aku hanyalah...

5:21:00 AM Admin 0 Comments

 Aku hanyalah...
Oleh : Triztan Famous

Kita bertemu karena ayahmu.
Di saat kamu ulang tahun ke sebelas. Aku hanya tertegun melihat paras ayumu, sekilas kau terlihat seperti boneka barbie. Tersungging senyuman kecil di pipi kemerahan diantara rambut coklat emasmu, kau benar-benar bocah yang mempesona dalam lumatan gaun dan pita merah muda. Hampir menyerupai kotak kado berjalan.
Kau mengatakan padaku batapa lucunya diriku. Kau mengatakan betapa kerasnya usahamu untuk mendapatkan aku. Dan kau mengatakan betapa hebatnya kamu sekarang setelah memiliki diriku.
Kita mulai bersahabat. Bukan sahabat yang sebenarnya, tapi hanya sahabat pasif saja. Dikala kau butuh tempat untunk menuang berabagi umpatan kehidupan nyata yang seharusnya belum kamu alami. Kamu menanggis, dan terlelap memelukku. Kau selalu begitu, kau bilang jika pelukanku membuatmu tenang.
Kau juga selalu memelukku ketika menonton acara di depan tv, dengan segelas susu dan biskuit coklat yang tak pernah absen dalam prosesi sakral ini. Kau bahkan bisa menghabiskan untaian waktu dalam hari, hanya dengan duduk saja, bersamaku dan bersama cemilan yang tak hentinya tergerus masuk ke dalam organ pencernaan perutmu.
Satu tahun berlalu, dan sekarang kita memiliki ukuran yang sama, tubuh yang sama, dengan berat berbeda. Kau selalu membisikkan kata-kata jika kita memang terlahir kembar, jika aku dan kamu memang ada untuk bersama-sama.
Kerap kali kau bercerita tentang mimpi usai kau terbangun dari alam tidurmu. Kau bercerita tentang senangnya menjadi putri dengan balutan gaun indah, sebuah kastil mewah dan pangeran tampan dengan kuda berwarna putih cerah. Kebahagiaan membuncah di hati sebelasan tahunmu, aku tersenyum dalam sunggingan bahasa yang tak kau pahami, bercerita dan membalas pertanyaanmu dengan letupan kata yang tak akan pernah bisa kau mengerti.
Masa remaja menghampirimu, menggulirkanmu dalam pesona berjuta perasaan yang belum sepenuhnya kamu pahami. Aku tau kau tak bisa menampung ini sendirian tapi kadang sebuah cerita ataupun curahan tak bisa meluaskan daya tangkapmu untuk semua hal ini.
Jika ada yang tumbuh, selalu saja ada yang patah hanya untuk sebuah proses perputaran. Dan patah itu sekarang sedang menawanmu. Kau selalu terlelap dalam tubuhku, membenamkan wajahmu saat air mata yang tumpah karena cinta pertama. Kau bercerita tentang jutaan perasaan aneh yang menggantung di hatimu, bergelayutan dan jungkir balik hingga membuatmu tergagap, bahkan berulang megap-megap bagai ikan yang mencelat dan terdampar di daratan.
Cinta pertama telah pudar dikala kau berusia empat belas tahun, dia memutuskanmu dan kamu terpuruk karena hal itu. Hati kecilmu, cinta mungilmu dan rasa sakit yang terlalu dini membuatmu ambruk dalam ketidakberdayaan. Kau menaggis, kau bersedih dan kau pilu karena demam perasaan tak menentu. Aku sanggat peduli padamu, tapi untuk sekedar komunikasi saja aku tak punya daya. Aku ingin menghiburmu, menceritakan hal lucu dan bertingkah konyol demi senyummu, tapi aku hanya bisa membisu. Kau selalu bercerita secara gamblang kepadaku, tidak pernah tidak. Seluruh seri petualanganmu sudah ludes kulahap dalam rekam otak. Bahasa tubuhmu, garis wajahmu, dan tarikan senyummu yang mempesona selalu tak pernah memiliki niat untuk hijrah ke lain hati. Selain diriku.
Dunia mengalir, takdir bergulir, dan waktu membombardir.
Kita tetap bersama, selalu begitu dari dulu. Seperti ada lem yang mengikat kita dalam ikatan psikologis, kau tidak bisa tertidur jika tak ada aku, dan aku tak akan pernah bisa membuatmu melindur jika tak ada kamu. Kita tetap beradu kehangatan dan tetap berpelukan, walau kau selalu bercerita tentang beberapa orang kau sukai. Aku tidak cemburu, sama sekali tidak cemburu, karena aku tak mempunyai hak untuk memilikimu.
Kau masih berada di sisiku saja aku sanggat bersyukur, kau masih memelukku di kala kau terlelappun itu lebih dari cukup. Tak ada hal yang lebih indah selain melihat garis wajahmu dikala tidur. Menatap senyummu dikala pagi yang cerah. Kau selalu saja membuatku ketagihan dalam kebersamaan, rontokan rambut panjangmu, bau keringatmu, leguhan dalam mimpi indahmu ataupun kicauanmu saat melindur. Aku menyukainya, sungguh menyukainya.
Tapi apakah perbedaan dunia akan luluh jika kita bersama? Ataukah aku yang akan melumpuh sekiranya jika kita terus bersama? Kau di dunia manusia dan aku didunia benda mati. Akulah bantal yang setia menunggumu di kala tidur. Akulah benda mati yang selalu kau butuhkan untuk tetap ada. Aku hanyalah bantal kesukaanmu, benda bergambar tokoh kartun favoritmu, samsak tinju dikala kau jemu dan kumpulan kapuk yang kau peluk dikala kegembiraan terpupuk.

0 komentar: