Pelepasan Remah 1




Pelepasan
Remah 1


Solo, 12 November 2011


Hari ini aku bermimpi
Kuputuskan tuk berikan seluruh hidupku untukmu
Akan kuserahkan segala harap dan angan dijiwaku tuk ditukarkan dengan beberapa koin cintamu.
Fantasiku telah mencapai batas diatas normal hanya untuk menggapai ilusimu, berharap jika kau benar-benar ada hanya untukku...

Hadirmu, adalah penghapus segala batas dan alasan
Keberadaanmu, adalah titik embun pertama penghapus dahaga dalam kisah tak bernama tetapi selalu ada
Ajarkan aku,
Memupuskan gulita yang datang menghadang, memberangus kelam yang datang, dan menyapulenyapkan segala jejak dan bayang
Engkaulah alasan untukku ada dan terus berjuang

Tahukah jika kau seperti drug yang tak pernah bisa kulepas sekalipun puluhan kali aku membuang diri kepusat rehabilitasi?
Beberapa hayalan tentang realitas bahkan tak bisa mengalihkan pandanganku yang berpusat padamu
Matamu sumber keteduhan hatiku
Wajahmu sumber kedamaian jiwaku
Gemingmu, bisumu, amarahmu, lukamu, tawamu, senyapmu,
Dan akumulasi setiap partikel dalam tubuhmu adalah pelengkap kesatuan tubuhku,
Jika memang bisa disatukan...



. . . . # # # . . . ...

Air mataku meluncur bebas dari kelopak tempatnya bersemayam, butiran-butiran air jatuh memecah tinta bolfoin, memberikan noda lumer berbentuk pola-pola bundar bergelombang di buku harianku.
Tak kuat lagi ku tahan kumparan rasa sakit dan kecewa yang bercokol hebat di rongga dada. Rasa sakit dan kecewa yang seakan-akan sengaja ditekan kuat-kuat di dadaku hingga mengharuskanku mengais gumpalan oksigen hanya untuk menjejalkan nafas di rongga hidungku.
Kututup buku harian tempat seluruh episode hidupku berpadu. Kembali rutin aku menulis di buku harian itu sejak aku tak lagi bisa merasakan atmosfir kebahagiaan lagi di kehidupan tabuku. Bahkan, untuk mengecup kebahagiaanpun, aku tak lagi merasa mampu.
Hidupku suram dan terlampau kelam hanya karena satu manusia yang dahulu kupuja dan sampai sekarang masih aku agung-agungkan tanpa alasan rasional, cinta.
Aku adalah seorang penjudi yang buruk, pengobral kepingan rasa percaya dan kesetiaan di dunia yang tak diciptakan untuk itu. Detik pertama dia datang dan meresap telak dalam pori-pori hidupku, langsung membuatku kelabakan. Kocar-kacir aku berusaha mempertahankan jati diriku. Aku yang mempunyai masalah untuk mengendalikan sudut kelam di dalam diriku, tak pernah tahu kapan harus mulai dan berhenti. Ketika dia datang berpadu dengan sinar gemilang, kalang kabut kuserahkan segala yang kupunya. Kepingan rasa percaya dan kesetiaan bertaburan di meja judiku dan aku selalu tak membawa pulang apa-apa. Rasa percaya itu menghilang dan amblas di tangan manusia bernama Willy Putranda.

. . . . # # # . . . ...


Kurenggut kepala botol Whishky sisa acara mabuk bersama beberapa minggu yang lalu, kugenggam erat leher botol itu dan ku benturkan dengan ujung lancip meja kamarku.
Botol itu pecah. Membentuk pola zig-zag tak beraturan, berhamburan diatas karpet kamarku. Naluriah, sudut bibirku tertarik hingga menyentuh telingaku. Entah apa yang begitu membahagiaakan selain nadi yang tak lagi berjarak dengan kepingan kaca paling besar yang kini mantap berada di genggaman.
Kutatap pecahan kaca itu saat menggores denyut di lenganku. Nafasku memburu saat telapak tanganku teriris nyeri. Darah segar menetes pelan menelusuri lengan, menderas dan mendarat tepat di atas karpet putih yang menopang sebagian besar lantai kamarku.
Kesadaranku goyah, kewarasanku tak lagi bertahta. Kujejalkan belasan obat penenang ke dalam mulutku dan kutelan sekuat tenaga, seperempat botol lebih obat itu aku tenggak dan lenyap dalam kerongkongan. Tubuhku bergetar, aku tersendat tawa, entah apa yang membuatku begitu gembira. Mungkin karena ini adalah saat terakirku menangung derita.
Pandanganku mulai tak karuan, bergoyang-goyang hingga akhirnya seperti televisi rusak. Kutatap pelan aliran darah yang melingkari lenganku mulai tersendat, kutambahlah dua sayatan besar hingga alirannya kembali deras. Dan aku mulai terbahak. Kukecup lengaku tempat darah bermunculan di balik sobekan kulitku, lalu kujilati dan kuhisap aliran darah itu.
Ada sensasi menakjubkan saat gesekan kaca menyayat kulitku, ada rasa sakit yang begitu membuatku ketagihan saat sumber sayatan itu kuhisap tak karuan. Benar-benar kunikmati sensasi itu. Senyumku terus mengembang, pangkal lidahku kembali mengecap-ngecap pelan daging segar yang baru saja terkuak. Aku terhempas dalam kenikmatan palsu.
Tubuhku menggelinjang. Bulu kudukku berdiri berseragam. Memperjelas lubang pori-pori dikulitku. Belum pernah kunikmati sensasi kenikmatan seperti ini. Ada letupan kedamaian yang meningkat seiring berjalannya waktu.
Semakin kuhisap aliran darahku, aliran kenikmatan itu semakin meletup hebat. Kugores kembali lenganku, tak ada rasa akit ataupun nyeri. Hanya ada kebahagiaan saat pecahan kaca itu menggesek lembut lenganku.
Aku tersedak hebat, hingga memuncratkan darah dari mulutku saat gelombang tawa tiba-tiba muncul dari dalam dadaku. Foto itu. Gambar dibawah salip berwarna kelabu itu. Kupandang sekeliling, satu persatu kenangan mulai berputar diteater pikiranku. Drama dan opera masalalu menuntut perhatianku. Luka yang belum mendapat penawar kembali terkoyak, kepedihan dan rasa sakit yang belum tuntas kembali mendidih. Aku menangis. Tersungkur dilantai.
Dadaku remuk redam. Seolah-olah berulang dihantam. Kurasakan nyeri yang teramat sangat. Willy, Willy... rintihku.
Aku jatuh cinta habis-habisan. Cintanya yang begitu benderang membuatku melayang hingga akhirnya aku terpuruk di dasar jurang, setelah mengambang di awang-awang.
Kuhikmati benar kenangan-kenangan yang kembali terngiang, karena mungkin setelah ini tak bisa kembali kuputar ulang.


Selanjutnya ke Remah 2 klik disini


Daftar lengkap serial Pelepasan

Melajulah "Pelepasan"ku klik disini
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
         Untuk "Pelepasanku" Klik disini
         Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

Melajulah “pelepasan”ku...



1 mei 2016

Melajulah “pelepasan”ku...


Hai semuanya! Selamat hari baik!
Sebagai permulaan saya akan memperkenalkan diri saya secara singkat. Nama saya Triztanius Hermawan, nama pena saya Triztan Famous, kalian boleh memanggil saya Triztan, TriHer atau apapun terserah kalian. Benar-benar terserah. Saya tidak terlalu peduli sebenarnya dengan nama julukan. Bukan karena kenapa-kenapa, karena terlalu banyak julukan untuk saya sehingga saya membiarkan itu semua seperti apa adanya. Sahabat baik saya kebanyakan memanggil TriHer, Alien, Patrick, Wejin, Cecep, Wawan, Oshin dan lain-lain.
Sebentar lagi saya akan lulus dari UMS dan akan menghadapi dunia nyata. Saya anak yang lahir ke tiga dari keluarga yang tinggal di perbatasan Ampel-Salatiga. Saya mencintai dunia tulis menulis, melukis fotografi dan penggemar berat dunia sinema, entah itu sinema luar ataupun dalam negeri. Saya juga penggemar berat dunia fantasi dan superhero, tapi setiap hari menonton CNN untuk mengurangi kadar pikiran yang menurut kebanyakan orang tidak normal.
Cukup untuk perkenalannya.
Tujuan saya membuat tulisan ini adalah saya ingin mengembangkan lagi bakat menulis saya yang karena banyak hal berhenti di satu tempat. Setelah melalui pemikiran panjang, saya putuskan untuk melepas salah satu draf buku saya untuk ditulis ulang dalam bentuk serial yang akan saya terbitkan perbab setiap malam minggu.
Pelepasan adalah sebuah cerpen yang saya tulis tahun 2011 dahulu dan saya post di catatan di halaman Facebook saya. Sebagai selingan dalam membuat Skripsi, saya iseng-iseng mengembangkan cerpen tersebut hingga datanglah ide untuk serial ini hingga empat episode lengkap dengan setting cerita, premis, penokohan dan beragam printilan-printilan kisah yang hadir perbagian dan terus-terusan timbul untuk meminta segera dikerjakan.
Tapi akhirnya saya tak kuat untuk menahan beragam printilan-printilan kisah yang hadir menerus dan membuat pola acak di dalam otak saya. Seakan-akan Willy dan Abell ini memiliki kehendak untuk menceritakan kisah mereka lebih dari sekeder cerpen yang saya tulis. Mereka berdua terlampau kompak dan kuat mengedor-gedor pintu inspirasi saya sehingga saya kesurupan dalam berkisah. Kurang lebih dalam tiga minggu saya keranjingan menulis kisah Abell dan Willy ini, hingga menghasilkan sebuah kisah sepanjang 38 bab dan 261 halaman.
Tawa, tangis, air mata, geram dan lega bercampur aduk saat kisah ini saya selesai jabarkan. Entah kepada siapa saya berterimakasih saat kisah ini berakhir, mungkin Abell dan Willy, tapi mungkin juga tidak. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil selama tiga minggu menuliskan kisah ini. Lalu kisah tersebut saya diamkan selama satu minggu dan mulai saya baca ulang untuk penyuntingan dan editing beberapa kesalahan selama kurang lebih satu bulan hingga akhirnya saya cetak dan saya bagikan kepada teman-teman saya.
Setelah kisah pelepasan selesai di tulis dan di edit lalu saya cetak, sebuah kejadian yang amat tidak menyenangkan menimpa saya. Laptop saya rusak dan hardisk di dalamnya tidak bisa diselamatkan. Puluhan cerpen, puisi dan empat buah novel yang sudah selesai saya tulis lenyap tanpa bekas. Tak meninggalkan satu sisapun. Hingga saya ingin bunuh diri saking kecewanya menghadapi kenyataan tersebut. Kisah-kisah yang saya tulis sejak SMA, puisi-puisi yang hadir sejak saya SMP sebagai jejak kepenulisan saya menjadi kabut yang sulit digenggam.
Karena kejadian itulah saya tak lagi menulis kurang lebih satu tahun, tapi bulan-bulan terakhir ini saya mulai kembali menulis, tapi bukan menulis cerpen atau novel. Saya sedang keranjingan menulis review film sebagai penjembatan hobby saya menonton film dan menulis hingga akhirnya timbul kembali keinginan untuk menulis walau karya saya sudah lenyap.
Lewat serial pelepasan ini saya ingin kembali mengembangkan bakat dan meneruskan mimpi saya. Apapun yang terjadi, saya akan tetap kembali menuliskan kisah-kisah yang hadir di dalam teater fikiran saya menjadi kisah yang bisa kita baca semua. Saya tak peduli jika nanti kisah ini berhujan kritik, antusias atau apapun itu yang kelak dihadirkan sang kehidupan. Saya menulis kisah ini hanya untuk mengembangkan bakat dan mewujudkan mimpi.
Serial ini berjudul PELEPASAN, sebuah seri yang menceritakan tentang pencarian jati diri dan spiritualitas seorang tokoh bernama Abel Jerolin. Abel adalah seorang yang tertarik secara fisik, seksual, emosional dan romantis terhadap sesama jenis atau yang sering kita sebut Gay. Di dalam Pelepasan, Abel akan mengalami berbagai tragedi yang akhirnya membuatnya menemukan jati diri dan kepercayaan yang ia yakini, bukan yang ia turuni dari keluarganya.
Jika tak ada hal yang berubah dalam garis penceritaan saya, PELEPASAN adalan babak pertama dari beberapa tokoh yang akan melakukan perjalanan panjang untuk pencarian di dalam kehidupan mereka. Babak pertama dalam kisah ini akan diwakili oleh Abell Jerolin dan Willy Putranda di PELEPASAN. Pelepasan saya khususkan untuk para pembaca dewasa karena topik, bahasan, adegan di dalam kisah tersebut cenderung depresif, muram dan mudah menyingung banyak pihak.
Babak kedua akan dikisahkan lewat tokoh Mochi lewat episode PERETAS MIMPI dengan pengisahan yang saya buat lebih muda, segar dan penuh kegembiraan sebagai upaya saya mengimbangi penceritaan di pelepasan yang kelam. Babak ketiga akan menceritakan tentang seorang gadis berkebutuhan khusus yang menceritakan kisah antara dirinya dan mahluk-mahluk halus yang ada disekitarnya melalui media lukisan dalam episode PENGECAP ILUSI. Dan babak keempat akan diisi oleh seorang tokoh penulis psikopat berkepribadian ganda yang akan menceritakan kisahnya di dalam PENGEJA DIMENSI. Dan saya juga sedang mematangkan tentang konsep kisah tentang tokoh kelima yang kemungkinan akan memiliki kisanya sendiri atau akan bercampur dana pengeja dimensi. Karena tokoh ini adalah tokoh inti yang akan menyatukan pelepas, peretas, pengecap dan pengeja dalam sebuah kisah final.
Jadi jika dibuat sederhana serial pencarian jati diri dan spiritualitas ini akan memiliki kurang lebih empat atau lima episode, yaitu:
1. Pelepasan.
2. Peretas Mimpi.
3. Pengecap Ilusi.
4. Pengeja Dimensi.
5. Untitle Series.
Serial pelepasan akan dimulai pada pertengahan bulan Mei 2016 dan akan terus di update setiap malam minggu untuk bab barunya hingga bulan Januari tahun depan jika tak ada halangan atau perubahan. Pelepasan akan mengambil setting cerita di Solo, Boyolali dan Jogja. Sebagai tambahan, serial ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami seorang tokoh yang sama samarkan identitasnya, selamat membaca!
Terimakasih semuanya!



Triztan Famous.

Review : Comic 8 Casino King Part 2


Review : Comic 8 Casino King Part 2



Jujur, sama benci dengan film yang dibagi menjadi dua kecuali bagian final Harry Potter yang menurut saya pantas karena materinya memang begitu luas dan tak bisa di filmkan dengan durasi maksimal 2,5 jam. Tapi, perfilm indonesia akhir-akhir ini gemar sekali memotong materi film yang sebenarnya bisa dipadatkan menjadi dua buah film yang akhirnya sama-sama nangung, dari  Bulan terbelah di langit amerika, lalu sekuel Comic 8 ini, dan Warkop Reborn kelak.
Itu sangat menjengkelkan karena mengurangi sensasi dalam menonton film, tapi ya namanya juga bisnis, uang selalu menjadi alasan utama apapun alibi yang dilempar produser dan perusahaan kepada kita semua. Tapi sadar apa enggak sih mereka kalau ini bukan seri pamungkas Comic 8? Menurut beritakan masih ada lanjutannya, dan berniat menjadikan Comic 8 itu francise baru. Heh! Menyebalkan.
Dan seperti yang saya duga, walaupun saya sudah memasang ekspektasi serendah mungkin untuk film ini, saya tetap tidak puas dan tidak dapat bersenang-senang dengan film ini. Bahkan saya merasa mendingan seri kedua ini nggak usah ditayangin juga nggak masalah, di seri pertama memang saya bisa cukup menikmati asupan humor dengan gaya pengisahan yang cukup menarik dan tiba-tiba, “lho, udah? Masa gitu aja?”
Jika kamu merasakan hal itu saat menyaksikan bagian pertamanya, saya berani jamin jika di bagian kedua ini akan berlipat ganda. Saya jadi malas dan cenderung bosan saat menonton film ini, harusnya film ini menjadi klimaks dengan aksi gila-gilaan yang dijanjikan di bagian pertama, tapi ya udah cuma gitu doang dengan plot mboseni banget.
Akhirnya, Comic 8 Casino King Part 2 benar-benar kering tanpa emosi, saya sama sekali tak merasa terikat saat melihat lakon baku hantam, atau terkena ledakan. Jika Falcon tak memecah kedua seri ini, maka Comic 8 Casino King ini bakal jadi greget sekali dan bakal menjadi Francise menjanjikan karena terus menjaurnya comic-comic keren di Indonesia. Bukannya malah menjadi seri paling jelek dari Comic 8.
Tapi ya ada yang menurut saya lumayan juga sih, pas adegan helikopter nembakin Indro sama Ence Bagus walau kerasa dipanjang-panjangin banget, adegan berantemnya Prisa Nasution sama Hanah Al Rasyid juga lumayan.
Overall, saya merasa buang-buang waktu saat menonton film ini, bukannya puas karena telah mengetahui cerita secara lengkap, tapi malah menjadi bosan dan malas untuk melihat kelanjutannya walau post credit secenesnya lumayan bikin penasaran sama seri selanjutnya. Semoga tidak mengecewakan. Ayolah Falcon, kalau mau buat francise yang niat dong, jangan film satu dibagi-bagi, kan males, nonton 1-2 jam cuma buat ngerasain sensasi nangung doang. Saya juga merasa francise ini nggak di perlakukan dengan layak.
Skor : 1,5/5





review: Batman v Superman : Dawn of Justice




Batman v Superman : Dawn of Justice
Triztan Famous


Siapa yang dapat menolak pesona dua superhero super keren sepanjang masa yang sudah menjadi ikon dunia? Dua karakter paling menonjol di dunia superhero, dipertemukan, disandingkan, dibakuhantamkan lalu dibuat kerjasama dalam sebuah film, siapa yang tak ingin melihat itu semua? Apalagi Batman yang tampil sempurna di trilogi versi Nolan yang begitu indah, realistis dan manusiawi dan Superman yang notabennya sebagai superhero paling kuat dijagat raya. Dan ditambah lagi dengan hadirnya Wonder Women yang menjadi ikon feminis selama ini, saya ragu jika ada pahawan bergender wanita yang bisa melebihi popularitas Wonder Women. Hadirnya ketiga superhero ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Tak peduli rating yang buruk atau para pereview film yang menilai rendah film ini, tapi pada kenyataanya Batman V Superman: Dawn of Justice ini memang ditunggu banyak kalangan dan menjadi film yang sangat diantisipasi pada tahun ini. Selain menjadi peta untuk DC Extended Universe selama lima tahun kedepan, film ini juga penting karena untuk pertama kalinya Warner Bros bertaruh gila-gilaan untuk menyaingi Disney-Marvel dengan MCU-nya. Ayo mulai!
Banyak orang yang kecewa saat di trailer kedua film ini diluncuran kepublik menyertakan penampakan Doomsday yang begitu buruk rupa, hal ini cukup menganggu memang, tapi dengan diluncurkannya trailer ketiga yang lebih berfokus kepada Batman dengan gaya bertarung seperti di film The Raid, expektasi saya kembali melambung di film ini.
Film ini dibuka dengan adegan pertempuran final Superman melawan jenderal Zod yang mempora-porandakan kota Metropolis dan Gotham, juga menghancurkan gedung Wayne milik Batman dan menewaskan banyak kariyawannya. Batman adalah bagian dari masyarakat umum yang menilai bahwa Superman adalah ancaman besar bagi bumi dan tempat tinggal mereka- hal ini diakibatkan oleh pertempuran gila-gilaan di Man of Stel yang membunuh banyak orang-.
Banyak orang yang mengeluh jika film ini terlalu lama untuk memunculkan adegan pertempuran gila-gilaan antara Superman dan Batman yang mereka tunggu, film ini juga membosankan ditonton anak-anak karena begitu banyak dialog yang tidak langsung ke inti tetapi banyak yang bersifat filosofis yang menurut saya malahan indah. BvS memang lebih kelam dari Trilogy versi Nolan maupun MoS. Saat teman saya mengeluh karena terlalu padatnya plot dan penulisan latar belakang Batman dan Superman yang begitu rinci, saya malah kegirangan dengan film ini. Bahkan hampir semua scene di film ini saya menikmatinya. Moment-moment munculnya batman di film ini, kebrutalan batman saat mengecap tubuh para penjahat, atau momen saat Superman dianggap sebagai Mesias (tema yang sanggat jarang sekali diangkat di film superhero) oleh warga Metropolis dan menimbulkan banyak prokontra, atau saat kemunculan Lex Lutor yang menurut saya mirip dengan Joker, dan yang paling mencuri perhatian disetiap adegan... Wonder Women yang begitu tangguh, keren dan mempesona sehingga membuat saya tak sabar untuk melihat ia beraksi di film solonya.
Kemunculan singkat The Flash, Cyborg, Aquaman, juga semakin membuat saya tak sabaran menunggu aksi mereka di film mereka sendiri. Jika anda merasa BvS ini terlalu banyak bercerita untuk mengali motivasi Batman dan Superman untuk bertarung hingga akhirnya pertarungan mereka yang anda harapkan serasa kurang nendang, tunggu hingga Doomsday datang dan Wonder Women bergabung dengan Batman dan Superman menjadi Triniti dimana itu adalah cikal bakal Justice Lague berdiri niscahya anda akan merasa orgasme yang teramat indah. Menurut saya ini adalah pertempuran final superhero yang begitu padat, indah sekaligus menakjubkan yang pernah saya rasakan. Hingga akhirnya anda akan merasakan emosi yang pedih saat scene-scene film ini menuju credit title.
Semua plot yang begitu banyak dan cukup membingungkan akan terjawab di pertempuran final ini, Batman yang begitu brutal, Wonder Women yang menakjubkan, Superman yang nampak lebih manusiawi, Doomsday yang mematikan dan Lex Lutor yang begitu licik semuanya akan membuatmu ingin menyaksikan film ini lagi dan lagi, serta membuatmu tak sabaran menunggu Suice Squade untuk melihat Batman satu layar dengan rival abadinya, The Joker.
Saat menonon Batman V superman, berkali-kali saya mengalami “Wah” dan “Wow” faktor yang menyenangkan yang dibalut dengan gambar dan visual menakjubkan. Dan jika bicara mengenai Visual Artist terbaik saat ini, Zack Synder memang rajanya, lengkap dengan ciri khas slow motions dan gambar-gambar mewah yang kebanyakan direkam melalui Imax. Satu hal yang membuat DC lebih unggul dengan Marvel kali ini karena departemen musik buatan Hans Zimmer dan Junkie Xl yang begitu menggelegar, sexy, keren dan mendebarkan, terlebih saat scooring untuk Lex Lutor yang begitu terkesan keji dan licik, Wonder Women yang sexy dan garang dan yang paling keren adalah adegan pertempuran puncak yang begitu menggelegar, maaf sebelumnya, tapi Age of Utron menurut saya lebih membosankan daripada film ini, hehehe.
Saya bukan fanboy Marvel ataupun DC, saya adalah sekedar penggemar film superhero yang bersemangat karena semakin lama semakin banyak film superhero yang begitu beragam dan dengan tema yang penuh pesona, jujur saya mulai bosan dengan film-film marvel yang menurut saya begitu-begitu saja, hahaha. Mungkin juga karena itu saya begitu menyukai Batman V Superman ini karena meneruskan aroma kelam yang dibawa Nolan.
Skor: 7,5/10

REVIEW FILM: Surat dari praha (2015)

Surat dari praha
Reviewer: Triztan Famous

Ada tiga alasan kenapa saya menonton film Surat Dari Praha, yang pertama karena ini film dari Visinema yang di sutradari oleh Angga Dwimas Sasongko, yang kedua adalah karena Tio Pakusadewo yang notabennya adalah aktor Indonesia favorit saya selain Reza Rahardian, dan yang ketiga karena film ini mengangkat tema yang masih anomali karena jarang diangkat oleh sineas Indonesia.
Angga Dwimas Sasongko yang menawan saya dengan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan memantapkan pengalaman cinematik saya dengan Filosofi Kopi yang sampai sekarang masih menjadi film favorit saya yang pernah ia buat. Semenjak Surat Dari Praha mulai menjejakkan langkah pertama, konflik langsung dihadapkan kepada kita. Perkenalan tokoh yang sanggat baik juga semakin memperlancar jalannya film ini, menit pertama kita langsung diperkenalkan dengan tokoh Dahayu Larasati (Julie Estele) yang berarti teratai yang cantik dan (Widyawati), yang entah kenapa wajah mereka terlihat teramat mirip.
Laras yang sudah lama tak jumpa dengan ibunya tiba-tiba menghubungi ibunya di rumah sakit untuk meminjam sertifikat rumah guna melunasi hutang yang harus ia tanggung karena perceraiannya dengan Chiko Jeriko. Ibu laras yang meninggal setelah operasi meninggalkan sebuah permintaan yang mau tak mau harus Laras turuti, yaitu mengantarkan sebuah kotak berisi surat dari praha dan meminta tanda tangan kepada sosok yang ia kirimi kotak tersebut.
Sesampainya di Praha, ia bertemu dengan Jaya (Tio Pakusadewo) yang kurang lebih memiliki sifat pahit, egois, dan keras seperti dirinya. Tak mudah untuk Laras mendapatkan tanda tangan dari Jaya. Jaya yang tak ingin hidupnya kembali diobrak-abrik, langsung menyuruh Laras untuk meninggalkan rumahnya. Tetapi karena suatu kejadian, akhirnya Laras menginap di rumah Jaya untuk beberapa hari dan mulai mencairlah hubungan mereka, hingga menghangat, dan akhirnya menjadi intim.
Secara garis besar Surat Dari Praha mengingatkan saya akan beberapa film-film favorit saya yang saya tonton berulang, seperti memiliki akumulasi rasa dari Trilogi Before yang fenomenal itu, Lovely Man yang indah itu dan memaafkan masalalu seperti dalam Filosofi Kopi. Entah mengapa ada rasa yang menganjal saat saya melihat Surat Dari Praha ini, banyak emosi yang terlalu cepat dilemparkan kepada penonton sehingga membuat film ini terlalu padat. Tak seperti Filosofi Kopi dahulu yang membuat saya menitikan air mata di bioskop, di Surat Dari Praha ada beberapa emosi yang gagal sampai karena kurang banyaknya persiapan sehingga saya kurang bisa merasakan bagaimana kesendirian Jaya dan Luka yang Laras rasakan.
Yang kedua adalah penggunaan Green Scren pada adegan Laras dan ibunya di rumah sakit yang menurut saya cukup menganggu. Lalu adegan pada saat di rumah duka, Laras yang baru saja kehilangan ibunya sama sekali tak menitikan air mata. Sampai sebegitu keraskah hati Laras karena sakit hati dengan ibunya hingga hatinya sama sekali tak terketuk? Lalu kenapa pada saat dengan pak Jaya dia dapat dengan mudah mencair dan menjadi pribadi yang hangat dalam beberapa hari? Dan yang ketiga adalah pemain-pemain figuran di film ini yang berasal dari praha yang berakting kaku dan asal-asalan. Saya sampai tak percaya bagaimana seorang Angga Dwimas Sasongko menggunakan Extras seperti itu di dalam film ini. Adegan perampokan di taksi yang menjadi titik balik di dalam film ini harusnya bisa jauh lebih baik daripada adegan datar dan buruk seperti itu.
Tapi selain itu ada banyak adegan yang membuat hati hangat di Surat Dari Praha, seperti saat Jaya bernyanyi di bar, atau pada saat Jaya dan teman-temannya dengan reunian di rumah Jaya menyanyikan lagu tentang kuda yang entah apa judulnya dan lagu Indonesia raya yang saya harus akui dapat membuat haru seisi bioskop karena dinyanyikan oleh para manusia berideologi kuat yang tidak bisa kembali ke Indonesia dan yang paling saya akui adalah dipertengahan menuju klimaks dimana Laras dan Jaya berdebat hebat dengan kata-kata yang menurut saya sadis dan kasar dengan tehnik longtake yang menakjubkan, walau tidak terlalu lama, tapi adegan itu membuat saya semakin kagum dengan Julie dan Tio yang berakting dengan menakjubkan setelah mereka beradu di The Raid 2.
Overall, Surat Dari Praha adalah film anomali dengan cerita yang jarang diangkat di dunia perfileman Indonesia yang patut untuk disaksikan di bioskop. Walau melabeli dengan film shot luar negeri, tapi film ini tidak semata-mata menjual pemandangan luar negeri seperti kebanyakan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha dengan bijaksana menggunakan setting luar negeri sesuai dengan kebutuhan cerita. Dengan cerita yang padat dan emosi yang kerap tumpah dimana-mana film ini menjadi film yang jarang ada di perfileman Indonesia.
Sebagai film yang menjadi pemula parade film-film yang paling dinanti tahun 2016, Surat Dari Praha melakukan tugasnya dengan baik. Untuk mengakhiri review ini saya ingin mengucapkan selamat kepada Angga Dwimas Sasongko untuk meneruskan tradisi film bagus yang ia sutradarai dan selamat datang untuk Ahhc... Aku Jatuh Cinta, A copy Of My Mind dan Ada Apa Dengan Cinta yang akan segera menyapa kita... sekian.
Skor : 8/10