Review : Istirahatlah Kata-Kata

2:18:00 AM Admin 0 Comments



Review : Istirahatlah Kata-Kata

Saya mengenal Wiji Thukul karena doktrin seorang mentor dalam banyak hal, dia memujanya seperti memuja Pramudya Ananta Toer, tapi saya merasa dia lebih menggilai Thukul daripada Pram. Film ini saya niatkan untuk membuka lembaran manis saya menonton film Indonesia di tahun ini sebelum saya dijebak teman-teman muda dewasa yang masih sering kumat alaynya untuk menonton drama paling nggak penting di awal tahun, Promise. FTV yang di pindah ke bioskop, bahkan saya melihat banyak FTV lebih bagus daripada film Promise yang hanya bisa nikmati setting luar negerinya saja, kembali lagi ke Istirahatlah Kata-Kata.
Istirahatlah Kata-Kata mengupas tentang Wiji Thukul yang terkenal menyuarakan keadilan pada rezim Orde Baru, dia dituduh bertangung jawab dibalik pengerahan massa seperti beberapa aktifis lainnya hingga dia harus meninggalkan istri dan anaknya di Solo dan bersembunyi di Pontianak selama kurang lebih delapan bulan dan kini tak diketahui keberadaannya. Selama di Pontianak, secara berkala dia harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari intel dan aparat. Di Solo, istri dan anak-anaknya bahkan di interogasi untuk memperoleh keberadaannya. Film ini kebanyakan sepi, mencekam penonton degan rasa tak nyaman karena kesepian itu sendiri. Sepi yang membantu kita untuk menyelami bagaimana situasi Thukul saat sendiri, bagaimana paranoidnya dia jika disergap diam-diam yang membuat penonton semakin tak nyaman.
Adalah akting brilian Gunawan Maryanto yang fasih menerjemahkan gerak-gerik, ekspresi wajah, dan laku Thukul dengan begitu mempesona, dan jangan lupa saat dia mengalunkan puisi-puisinya yang membuat hati kita tersayat-sayat. Bagaimana rindunya dia untuk bertemu Sipon yang dimainkan begitu luwes oleh Marissa Anita dan peran-peran pendukung yang pas dan tak mubaazir. Hingga akhirnya kita akan dihantam oleh emosi besar saat film ini berakhir.
Saya yakin para aktifis di Indonesia tahu betul siapa Wiji Thukul seperti mereka tahu siapa Pramudya itu sendiri, tapi film ini penting untuk generasi muda seperti saya untuk tetap mengingat bagaimana dia berjuang, melawan dengan kata-kata hingga akhirnya lenyap entah dimana. Dan meninggalkan kata-kata yang dipaksa untuk beristirahat.
Film ini seindah puisi, tanpa musikalitas berlebihan tapi pas dan kebanyakan menghadirkan sunyi. Begitu pula dengan jalan ceritanya yang lamban, dan penuh dengan adegan one take yang menakjubkan, luar biasa dan cantik sekali. Belum lagi dengan deretan dialog natural dari para pemerannya, puisi-puisi yang dinarasikan dengan menyayat hati, duh, beneran film juara, film ini benar-benar penghormatan bagi Wiji Thukul. Mengingatkan saya akan film-film bangsat Indonesia tahun lalu, Atirah, A copy of My Mine dan Surat Dari Praha, film dengan kualitas diatas rata-rata tapi mendapat jatah layar di bawah rata-rata film-film sok baper yang nggak berguna.
Memang, tipikal film seperti ini bukan untuk dikonsumsi banyak orang karena mengalun lambat, sunyi penuh bahasa gambar absurd tapi punya maksut tertentu dan berhasil menggambarkan suasana pengasingan Thukul dengan kenunyian dan paranoid intel dan aparat keamanan yang mencari dirinya. Benar-benar film super yang akhirnya mampu membawa mood saya kembali cerah untuk menonton film-film Indonesia lagi. Film ini penting, berdialog natural, berakting juara, dan sangat puitis. Jauh dari glorifikasi dan sangat membumi. Indah.
Ayo cepat ke bioskop, sebelum ini turun dari layar. Biasanya film-film seperti ini tak akan sampai dua minggu karena sepi peminat. Andai, film-film seperti ini mendapatkan jatah layar lebih banyak di bioskop J



Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai. Puisi singkat tersebut membuat Thomas dan Martin, kedua sahabat Wiji Thukul, spontan tertawa. Saya juga ikut tergelitik tanpa menyadari makna dahsyat yang terkandung dalam puisi tersebut. Tampak seperti lelucon, tetapi kemudian olahan kata ciptaan si penyair kerempeng yang sedang melarikan diri dari kejaran rezim bangsat tersebut, lambat laun berhasil menghantui saya sewaktu sedang asyik-asyiknya buang hajat. Lebih menghantui ketimbang adegan kepala nongol dari toiletdi film Telaga Angker (1984), mimpi buruk tersebut bikin saya tidak berani berak malam-malam sewaktu kecil. Orang yang merdeka itu bisa berak kapanpun dia mau, tanpa harus terpenjarakan oleh rasa takut. Orang merdeka itu beraknya tidak perlu sembunyi-sembunyi, karena takut digerebek sama aparat. Istirahatlah Kata-Kata itu menyadarkan arti bebas dan merdeka, meskipun Yosep Anggi Noen menjelaskan hanya bermodal adegan Wiji Thukul jongkok berak sambil cengar-cengir berbisik “bau tai” kepada Sipon. Bahasa visual Anggi dan kekuatan kata-kata Wiji Thukul kompakan menciptakan kedahsyatan dalam Istirahatlah Kata-Kata.
Sebait kisah pelarian Wiji Thukul sampai ke Pontianak memang disampaikan tak banyak bicara, tapi selama 90-an menit, dengan penampakan yang sederhana itu, Anggi danIstirahatlah Kata-Kata-nya mampu membuat saya mengerti beraneka ragam rasa yang terperangkap dalam raut muka seorang Wiji Thukul. Rasa yang nantinya akan terbebas kala Wiji Thukul melampiaskannya di atas secarik kertas kucel. Istirahatlah Kata-Katamenyiulkan kegetiran yang tersembunyi di antara kesunyian. Menyuarakan kepedihan yang terbungkam dalam kebisuan. Bisikkan kepiluan yang tergeletak tertutup oleh bayang-bayang malam. Istirahatlah Kata-Kata pun meneriakkan ketidakadilan yang semakin mencekik kala listrik sedang padam. Namun nyanyian perlawanan tidak akan pernah bisa dipadamkan, masih ada terang cahaya lilin hasil beli di warung. Istirahatlah Kata-Kataadalah sebuah peringatan, mengingatkan lagi bahwa dulu negeri ini pernah punya masa dimana orang bisa terenggut kemerdekaannya untuk berak dengan tenang, hanya karena dia membuat puisi jujur tentang rezim yang zalim. Rezim yang takut dengan laki-laki ceking yang berani berkata-kata soal kebenaran.
Dalam Istirahatlah Kata-Kata, kita tidak sekedar menonton, tapi diajak berdialog, mengobrol, layaknya adegan Wiji Thukul bercengkrama dengan dua sahabatnya di pinggiran sungai Kapuas. Blak-blakan bercerita, tidak melulu harus serius tapi adakalanya dibawa duduk santai dengan seteguk guyon dan cemilan humor, agar kita bisa sedikit nyengir memperlihatkan gigi-gigi yang kuning. Obrolan yang tak selalu berkomunikasi lewat kata, meski begitu Anggi mampu menyampaikan apa yang sedang dirasakan oleh Wiji Thukul, bukan hanya tentang ketakutan bakalan ditangkap, tapi juga soal kerinduan dengan Sipon. Istirahatlah Kata-Kata tak mau kalah dengan Habibie & Ainun, maka Anggi turut juga mencelupkan kisah asmara sepasang suami istri yang terpaksa terpisah jarak. Cinta-cintaan yang tidak pakai adegan hiperbolik untuk mengungkapkan rasa sayang, sesederhana membelikan istrinya sebuah celana sebagai oleh-oleh, bagian manisnya adalah Wiji tidak lupa untuk mencucinya terlebih dahulu. Istirahatlah Kata-Kata membuat kita tak saja dekat dengan sosok Wiji Thukul, sisi emosional kita pun “dipaksa” untuk melekat dengan hubungan antara Wiji dan istrinya, Sipon.
Wiji Thukul mengambilkan segelas air untuk menenangkan Sipon, dia lalu pergi, dalam hati saya berharap Wiji kembali dari dapur membawa kacang goreng, lalu film berakhir bahagia. Detik demi detik berlalu, tapi batang hidung peseknya tak kunjung muncul, barangkali Wiji sedang berak, saya masih berharap dia muncul. Setelah Sipon menyudahi tangisnya, dia berdiri berlanjut dengan menyapu, layar kemudian gelap. Ah! tai benar Anggi dengan segala metafora bangsatnya. Adegan pamungkas di Istirahatlah Kata-Katatersebut mungkin akan berbeda efek serta rasanya, apabila Anggi tidak berusaha membuat kita lengket dengan Wiji Thukul dan Sipon, yang dilakonkan Gunawan Maryanto dan Marissa Anita dengan penuh penjiwaan, performa dengan totalitas yang menggetarkan. Istirahatlah Kata-Kata benar-benar mengesankan bukan sekedar karena adegan penutup yang berhasil menghantam dan menghancurkan, keseluruhan durasinya dibuat penting, semua adegan menyatu untuk membuat film ini menjadi tontonan yang istimewa. Karya yang memberi penghormatan sekaligus penolakan untuk melupakan. Karya yang menyadarkan sekaligus mengingatkan.

0 komentar:

Pelepasan Remah 39

12:00:00 AM Admin 0 Comments



Pelepasan
Remah 39


Kisah sebelumnya Klik disini



Aku mengeleng-geleng tak percaya saat ia kembali menjelaskan, pandanganku menjadi samar, batinku bergejolak, “ini pilihan yang sulit untuk kita semua, tapi kita nggak bisa nolak permintaan ibumu. Dia mohon-mohon sama kita buat maksa kamu pulang ke rumah dan mengakhiri hubunganmu dengan Willy, dia ingin kamu kembali Bell,”
“ASU KOE NDI!!!,” kutukku tajam, emosi melumat penuh tubuhku. Kutahan tanganku untuk tak menghantamkan barang-barang di depanku di wajahnya, “aku hampir mati gara-gara kalian semua!” lanjutku dengan nada meninggi, “aku nggak habis pikir! Kalian kok bisa setega itu sama aku? Aku bukan kelinci percobaan Ndi! Aku punya hati, aku punya perasaan! Ngehek banget jadi orang!”
“Aku ngelakuin hal itu juga karena aku punya alasan Bell,” katanya melembut, berusaha menenangkan hatiku yang kalut, “kita juga mikir itu lama, nggak langsung iyain aja permintaan ibumu gitu aja,”
Aku sama sekali tak percaya. Aku mulai memiliki alasan untuk membencinya, mataku mulai berkaca-kaca, nafasku hadir tak beraturan, aku masih kesulitan menerima hal ini. Aku membenci kenyataan ini,  “Alasan tai! Koe ki wong seng paling tak percoyo jobo jero Ndi, bosokku koe reti kabeh. Uripku tak ceritakke karo koe kabeh. Koe kok tegel men karo aku?” kutangkupkan telapak tangan untuk menutupi wajahku, “tujuh bulan lebih aku nggak fungsi jadi manusia, nggak bisa ngapa-ngapain karena sakit hati yang kalian rencanakan? Bangsat banget sih kalian jadi manusia!”
Air mataku mulai merembes lagi, padahal sudah lama aku damai dengan air mata itu. Rasa benci bergumul di dalam dadaku. Aku merasa seperti pecundang. Pecundang yang di permainkan.
“Gini lho Bell,” katanya lembut, berusaha menyentuh hatiku, “menurut Willy, sudah waktunya kamu buat rekonsiliasi sama keluargamu. Dia yang jadi saksi betapa sesunguhnya kamu masih butuh keluargamu dan rindu sama mereka. Aku, Willy, Sandra sama anak-anak emang keluargamu Bell, tapi nggak bakal ada yang bisa mutusin ikatan biologis. Sekuat apapun kamu nyangkal, mereka tetep keluarga kamu. Setiap orang pasti berbuat salah Bell, tapi kita nggak bisa meninggalkan keluarga,”
“Taik!” kataku penuh emosi sebelum meninggalkannnya sendirian.
Aku marah. Aku marah terhadap banyak hal. Aku marah terhadap Andi, Sandra, Ibuku, bahkan aku marah terhadap Willy karena menyutujui rencana bodoh itu. Rencana yang menempatkan diriku sebagai pecundang tempat percobaan mereka. Aku benar-benar benci semua hal itu. Bangsat! Tai! Ngehe! Gimana bisa aku sebodoh ini? Sama sekali tak bisa membaca apa yang mereka sembunyikan dariku?
FUCKKK!!!
Aku berteriak seperti binatang terluka di parkiran cafe sebelum memacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi di jalanan Solo yang mulai memadat. Aku tak bisa berfikir jernih. Emosi menguasai setiap sendi di tubuhku. Aku mengutuk diriku sendiri, memisuhi banyak orang. Berteriak-teriak sepanjang jalan. Aku kacau, aku bodoh, aku pecundang. Bajingan! Aku merasa muak dengan diriku sendiri.
ASU.
Aku sama sekali tak menyangka jika orang-orang yang aku percayai bisa memperlakukanku seanjing ini. Apa mereka fikir aku manekin tak berperasaan? Bagaimana kalau aku meninggal saat itu dan sama sekali tak mengetahui fakta ini? Apakah mereka akan bertepuk tangan karena berhasil memecundangiku?
NGEHEK!
Sepanjang jalan aku merutuk, mencaci dan terus berteriak tak karuan. Aku harus meluapkan emosi ini. Tai, bagaimana bisa aku sebodoh ini? Aku kecewa dengan mereka semua, kecewa dengan ibuku, kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa dulu aku tak berjuang lebih untuk menyakinkannya terus disisiku? Kenapa dulu aku hanya pasrah dan tak meminta penjelasan? Kenapa aku dulu tak menyusulnya ke Bandung? Anjing, kenapa aku segoblok ini?
Motorku berhenti di taman Balaikambang, kuputuskan untuk menenangkan diri disana. Pikiranku masih kacau dan emosi melumat habis tubuhku. Aku benci kenyataan ini. Apa yang harus aku lakukan jika orang-orang bangsat itu memang menginginkanku seperti ini? Notifikasi pesan masuk menyadarkanku.

Nggak ada rencana buat OD atau bunuh diri lagikan?
Pesan Keenan langsung menohokku. Aku tertawa getir, jika saat itu aku mati, hubunganku dengan kakakku ini tak akan seperti ini.

Nggak ada, mau jadi saksi bunuh diriku lewat streaming?
Jawabku sebal, pasti Andi yang menghubunginya.

Bentar-bentar, aku cariin lcd yang gede biar ponakan-ponakanmu bisa nonton bareng uncle-nya bunuh diri.
Detik berikutnya ia menelfonku melalui Skype dengan anak-anaknya yang berkulit putih dan bermata kelabu dan yang satu bermata sepertiku, mereka menghubungiku lewat smart TV di ruang keluarga. Sebisa mungkin aku tahan emosi yang melumat tubuhku, aku tak ingin tampil kacau di depan ponakan-ponakanku.
Wajah Keenan memenuhi layar sebelum mengoper layarnya ke wajah anak-anak disampingnya, “Kenalin Bell, ini ponakanmu, yang cowok namanya Jalu dan yang cewek namanya Gendhis,” jelasnya bangga mengenalkanku pertama kali dengan anak-anaknya yang bertubuh gempal dan lucu, membuat emosi yang bertahta di hatiku sedikit runtuh. Kudengar anak-anak itu ceriwis memakai bahasa Indonesia.
“Mereka pakai bahasa Indonesia?” tanyaku penasaran.
“Yups, Ibunya yang ngajarin pakai bahasa Inggris, sedangkan aku ke jatah ngajarin mereka bahasa Jawa dan bahasa Indonesia,”
Aku terpukau, “Hallo Jalu, hallo Gendhis!” sapaku dengan senyum merekah. Sebisa mungkin tak menampakkan jejak emosi di wajahku.
Mereka menyambutku dengan lambaian tangan dan senyum yang membuatku tersetrum untuk tersenyum lebih lebar.
“Hallo uncle,” jawab Gendhis lucu, “Kata ayah kita nanti pas natal mau ke Indonesia ketemu sama Grandma Grandpa,”
“Pas natal?” tanyaku terusik, “kalian mau liburan disini?” tanyaku meminta kepastian.
Keenan kembali mengambil kendali, “Aku di sini ikut agama istriku Bell, baru ibu yang tahu kalau aku pindah agama. Natal nanti kita kumpul bareng ya?” tawar Andi kusambut dengan senyum tak pasti, Keenan lalu meminta Jalu dan Gendhis ke luar rumah menyusul ibunya, “kamu kenapa Bell? Lagi ada masalah?” katanya dengan mimik serius.
“Andi nggak cerita sebelum hubungin kamu?” tanyaku langung.
“Enggak, dia cuma bilang hawatir kamu ngapa-ngapain terus minta aku buat telfon kamu buat mastiin kamu baik-baik saja. Ada problem apa lagi Bell?” tanyanya mendesak. Sejak peristiwa bunuh diriku yang gagal itu, Keenan memang selalu berusaha meluangkan waktu untuk menghubungiku melalui pesan instan ataupun telefon singkat.
“Ibu yang minta Willy buat ngakhiri hubunganku sama dia, terus Andi, Sandra –kakaknya Willy- sama Andi yang nyetting semuanya sampai akhirnya aku gagal bunuh diri kemarin, itu semua ternyata cuma hasil kong-kalikong orang-orang yang aku kasih kepercayaan di hidupku. Dan aku sakit hati banget sama mereka gara-gara hal itu,” jelasku dengan raut wajah buram. Aku merasa jika aku tak bisa berdamai dengan orang-orang itu setelah hal ini.
Damn, itu pasti menyakitkan buat kamu,” kata Keenan kujawab dengan satu anggukan, gemuruh emosi masih kurasakan di dalam relung dadaku, “aku nggak tahu apa yang bakal aku omongin sama kamu, tapi ibu ya emang kaya gitu. Yang ibu sama kamu butuhkan sebenernya cuma obrolan hati ke hati lho Bell, jadi biar kalian berdua bisa saling memahami satu sama lain dan nggak langsung ngambil langkah frontal hingga saling menyakiti. Tapi, bukannya kamu sama ibu udah baikan ya? Soalnya beberapa hari yang lalu ibu cerita gitu,”
“Iya, aku emang sudah baikan sama ibu,” jelasku dengan nada bingung, “tapi setelah denger penjelasan Andi, aku nggak lagi yakin kalau itu yang aku butuhkan, atau itu bentuk pelampiasan. Yang pasti, Aku nggak yangka mereka bakal tega buat ngelakuin hal itu sama aku bang. Aku sakit hati banget sama mereka bang,”
“Aku yakin mereka juga nggak bakal tega sama kamu kok Bell, mungkin faktor permintaan ibu yang nggak bisa mereka tolak yang jadi pemicunya. Jangan sampai hal ini buat rengang hubunganmu sama ibu lagi ya, ibu ngelakuin hal itu pasti nggak berniat buat misahin kamu sama Willy, dia cuma ingin kamu pulang dan jalin hubungan yang baik sama orang tua aja. Dia kehilangan dua orang anak Bell, dan ayah nggak bakal minta kita buat pulang ke rumah, jadi wajarlah dia ngelakuin apa aja biar bisa buat kamu kembali ke rumah, soalnya aku nggak mungkin lagi tinggal di rumah itu. Aku sudah punya rumah dan bangun kehidupan disini,”
Aku masih tak terima dengan penjelasan Keenan, “Tapi caranya nggak gitu juga bang,” tambahku frustasi, “jangan-jangan kamu juga tahu bang tentang hal ini?” tanyaku sengit.
Keenan terkekeh menghadapi tuduhan kekanakanku, “Aku berani sumpah demi apapun, aku nggak tahu hal ini sama sekali. Ibu cuma bilang kalau dia pengin kamu pulang ke rumah aja, nggak lebih nggak kurang. Tapi apapun yang udah ibu lakuin, yang pentingkan hubunganmu sama dia udah baik lagi Bell,”
Aku terdiam lama, pendanganku terhampar jauh di danau di depanku.
“Tapi setelah aku tahu kenyataan ini, aku nggak lagi yakin kalau aku bisa jalin hubungan baik sama ibu bang,”
“Usahain jangan sampai hal ini ngrusak hubunganmu sama ibu sekarang Bell, kasian ibu, setelah Sherin pindah dari rumah, dia ngerasa kesepian,” jelas Keenan memelas, berusaha mengais iba dari dalam hatiku, “aku, kamu, ayah, adalah orang-orang yang harus di gampar biar bisa sadar. Kita bertiga sama-sama keras kepala, bedanya ayah menua dan menjadi kolot, dan kita adalah orang yang masih bisa mengikuti perubahan. Maafin ibu sama temen-temenmu, buat apa kamu memendam dendam dan benci di dalam hati? Pikirin itu semua baik-baik Bell, gimana kalau kamu ada di posisi temen-temenmu itu, gimana posisi Willy, dan gimana sudut pandang ibu dalam melihat ini semua. Luka seorang ibu lebih parah daripada luka seorang ayah lho Bell, jangan egois,”
Aku ingin membalasnya, tapi tak ada satupun kata-kata yang meluncur dari bibirku. Tenggorokanku seakan-akan terkunci rapat, menyendat kalimat yang akan mengelincir liar. Aku juga sedang tak mood untuk mendebatnya.
“Jangan sampe masalah ini ngrusak hubunganmu dan ibu yang sudah susah-susah kamu bangun lagi, kamu anak laki Bell, lapangin dadamu, jangan jadi pendendam, jadilah manusia pemaaf. Lagian pasti temen-temenmukan yang ada pas kali lagi down, jangan gara-gara satu masalah, hubunganmu dengan mereka hancur. Inget yang baik-baik aja tentang mereka, manusia tempatnya salah, nggak ada yang sempurna, saling menerima dan menghormati satu sama lain itu adalah langkah terbaik daripada memperdebatkan apa yang sudah jelas-jelas beda dan salah,”
“Aku pikirin dulu semuanya bang,”
“Pake hati jugaya, jangan cuma pake emosi,”
“Iya,” sahutku lemas, “salam buat Jalu sama Gendhis,”
“Iya, jangan lupa nanti kita ngerayain natal bareng-bareng, nanti kita hadapi ayah sama-sama Bell,”
“Kamu masih takut ya sama ayah?” tanyaku usil.
“Emangnya kamu enggak?”
“Ya takut sih, tapikan kamu punya Jalu sama Gendhis, seenggaknya ayah nggak bakal damprat kamu di depan cucunya,”
“Mereka ke Indonesia bukan buat aku jadiin tameng kali Bell. Ibu yang minta aku pulang, dia pengen ketemu cucu-cucunya, aku nggak bisa nolak permintaan itu. Lagian anak-anak juga pengin kenal kakek-neneknya,”
Setelah ngobrol ngalor-ngidul belasan menit kemudian, Keenan menyudahi panggilan dan memintaku untuk memikirkan ulang semuanya. Kuhubungi Sobey untuk menemaniku.
Matahari terbenam dan aku sudah berada di Alun-Alun Kidul untuk mencari jajanan ringan pengganjal perut bersama Sobey, kebetulan dia sedang berada di Solo, jadi dia dapat menemuiku dengan cepat. Hampir satu jam dia mendengar unek-unekku hingga tak ada lagi yang dapat aku ceritakan lagi, hatiku sedikit melonggar setelah bertemu dengannya. Setelah puas curhat dan jajan makanan ringan di tempat itu, kita berdua lalu makan malam di kedai Mie Angklung daerah Kartasura. Sebelum akhirnya mampir di kedai susu daerah UMS, hanya untuk menghabiskan waktu bersama.
“Kamu punya perasaan sama aku Bey?” tembakku langsung, selain dengan Willy dan Andi, aku tak pernah menjalin hubungan sedekat ini dengan seseorang. Pertanyaan Andi beberapa hari di cafelah yang memicu pikiranku tentang hal ini.
Ia kaget, tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dariku. Sorot matanya menelusuri wajahku, mencari-cari jejak canda disana.
“Bell, kalau kamu-”
“-Ini pertanyaan serius kok,” sahutku langsung.
I don’t now Bell, kita emang sering jalan bareng akhir-akhir ini, karena kita sama-sama patah hati dan butuh hiburan,” jelasnya sambil menatap langsung mataku, “aku nggak bisa jawab pertanyaanmu itu, aku masih punya perasaan sama mantanku kaya kamu masih nyimpen rasa buat Willy. Kalau aku jawab iya, aku takut itu cuma sekedar pelampiasan aja. Tapi, aku nyaman sama kamu, dan itu fakta,” tambahnya sambil menyungingkan senyum untukku.
Aku membalas senyumannya, “Dan ini juga fakta Bey, aku juga nyaman sama kamu. Bukan karena aku butuh pelampiasan atau apapun, tapi karena aku sulit terbuka dengan banyak orang, dan kamu adalah pengecualian. Kamu membuatku bebas menjadi diri sendiri,”
“Habis ini mau kemana?” tanya Sobey menantangku. Matanya berkilat, pertanda jika malam ini akan menjadi malam yang panjang, “Surabaya, Bandung atau Bali?”
“Gila!” sahutku penuh semangat, “aku nggak bisa libur seenak hati kaya gitu!”
“Yaudah gini aja kalau gitu,” katanya membuat ulang rencana, “Jogja atau Semarang? Kalau yang ini pasti kamu mau,” tambahnya sedikit memaksaku.
“Jogja. Pantai. Kamu yang nyetir. Aku capek banget hari ini,” kataku membuat penawaran.
“Nggak masalah, deal?”
Deal!”
Setelah memarkirkan motorku di rumah, aku langsung mengepak barang-barang yang aku butuhkan, baju ganti, peralatan mandi dan lain-lain. Tenda dan beragam makanan ringan sudah Sobey taruh di bagasi belakang saat aku mengunci gerbang dan langsung membenamkan diri di kursi depan, memutar musik EDM kencang-kencang dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Kisah selanjutnya Klik disini



Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

0 komentar: