”
“Ibu kemarin bilang bakal coba buka omongan tentangku sama ayah, dia juga nggak nyaman sama hubungan kita yang kaya gini. Dia ingin kita kaya dulu lagi, walaupun aku yakin kalau kita bakal bisa kaya dulu lagi. Aku berusaha nerima semuanya dengan lapang dada, mau pahit ataupun manis, aku cuma bisa nerima aja,”
“Aku seneng denger hubunganmu dengan ibumu membaik,”
Saat kami terdiam dan menyesap susu encer dengan hikmat, Andi menatapku lama, dengan sorot mata yang sulit untuk aku gambarkan. Entah sendu, entah trenyuh, tapi buat apa dia menatapku seperti itu?
“Ngapain sih kamu lihatin aku kaya gitu? Aneh tau nggak!”
Tapi Andi hanya tersenyum simpul sebelum menjawab, “Ada yang harus aku jelasin sama kamu Bell,” kata Andi dengan nada serius.
“Mau jelasin apaan sih? Sok serius banget kamu,”
“Ini tentang Willy dan hubungan kalian berdua,” jelasnya membetot seluruh perhatianku, “aku mau jelasin sesuatu tentang hal-hal yang nggak kamu tahu di masa lalu,”
Jantungku berdebar kencang. Sudah lama aku memiliki prasangka jika ada yang Andi sembunyikan dariku. Tapi aku tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ia sembunyikan.
“Aku, Sandra sama Willy yang ngatur tentang perpisahan kalian,” ungkap Andi langsung mendidihkan emosiku, sekuat tenaga aku tahan kepalan tanganku agar tak mendarat di wajahnya.


Kisah selanjutnya Klik disini




Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini