Review : Promise

2:24:00 AM Admin 0 Comments



Review : Promise

Setelah ILY from 38.000 ft yang rada lumayan, saya kira Screenplay Films seengaknya akan naikin kualitas kisahnya, dan akan memberi toleransi untuk orang-orang diluar target pernontonnya sehingga dapat memperluas pasaran mereka. Dan enggak sok eksklusif sama target penonton alay yang murah banget bapernya, plis deh, seklise-klisenya kisah hidup yang diinginkan para remaja putri super alay juga enggak gini-gini juga.
Emang nggak ada masalah yang jauh lebih besar daripada cerita cinta-cintaan kaya gini ya? Ya kalau emang di umur-umur segitu urusan cinta lebih gawat daripada apapun, setidaklah buatlebih niatlah, lihatlah AADC atau Twilight yang ninggalin kesan walau tema sama pengisahannya cenderung standar. Entah apa yang terjadi dengan Promise, tapi cerita yang simpel tapi diobrak-abrik nggak jelas agar terkesan rumit dan pintar yang malahan mencederai sendiri filmnya.
Promise bermula dengan adegan konyol, Rahman (Dimas Anggara), seorang anak pengurus pesantren di Jogja disuruh menikah oleh orang tuanya sama seseorang yang dijodohkan sama dia gara-gara dia ketahuan nyimpen film bokep milik temennya yang bandel, Aji (Boy William). Goblok nggak? Oke kalau masih bisa nerima, lanjut, tiba-tiba setting berpindah dua tahun kemudian, di Milan, Italia, saat Rahman kuliah Grafis disana. Selama kuliah, Rahman didekati Moza, gadis Indonesia, tapi hati Rahman tertutup dari cinta yang baru. Saya tak akan menjabarkan kisah dari film ini lagi karena hal itu akan menggangu sensasi menonton, Promise terlalu berjuang sok beda dan memberikan kejutan yang nggak mengejutkan untuk pangsa penontonnya biar nggak bosan sama materi mereka yang itu-itu aja. Dasar.
Sebel nggak sih nonton film yang isinya cinta segi banyak, yang nggak tahu perasaan satu sama lain, sok menjaga perasaan, atau nggak mau menyakiti dengan bilang apa adanya, ya cuma muter-muter disitu doang sih. Tapi tetep ya, endingnya ehm, kaya gitu melulu, usaha banget buat baper tapi ya gitu deh, bapernya cuma ngefek buat kalangan alay doang. Kisah yang acak membuat film ini jadi kacau, terlebih emosi yang harusnya banyak kata kepada penonton jadinya nggak nyampe gara-gara editing nggak tentu maksudnya apa ini. Saya bisa nikmatin film ini cuma gara-gara pemandangan film aja, soalnya keganggu banyak hal di film ini. Ngehek bangek nggak sih pas tiba-tiba ada quote IG muncul mendadak dikisah 18-20 tahun, yang alay, nggak sesuai banget deh sama umurnya. Terus ada yang digambarin sahabat, tapi nggak ngeh sahabatnya gimana-gimana, alay, terus aktingnya kaya masih kelas FTV banget, cuma lokasinya lebih wah aja gitu.
Dan ini yang paling penting, PROMISEnya itu dimana?

You Might Also Like

0 komentar: