Pelepasan Remah 43

9:47:00 AM Admin 3 Comments





Pelepasan
Remah 43

Kisah sebelumnya Klik disini


#Willy

Dia seperti bait lagu yang belum usai.
Diantara ribuan manusia di dunia maya, mataku langsung tertambat kepadanya. Ku lihat kembali sepasang matanya, mata dengan warna kuning keemasan berbingkai warna biru pudar. Softlens? Tanyaku mengerinyit. Tak pernah aku setuju dengan konsep lelaki yang memakai lensa mata. Tapi dia memiliki sesuatu yang beda, entah apa, tapi membuatku tertarik dan penasaran. Lalu langsung aku kirimkan pesan singkat saat dia sedang online, beberapa detik kemudian dia menjawab. Itulah tahap pertama hubungan kami.
Dia membalasku dengan hangat dan menyenangkan, pertama memang hanya sekedar basa-basi, tapi kemudian menjadi kebiasaan dan doping baru di hidupku. Setiap bagun tidur, aku langsung meraih handphoneku dan mengecek akun medsosnya, atau sekedar mengiriminya pesan singkat sebagai pemacu semangat untuk diriku sendiri. Setelah itu, barulah aku memulai aktifitas seperti biasa. Ketika malam menjelang, pesan singkat darinya manjur untuk membuatku mimpi indah dan terbangun dengan senyum tercetak di wajah.
Satu bulan, dua bulan, enam bulan, satu tahun, aku belum berhasil mengajaknya keluar. Semakin lama dia semakin menantang untuk aku taklukkan, semakin menggebu hasratku untuk mendapatkannya. Untuk aku miliki seorang diri. Selalu saja sibuk, entah urusan cafe yang sedang dia bangun atau tentang beragam langkah dan target yang ia persiapkan ke depan. Ia selalu menolakku saat aku ingin mengajaknya makan atau nonton bersama. Padahal aku tahu jika dia tergila-gila terhadap film, atau sekedar jalan bersama menemaninya ke toko buku, tapi tak apalah, mungkin lain kali ia punya waktu longgar.
Satu tahun berlalu, kami mulai saling membuka diri. Mulai menjajaki masing-masing pribadi. Tapi satu hal yang membuatnya beda dengan banyak orang yang aku kenal. Dia terobsesi akan banyak hal, dia terobsesi akan cafenya, terobsesi akan buku, terobsesi akan fotografi, film, dan mungkin terobsesi dengan obsesi itu sendiri. Tapi yang jelas, itu yang membuatku terobsesi dengannya. Dia berfikiran terbuka dan berwawasan luas, jadi kita tak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Terlebih aku suka dengan sudut pandangnya.
Satu tahun lebih menjalin komunikasi, dia mulai membuka diri dan aku baru tahu jika dia banyak menyembunyikan luka. Ternyata dia menyibukan diri untuk menutupi banyak hal di masa lalunya. Dia membuat dirinya terobsesi akan banyak hal karena masa lalunya. Aku baru tahu kalau dia membuang diri dari keluarganya setelah mengakui sebagai gay. Dia juga mempersalahkan tentang sudut padang orang tuanya akan Tuhan. Bagaimana dia di jadikan objek pelampiasan keinginan keluarganya akan banyak hal hingga akhirnya dia muak dan meledak pada satu malam.
Malam itu, aku melihat sosok rapuh yang hadir di dirinya. Sosok yang membuatnya nampak seperti bait lagu yang belum usai. Seseorang yang menyibak kabut di masalalunya dengan suara bercamput tangis di ujung sambungan telefon.

. . . . # # # . . . ...

Beberapa hari setelah hari sakral itu. Aku mempunyai kebiasaan baru. Aku sengaja mengintai sosoknya dari seberang jalan, walau sudah lebih satu tahun kami saling kenal. Dia masih belum mau bertatap muka, jadi aku nekat ingin melihatnya walau dari kejauhan. Di bawah tenda warung kopi di depan cafenya, aku puaskan hasratku melihatnya.
Aku perhatikan benar-benar bagaimana dia turun dari motor matic warna putihnya, cara berjalan menuju cafe, ekspresi wajahnya saat bertemu dengan kariyawannya. Saat dia membantu kariyawannya menata kursi dan meja kayu di teras depan cafe. Bahkan dia membantu kariyawannya mengelap meja dan kursi di teras cafenya. Ia nampak ceria, membuat sekitarnya bahagia, dan aku juga bahagia melihatnya. Dia terlihat begitu hidup. Aku bahagia melihatnya bahagia.
Sebelum terlelap, aku biasakan diri untuk intropeksi diri, kebiasaan itu berubah sejak aku terobsesi satu orang. Aku mendadak menjadi manusia konyol karena satu orang. Pernah nggak kamu ngerasa kaya gini? Satu tahun menjalin hubungan di dunia maya hanya bertukar sapa, menghormati keputusannya untuk tidak membaurkan dua dunia dan kau hanya bisa menatapnya dari kejauhan, melihatnya tersenyum, dan nampak bahagia, membuat dadamu terdera rasa bunggah hingga ingin meledak? Lalu berjingkrak-jingkrak kegirangan? Dan merasa seakan-akan kau tak mengingikan apa-apa lagi. Dia, hanya dengan sebuah senyuman yang aku tatap dari kejauhan, berhasil mencuri detak jantungku. Tak pernah aku merasa seperti ini sebelumnya.
Aku harus mendapatkan hatinya.
Ralat, aku harus mendapatkan keseluruhan dirinya.
Kami sama-sama menetap di Solo, sangat mudah jika kami ingin bertatap muka atau sekedar bersalaman sebagai seorang teman. Tapi dia membuatnya seakan-akan kami tinggal di beda negara. Membuat status pendekatan serasa menjalin hubungan sejauh ribuan kilometer. Dan anehnya aku mematuhinya kurang lebih satu tahun belakangan ini, bagaimana bisa dia mengendalikanku seperti ini? Sejatuh cinta itukah aku dengannya? Mungkin karena hal itu juga yang membuatku terobsesi kepadanya.
Aku ingin terbenam di matanya.
Saat berbicara dengan orang lain, aku selalu menatap langsung matanya. Ada kabut di matanya saat kami pertama kali jumpa. Kabut yang ingin kusibak. Ia selalu menghindar saat mata kita saling tatap. Ada rasa malu, rapuh, dan rikuh yang ia tutupi lewat senyumnya. Senyumnya istimewa, tapi ada kesedihan yang mengantung setelahnya. Seringkali ia terlihat cangung dan kurang nyaman, dan aku selalu berjuang untuk memimbulkan tawa, agar ia sedikit santai menghadapi hidup.
Matahari memangang bumi dan tiba-tiba petir menyambar.
Pernah aku memikirkan hal ini sejak dulu, tapi selalu berakhir dengan solusi tak baik. Sekuat apapun kami berjuang, dongeng kami tak akan memiliki akhir bahagia. Padahal yang aku minta hanya akhir yang indah, untukku dan untuknya.
Petir siang bolong itu menyambar lewat pemberitahuan singkat sahabatku.

. . . . # # # . . . ...

Akhirnya, aku setujui permintaan bangsat itu.
Aku temui sosok samar di balik hubunganku dan Abell. Sosok yang selama ini menjadi bayangan. Di salah satu bilik bersekat restoran ternama, aku duduk merunduk di depannya. Sekilas kutatap iris mata yang nampak persis seperti iris kekasihku. Kami berjabat tangan singkat sebelum akhirnya dia menyuruhku duduk di depannya. Sore itu, suasana di restauran tidak terlalu ramai, tapi hening. Hening yang mungkin bagi banyak orang elegan. Tapi bagi orang di posisiku, hening ini menjadi penyiksa.
Hampir dua
“Saya tahu kamu sudah menjalin hubungan dengan anak saya beberapa tahun terakhir,” ucapnya membuka keheningan, kata-katanya begitu tertata, mungkin sudah dipersiapkan matang sebelumnya, “sejak dia memutuskan untuk keluar rumah, saya selalu memantau dia melalui orang-orang terdekat. Saya tahu bagaimana dia terluka, bagaimana dia berusaha bangkit dan menyetabilkan hidupnya seperti sekarang. Dia anak terakhir di keluarga saya dan anak yang paling membanggakan bagi saya. Saya tak ingin basa-basi dengan kamu Willy. Saya ingin dia kembali pulang ke rumah dan menjalin hubungan baik lagi dengan orang tuanya, sudah cukup dia hidup di jalan ini. Saya ingin meminta bantuan kamu Willy,” tambahnya penuh penekanan.
“Bantuan gimana Tante?” tanyaku dengan suara serak. Sejak masuk restauran ini, aku sudah tak nyaman dengan tempat ini, atau tak nyaman dengan orang yang kutemui ini? Aku ingin segera minggat dari tempat ini.
Hembusan nafas berat menjadi pemula, “Saya minta kamu agar Abell kembali ke rumah, saya ingin keluarga saya utuh seperti semula, tidak retak seperti ini. Nggak ada orang tua yang ingin keluarganya berantakan dan anaknya nggak ada di jalur yang benar,”
“Saya nggak yakin bisa bantu tante apa enggak,” jawabku lugas, Abell bukanlah tipe orang yang mudah dibelokkan keinginannya. Bahkan kadang cenderung keras kepala.
Sebersit emosi berkilat di matanya, “Apa kamu nggak ingin lihat Abell kembali ke jalan yang benar Willy? Kalau kamu sayang sama dia, seharusnya kamu melepaskan dia, bukan mengikatnya. Nggak ada orang tua yang tak menderita melihat anaknya seperti itu. Saya ingin lihat dia menjalin hubungan dengan wanita, lalu menikah, punya anak dan bertangung jawab selayaknya seorang kepala keluarga. Tidak hidup seperti ini,”
“Hidup seperti apa Tante?” tanyaku sebisa mungkin menekan emosi dalam suaraku.
“Agama kamu apa Willy? Di agama saya, apa yang kalian jalani itu salah,”
“Saya dan Abell sepakat untuk menjalankan hal-hal baik dari beberapa agama di dalam kehidupan kami, tante,”
“Saya yakin kamu berpendidikan cukup begitu pula Abell. Bagaimana bisa kalian melakukan hal seperti itu? Kalian berdua terlalu melenceng! Menyalahi kodrat!”
Tapi aku memutuskan untuk tak terlumat emosi, aku ingin kamu berdua bisa berbicara dari hati ke hati. Dengan nada merendah aku mulai berusaha, “Kenapa Tante nggak bisa menghargai pilihan anak Tante sendiri? Dengan sadar dan penuh pertimbangan, Abell memilih jalan itu, dan dia bahagia. Karena bisa menjadi diri sendiri,”
“Saya ingin kalian berdua paham Willy, sudah cukup kalian seperti ini. Sudah cukup dia tesesat di dunia itu,”
“Abell nggak tersesat di dunia itu Tante,” jawabku ketus. Aku mulai tak suka bahasan ini, “Abell sendiri yang memilih dunia ini, sejak SMA dia sudah mulai mempertimbangkan banyak hal. Lulus SMA dia mulai menerima dirinya sendiri dan mengakuinya di depan Andi, baru setelah wisuda dia berani mengungkapkan jati dirinya. Hampir enam tahun Abell mikirin ini semua, selama itu juga dia tertekan akan banyak hal,”
“Tertekan apa lagi Willy? Sekarang dia sudah bebas, nggak terikat sama banyak hal, mutusin hubungan sama keluarga gitu aja. Itu semua udah cukup. Kalau kamu benar-benar punya perasaan sama anak saya, seharusnya kamu dukung permintaan saya ini. Tinggalkan Abell, buat dia pulang ke rumah,”
Gelombang emosi menohok relung hatiku, “Nggak bakal semudah itu Abell pulang ke rumah,”
“Apa yang nggak mudah? Kamu yang nggak bisa ngerelain Abell atau gimana?” desaknya dengan suara bergetar.
“Saya nggak ingin dia tersiksa lagi,” jawabku jujur apa adanya.
“Tersiksa?” tanyanya getir, titik-titik air mata muncul di pelupuk matanya, “bagaimana bisa kamu menuduh saya menyiksa anak sendiri? Kamu bukan siapa-siapa Willy, kamu nggak tahu apa-apa tentang keluarga saya,”
“Saya memang bukan siapa-siapa Tante, saya cuma benalu yang ingin anda babat dari keluarga anda. Ijinkan saya jujur, ketidaksadaran itulah yang membuat saya tak bisa merelakan Abell begitu saja. Ketidaksadaraan yang dulu melukai Abell dan kelak bakal melukai Abell kembali,”
“Terus kamu mau terus sama-sama gitu sampai tua? Kamu nggak sadar hidup dimana? Dengan adat apa? Sistem masyarakat yang gimana? Kamu jangan terlalu naif Will,”
“Mungkin saya memang naif, tapi saya hanya berbicara dari apa yang saya dengar saja. Tak melebihkan atau mengurangi apapun,”
“Apa yang bakal kamu lakuin kalau nantinya Abell nyesel ngelakuin ini semua. Seharusnya kamu paham kalau hubungan ini nggak bakal ada ujungnya. Nggak bakal berakhir dimana-mana. Kalian tahu nggak berapa banyak dosa yang sudah kalian buat empat tahun terakir? Kalau kamu mau dipangang di neraka ya silahkan. Tapi jangan seret Abell kesana. Saya bakal terima dia dengan orientasi seksualnya. Selalu ada jalan untuk berbagai cobaan. Saya hanya ingin keluarga saya kembali ututh seperti semula, tidak berantakan seperti ini. Tolong mengerti Willy, betapa tersiksanya saya beberapa tahun terakhir,,”
“Saya nggak yakin bisa melakukan itu semua, saya tak ingin Abell kembali terluka,”
“Sebenarnya luka apa yang kamu bicarakan daritadi?”
“Anda memang nggak ngerti, mungkin sampai kapanpun anda nggak bakal ngerti ini semua,” jawabku sebal. Tak lagi mampu menenggelamkan kekecewaan di dalam dadaku. Lama aku terdiam, berkutat dengan alam fikirku sendiri. Kenanganku berkelebat sekejab ebelum terganggu dengan isakan yang semakin menjadi. Hatiku teriris mendengar isakan itu, kerasnya hatiku mendadak lumer dan mencair. Aku kalah, “saya bakal nurutin permintaan tante dengan satu syarat,”
Sepercik harap timbul di matanya, “Apapun syaratnya bakal saya penuhi,” jawabnya yakin, mulai mengusap tetes air di kelopak matanya.
“Perlakukan Abell lebih baik lagi, jangan pernah menuntut apapun darinya. Biarkan dia hidup sesuka hati, bebas melakukan apapun yang dia suka, jangan mengarahkan dia. Anak anda sudah dewasa, sudah menjadi laki-laki mandiri yang mampu bertangung jawab dengan hidupnya sendiri. Anda hanya boleh mendukungnya dari belakang, bukan membelokkan jalannya. Jika dia jatuh, biarkan dia bangkit sendiri, jangan beri bantuan apapun, karena dia pasti bisa melalui berbagai masalah dan belajar dari banyak hal. Jika Tante bisa melakukan hal itu, saya akan mundur pelan-pelan sebelum akhirnya lenyap untuk selamanya dari keluarga kalian. Saya janji,”
Tak mau buang-buang waktu lagi di tempat itu, aku pergi tanpa mengucapkan salam. Langsung menuju parkiran, menyalakan mobilnya dan melaju kencang. Fikiranku kalut. Berat menerima semua hal. Mobilku berhenti di salah satu SPBU, di dalam kamar mandi air mataku pecah. Keparat! Keparat! Keparat!. Tanganku mengepal, meninju-ninju keramik pelapis tembok di depanku. Melampiaskan rasa sakit di dalam hati. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu. Bagaimana bisa aku berjanji seperti itu?


. . . . # # # . . . ...

Malam turun secara beringas.
Hitam sejauh mata memandang. Kelam yang membuat siapapun yang melihatnya seketika digelayuti rasa cemas. Atau mungkin hanya aku yang berfikir demikian? Alam seakan-akan memerintahkan seekor cumi-cumi raksasa untuk menumpahkan tintanya ke seluruh angkasa. BUM! Seketika galap membungkus semesta. Menyisakan kelam di hatiku.
Sandra memelukku erat saat aku menceritakan peristiwa siang tadi, dan Andi hanya diam sambil sesekali menyesap bir di depannya.
“Aku beneran minta bantuan kalian,” kataku memulai, pahit mengantung di ujung lidahku, “aku sama Abell harus putus dan dia balik ke keluarganya,”
“Aku nggak tahu ini jalan terbaik atau bukan Will,” ucap Andi memulai, “kita sama-sama tahu gimana Abell nanti, dia bakal hancur banget,” tambahnya sunguh-sunguh. Aku paham itu, tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang?
“Selama kamu nemenin dia, aku percaya Ndi, kamu nggak bakal biarin dia kaya gitu,” balasku yakin.
Andi tersenyum getir sambil menatapku dengan sorot mata tak wajar, “Mungkin kalau aku di posisi kamu, aku nggak bakal ngambil langkah ini Will,”
“Nggak ada gunanya kita debat sekarang Ndi,” ucapku mengingatkan.
Andi menghembuskan nafas penjang dan berat sambil menatapku kembali dengan tatapan aneh, “Jadi gimana rencananya?”
 “Empat atau lima bulan lagi aku sama Abell bakal putus, aku bakal ninggalin dia dan menetap di Bandung,” pahit aku mengatakan itu semua, “Aku titip dia sama kamu,”
“Kamu serius mau tinggal di Bandung?” tanya Sandra.
“Kalau aku tetep tinggal disini, nggak sampai seminggu aku udah ngajak dia balik lagi. Abell itu kekuatan sekaligus kelemahanku Ndi,”
“Aku paham,”
“Setidaknya kamu harus mastiin bener-bener kalau dia bakal buka hatinya lagi buat keluarganya pas aku nggak ada buat dia lagi. Soalnya cuma kamu yang dia percaya, dan mungkin cuma pas diposisi itu dia bisa mempertimbangkan ulang semuanya,”
“Aku bakal usahain hal itu,”
Dadaku terasa begitu menghimpit dan sakit, “Empat bulan ke depan aku bakal pelan-pelan ngurangi intensitas hubunganku sama dia. Aku bakal kurangin SMS, telefon, keluar bareng sampe dia ngerasa kalau aku mulai bosen sama dia. Pelan-pelan mindahin barang-barangku di rumahnya, nggak nginep lagi di sana, dan mulai nyibukin diri biar aku nggak kepikiran dia terus sampe aku bakal pindah ke Bandung,” jelasku sebelum meninggalkannya di cafe itu. Memacu langkahku menuju parkiran, berkumpul bersama teman-temanku, dan mabuk bersama sampai pagi.
Mimpi buruk itu dimulai hari ini.

. . . . # # # . . . ...

Alkohol mengantarku ke alam mimpi.
DANCUK! Kataku dalam hati, keringat dingin membanjiri tubuhku. Aku bangun dengan dada pengap, seakan-akan tulang rusukku ringsek dan sengaja melukai tubuhku sendiri. Matau sulit terbuka karena rasa pening yang terlampau menyakitkan. Kuputuskan untuk tak masuk kerja hari itu. Meminta Sandra ke apotik untuk membeli beberapa obat dan langsung kulahap hingga ahirnya aku terlelap kembali dan bangun saat sore menjelang. Bekas air mata belum kering saat kelopak mataku yang terasa terbakar membuka, hatiku hampa saat kelebat mimpi menghajar kesadaranku. Aku mimpi meninggalkan Abell di sebuah stasiun kereta api, ia menangis, dan hatiku teriris sebelum akhirnya kabut menelan tubuhku dan meninggalkanku dalam kegelapan selama berhari-hari.
Kusambar botol vodka disamping ranjangku, kutenggak hingga tandas sebelum akhirnya memaksa tubuhku hadir di kamar mandi. Lalu merampok banyak makanan dari dapur sebelum mengunci diriku dalam kamar dan tenggelam dalam fikiranku sendiri. Malam menjelang lekas seiring dengan dua bungkus rokok yang lenyap dalam tumpukan abu. Sebelum tengah malam, aku memutuskan untuk keluar rumah, mengajak beberapa sahabatku dan berjanji disalah satu club favorit kami. Aku menggila, tapi dengan setengah jiwa, berharap jika hari berlalu dengan cepat masalah ini segera mendapati solusi.
Pagi menjelang dan kudapati diriku tertidur di taman kota, dengan wajah tak karuan dan pakaian berantakan aku pacu mobilku ke rumah. Membersihkan diri lalu memacu kembali mobilku ke arah Semarang, mengitari jalan-jalan yang belum pernah aku lalui, mematikan handphoneku, makan di pinggir jalan, terus berkendara hingga matahari terbenam sebelum menghubungi salah satu temanku disana dan menginap di rumahnya. Mabuk hingga subuh, tidur, terbangun saat sore menghajarku dengan sakit kepala yang memuakkan. Membersihkan diri lalu mencari makan sebelum akhirnya aku pamit dan kembali berkendara tanpa arah dan tujuan. Seharian aku mengumpat, berteriak, menyumpah hingga tenggorokanku sakit dan suaraku menjadi serak. Aku rela kehilangan suaraku asal tak kehilangan Abell dari sisiku.
Kenapa cinta yang dulu begitu menakjubkan dan aku syukuri sekarang menjadi begitu merusak dan aku hindari?
Isi lambungku tumpah ruah di selokan pinggir jalan saat tak lagi mampu menampung alkohol yang terus aku paksa agar bisa memalingkan fikiranku sejenak. Setelah merasa mendingan, aku kembali ke dalam mobil dan memarkirkan mobilku di parkiran mini market yang buka dua puluh empat jam, memborong makanan disana dan kulahap di dalam mobil sambil terus berkendara.
FAK!! ASU! BAJINGAN! DLOGOK! DANCUK!
Sandra, Abell dan Andi bergantian menghubungiku lewat berbagai cara sebelum aku matikan handphoneku dan menenangkan tubuhku di Wonosobo selama dua hari. Berharap jika aku bisa menghadapi kesedihan yang mendera dada. Di sebuah pom bensin saat aku memutuskan untuk kembali ke Solo, air mataku tumpah dan aku menangis hebat, tak pernah aku menangis seperti itu sebelumnya. Aku merasa begitu lemah. Aku merasa begitu pengecut.
DLOGOG!
Ojo nangis Will, koe lanang, ojo nangis koyo ngene, kataku dalam hati yang malah memompa air mataku untuk kembali jatuh.
ASU!
BAJINGAN!
DANCUK!
Air mataku menderas seiring dengan umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulutku.
DLOGOK NGASU!
Aku merasa lemah.
DANCUK!
Tubuhku bergetar karena gelombang rasa yang hadir melumat tubuhku.
ASU!  
Andai aku tak memilih jalan ini. Andai aku bisa berkata tidak saat ibu Abell memintaku untuk melakukan hal ini. Andai aku bisa menolak dan berkata jujur dengan Abell tentang semua hal. Tentang betapa aku mencintainya, tentang bagaimana aku mencintai keseluruhan dirinya. Tentang sudut pandangku melihatnya.
Apakah benar jika aku melepasnya dan meminta Andi untuk mengarahkan Abell di saat-saat terlemahnya untuk kembali ke keluarganya adalah jalan terbaik? Apakah aku bisa bahagia tanpa dia? apakah aku bisa bahagia saat melihatnya bahagia tanpa ada aku disisinya? Kenapa hubunganku dengannya menjadi serumit ini?
Apa rasa hancur yang pasti hadir setelah kami berpisah akan menjadi penguat kami untuk bangkit atau malahan semakin mengubur kami dalam keputusasaan? Aku benci menebak-nebak, aku benci tak tahu apa-apa, aku benci diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa.
BANGSAT!

. . . . # # # . . . ...

Alkohol tak henti mengelontor ke dalam lambungku, sejak hari laknat itu, sumpah serapah selalu muncul di setiap perkataanku. Membuatku jadi pribadi bangsat yang terus berharap waktu bisa berputar dan menyesali banyak hal. Kenapa aku sebodoh itu? Bagaimana bisa aku merelakan Abell semudah itu? Kenapa aku sepengecut itu? Kenapa aku tak mengajaknya berjuang bersama-sama untuk melewati itu semua? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
DLOGOG! ASU!
Koe nekdhi wae ndhes? Meh arep seminggu koe minggat ra ngei kabar?” kata Andi saat aku memintanya untuk bertemu.
Nenangke awaku bos, mikir ulang beberapa hal,” jawabku seadanya, menghempaskan tubuhku ke sofa dan menutup mata. Jariku mengurut jidatku yang semakin lama terasa seperti ditali kencang dan ditarik sekuat tenaga oleh sosok kasat mata. Sandra datang dengan tergesa, memelukku singkat sebelum akhirnya duduk disamping Andi.
“Jadi gimana?” tanya Sandra setelah menatapku diam lebih dari sepuluh menit.
“Kita tetep jalan sesuai rencana,” jawabku yakin, kutatap sorot mata terluka dua orang di depanku, “aku rela terluka jika memang harus begitu jalannya,” tambahku kecut.
“Terus? Kalau nggak berjalan nggak sesuai rencana gimana Will?” desak Sandra dengan suara gamang.
“Aku nggak bisa main tebak-tebakan sama Abell lho Will,” sambar Andi setelahnya.
“Terus kalian mau aku gimana? Dateng ke rumah Abell dan bilang aku nggak bisa menuhin permintaan ibunya? Minta restu ibu bapaknya sekalian terus nikah di Belanda, terus hidup bareng disini sampai tua?”
Mereka berdua diam. Emosi melumat dadaku. Aku benci saat-saat seperti ini. Saat-saat aku tak bisa melakukan apa-apa.
“Kenapa hidupku jadi ngehek banget ya? Tai banget rasanya,” kataku sambil menengak bir di depanku.
Sandra pindah di sampingku, lalu memelukku lama, “Ini resiko buat orang-orang yang jatuh cinta dengan mempertaruhkan segalanya Will,”
“Kamu bakal nyesel lho Will,” ucap Andi penuh penekanan.
“Dari pas ketemu ibunya Abell juga udah nyesel. Tapi sekarang apa gunanya?”

. . . . # # # . . . ...

Hari-hari selanjutkan aku habiskan untuk menyusun berbagai rencana untuk meninggalkan Abell pelan-pelan dan mengumpat kepada takdir yang menggariskan hal ini.

Tuhan, aku tahu kau disana.
Dan aku juga tahu kalau kau melihatku sendiri disini.
Aku tak pernah menyangkalmu,
Tapi memang aku jarang bicara denganmu.
Aku mohon maaf untuk hal itu.
Hari ini, ijinkan aku mengeluh dan mengumpat semauku.
Aku membenci jalan yang kau siapkan ini.
Apa tak ada akhir bagahia untuk orang-orang seperti kam Ttuhan?
Apakah orang-orang seperti kami hanya berhak akan kebahagiaan sesaat lalu sedih berkepanjangan setelahnya?
Apa yang salah dariku?
Apa yang salah dari hubungan kami sehingga banyak yang ingin mencampuri? Menghujat sana-sini, mendalilkan itu dan ini,
Seakan-akan dia yang paling benar dan berarti.

Apakah benar ini jalan yang digariskan takdir?
Harus seperti inikah?
Harus setragis inikah?
Kenapa harus aku yang merasakan sakitnya hal ini?
Kenapa kau lakukan ini padaku?
Kenapa kau menciptakan aku berbeda dari kebanyakan orang yang menganggap dirinya normal?
Kenapa tak dari awal kau memberiku cetakan yang sama hingga aku dapat terus memujamu dan terus berjalan di jalur yang baik?
Apa yang salah denganku?
Kenapa kau haarus menghukumku dengan cara seperti ini?
Kenapa Tuhan?
Kenapa?


Kisah selanjutnya Klik disini




Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

3 komentar: