Showing posts with label puisi. Show all posts

penari kepalsuan


Penari kepalsuan

Oleh : triztan famous


Selendang sutra itu membelai udara
Dengan tatapan menjaring bintang
Ia terpancang kaku ditengah belukar
Mengamini rasa sakit dalam tarian senja

Dengan laku sacral kau melangkah kedepan
Disertai beribu kunang-kunang
Menghentikan nyanyian serangga malam
Terpuruk sejenak, menunggu tepuk tangan

Lampu sorot mengurut indah langkahmu
Lalu kau taburkan senyum pemikat birahi pada para lelaki
Lengkap dengan tingkah centil penantang nyali
Kau sadar kalau kau adalah korban,
Budak kenistaan, pengobral nafsu liar

Usai menandak-nandak di ranjang dengan lelaki hidung belang
Kau salahkan keadaan,  kau salahkan ketidakmampuan,
 Dan terahir kau salahkan tuhan
Kau tak bisa menari terus dalam kepalsuan
Lalu kau tertawa, dengan sampah hati yang membahana
Belukarpun bisa berbunga
Melihat kau berkata
“ hidup indah begini adanya “

kata orang terdahulu (original)



“KATA ORANG TERDAHULU”



Hey…!!!
Coba kau dengarkan, kata orang terdahulu
Negara Indonesia Negara Demokrasi
Mari kita tengok, benarkah seperti itu?
Faktanya aspirasi kita tak pernah didengarkan
Menjadi selingan untuk diabaikan
Dan berakhir menjadi dudukan pantat
para wakil rakyat




Taukah kalian?
Mereka sibuk dengan urusannya
Retorikal kepalsuan,
Rasa malu disamarkan,
Hati nurani ditabukan,
Dan nafsu beringas setan diutamakan

Hey..!!!
Kami berbicara bukan menggumam
Kami bersuara bukan berbisik
Kami berteriak bukan mengaung
Coba kalian dengarkan, rintihan hati kami
Coba kalian renungkan, tangisan pilu kami
Coba kalian rasakan, kekecewaan nurani kami
Pernahkah sejenak kalian memikirkan kami?
Satu celah detik saja kalian menyimak aspirasi kami
Niscaya rubah kualitas hidup
rakyat kecil, rakyat yang terlupakan

Hey..!!!
Coba kalian dengarkan, kata orang terdahulu
Indahnya sebuah perbedaan, tanpa pengkhianatan berselimut,
Kesakralan Bhineka Tunggal Ika
Dan, kamipun menjawab
Itu dahulu bukan sekarang
Nyatanya tak banyak yang mengindahkan perbedaan
Bahkan mereka lupa apa arti perbedaan?
Berlagak amnesia tentang makna perbedaan
Seakan lupa darimana mereka berasal

Ini bukan lirik lagu
Bukan hanya barisan kata yang disebut puisi
Dan, juga bukan sebuah sindiran, cacian atau maluan
Namun inilah suara hati kami, nurani kami
Yang telah lelah dengan semua ini,
Dengan kematian aspirasi kami.

Karya Keroyokan : Prety Ayu Maharani
Triztan famous, dan
Super Ponco


pelukan


 “ Pelukan “
Oleh : Triztan Famous


Dicelah detik itu, 

di bongkahan menit itu 

Fantasiku, fantasimu merekah indah 

Dalam kekudusan pagi diantara timangan siang



Sayup-sayup udara mengalirkan aura kehangatan

Tubuhku dan tubuhku berpacu dalam pemulihan usai bercinta semalam suntuk, 

menggerus tenaga menuju puncak kenikmatan

Ogah menggubris suara ayam di ujung malam, kita terlelap

Dalam satu prosesi suci, mimpi bersama kita berpadu

Bertabur matafora menyesatkan di tengah bisikan setan

Yang senantiasa menjerat jika aku salah langkah

Tapi kau siaga, bahkan kau waspada menjauhkan plankton yang hinggap di inci partikel kulitku saat kita mengitari lautan imaji

Nafasmu adalah oksigen kehidupanku

Dan langkahmu adalah petak jalan yang tuhan sediakan untukku

Kedua tanganmu merengkuh dalam gerakan

Sebuah pelukan untuk membagi perasaan, 

diantara kehampaan waktu dan ruang. 

Kita bersatu secara utuh, murni, lengkap dan genap

Hanya dengan sebuah pelukan

suratan takdir


Suratan takdir


Amarah ini tak akan berakhir,
Dendam ini tak pernah berhenti mengalir,

Di titik terendah ini aku berfikir,
Kenapa harus aku yang tertulis di suratan takdir?
Kenapa aku yang harus menyingkir?

Suratan takdir, oh, suaratan takdir.
Tidakkah kau pahami, jika aku tak lekas berakhir.

mencintai dengan luar biasa


Mencintai dengan luar biasa


Dia, semesta dalam diriku,
Angin dan langit dalam duniaku,
Kiblat masa depanku.
,
Aku menatap hatimu,
Engkau menatap ragaku.

Aku mencintaimu dengan luar biasa!
Dengan kedalaman tak terkira
Dan keluasan tak terduga

Tapi, kau tak tahu.
Kau hanya diam termanggu.

AKU MEMBENCIMU TUHAN!


AKU MEMBENCIMU, TUHAN!


Aku membencimu tuhan,
Dengan segenap nyawaku,
Dengan secuil kehidupanku,
Dengan segenggam jiwaku.

Karena kau sempurna,
Karena kau lentera,
Karena kau tuhan,
Ya, karena kau tuhan,
Tuhan yang mengepalai semesta.

penari kepalsuan


Penari kepalsuan
Oleh : triztan famous


Selendang sutra itu membelai udara
Dengan tatapan menjaring bintang
Ia terpancang kaku ditengah belukar
Mengamini rasa sakit dalam tarian senja

Dengan laku sacral kau melangkah kedepan
Disertai beribu kunang-kunang
Menghentikan nyanyian serangga malam
Terpuruk sejenak, menunggu tepuk tangan

Lampu sorot mengurut indah langkahmu
Lalu kau taburkan senyum pemikat birahi pada para lelaki
Lengkap dengan tingkah centil penantang nyali
Kau sadar kalau kau adalah korban,
Budak kenistaan, pengobral nafsu liar

Usai menandak-nandak di ranjang dengan lelaki hidung belang
Kau salahkan keadaan,  kau salahkan ketidakmampuan,
 Dan terahir kau salahkan tuhan
Kau tak bisa menari terus dalam kepalsuan
Lalu kau tertawa, dengan sampah hati yang membahana
Belukarpun bisa berbunga
Melihat kau berkata
“ hidup indah begini adanya “


ps: untuk kepribadian-kepribadianku yang sedang berulang tahun

hanya pemuja

  Hanya pemuja
Oleh : Triztan Famous

Engkaulah kata pertama dalam tebaran kalimat firdaus dalam ambang cakrawala kesengsaraan
Bukan alfabet cinta, untaian huruf benci atau spasi sebagai pemisah ikatan kita. Tapi, dzat dasar dalam proses mengalami kecacatan abadi
Matahari  membakar malam kelamku, menjadi kepingan arang yang berjuang sekuat keputus-asaan menjadi abu
Dan surya yang memberengus pesona dunia dini hari lenyap ketika dunia merekahkan keperawanan

Aku mengumbar, mengobral, dan menjual dalam sepi
Kau tetap setia untuk diam dalam geming suci, seolah kau memang ditakdirkan untuk ku sembah bagai serpihan arca
Aku mengais keheningan, meronta di dalam kegundahan dan memohon dalam kenelangsaan, tapi kau tetap tak perduli
Aku jauh lebih memahami setiap hamparan partikel yang menyelimutimu, menyetubuhimu dan memberenggusmu dalam pesona. Karena aku yang meminta ia menciptakanmu dari tulang rusuk ku

Aku mengenalmu seperti mengenal duniaku
Aku mencintamu seperti mengupas dunia dalam balutan feromon
Aku mencumbumu seperti menodai kesucian tempat ibadahku
Kau kuhadirkan untuk aku cinta, untuk aku puja dan untuk aku rindukan
Tapi dzat pemilik alam telah berdusta, ia menghianati perjanjian yang dulu aku sepakati diatas 99 nama suci
Dan kau di hadirkan hanya untuk ku hamba
Aku murka, bagaimana bisa tulang rusukku menjadi pencetus pengikut?
Tulang rusukku telah bermetamorfosis menjadi kitab yang harus dilafal dan  dihafalkan sebagai ajaran yang haus sesembahan
Licik, kau sungguh licik, aku tak pernah tau jika kau bisa sepicik ini
Kau mengarcakan dirimu agar abadi, menatap rendah jasadku seperti kotoran sapi
Kau diam, kau hanya diam
Tak ada umpatan yang bisa menghentikanmu dalam geming
Kau stagnan dalam keangkuhan ragawi
Kau membeku dalam kesombongan keji
Kau mematung dalam kejayaan basi
Dan kau, si pemilik jiwa mati dalam balutan cawan benci
Menempatkanku dalam posisi pemuja sampai akhir nanti
Mengotbahkanku sebagai hanya pemuja sampai kematian menggelayuti.

menguliti kenangan


“ Menguliti Kenangan “
Oleh : Triztan Famous


Masih ingatkah kau tentang diriku yang dulu selalu hadir?
Masih ingatkah kau tentang lingkup udara yang selalu menemanimu mengalir?
Masih ingatkah kau alasan kita terlahir?
Dan masih ingatkah kau pada runutan hidup yang dulunya bertakdir?
Kau tidak lupa, kau hanya tidak sudi untuk mengingatnya, kau lebih suka bersabda jika semua itu sudah larut dalam cahaya, lenyap dalam ruang hampa dan hilang entah kemana.

Masih ingatkah kau tentang air mata yang dulu menggenang?
Kesedihan yang berkubang?
Dan luka, duka serta lara yang membuat hati berlubang?
Kau masih ingat, tapi kau tak berniat untuk mengenang, kau sama sekali tak berniat untuk mengenang sebuah bintang, sebuah bintang yang dulu memancarkan cahaya terang.

Masih ingatkah kau tentang rasa rindu yang dulu selalu membabat dadamu?
Menelanjangimu dengan rasa nyilu
Melumatmu dalam rasa pilu
Dan mengunyahmu dalam dahsyatnya untaian nada bisu?
Kau membeku, tak berani menatapku, kau sama sekali tak ingin aku mengungkit rasa yang kau sakralkan dalam tabu, tapi aku tahu jika rasa itu tak pernah luput dari ingatanmu.

Masih ingatkah kau dengan sorot mata yang selalu bersinar cerah?
Bahasa tubuh yang melemah
Basuhan kata-kata berserah indah
Atau sekedar berpasrah dengan lelah?
Kau gundah dengan rentetan pertanyaanku yang membuatmu melayang ke negeri antah berantah, kau tak bisa mengendalikan dirimu untuk sekedar berdiam dalam laku stagnan, tubuhmu bergidik, menampakan luapan amarah

Masih ingatkah kau dengan kehangatan rasa yang berpendar ketika kita menyatukan diri dalam pelukan?
Berbahagia dalam leguhan
Bertukar kasih dalam bongkah kenikmatan
Dan menghancurkan kenangan karena pertengkaran di bawah cahaya bulan?
Kau diam dalam buai kepalsuan, meneteskan air mata yang dulu tertahan dan merelakan kenangan yang tak kunjung memadam.
Kau benar-benar tak ingin lagi tertawan, kau mengatakan jika sudah merelakan semua sebagai kenangan dan kau ingin hidup bebas tanpa bayang-bayang.
Dengan air mata yang tak bisa lagi kau tahan, kau memintaku untuk berhenti menguliti kenangan.