20 Poster film terbaik tahun 2016 (Best Movie Poster in 2016)


20 Poster film terbaik tahun 2016 (Best Movie Poster in 2016)

Saya adalah orang yang mudah tervisualisasi, dan dalam dunia film, tak jarang saya langsung beranjak ke kasir membeli tiket film yang posternya membuat saya terpesona dan terperangah. Semakin lama, dunia poster film Indonesia semakin indah, bukan karena semakin sadarnya mereka akan aspek marketing, tapi juga karena selain dari trailer, jajaran cast, cerita, sutradara dan rumah produksi, poster memiliki tempat khusus untuk menarik banyak penonton. Tapi juga karena poster menjadi garda terdepan untuk mengawali langkah sebuah produksi film, dan biasanya (walaupun jarang) poster teaser sebuah film jauh lebih artistik dan menakjubkan daripada poster final yang dipajang saat film tayang di bioskop.
Untuk menutup tahun ini, dan membuat tradisi baru di blog ini, maka mulai tahun 2016, setiap akhir tahun saya akan membuat postingan tentang poster film terbaik dari luar negeri dan dari dalam negeri. Lets go!

Honorable Mentions
-          Litle Sister
-          Goat
-          10 Cloverfield Lane
-          Queen of Katwe
-          Captain Fantastic
-          Deatpool promotion poster
-          John Wick: Chapter Two
-          Don’t Breathe
-          Green Room
-          Tickle
-          Krisha
-          Suicide Squad promotion poster
-          Sing Street
-          Always Shine
-          High Rise
Oke, langsung saja, 20 poster film terbaik tahun 2016 adalah:



20. The Birth of a Nation
Sekilas memang seperti bendera US, tapi dengan detail sejarah politik sekumpulan orang berkulit hitam yang akan menyerang, melawan atau memberontak? Tapi setidaknya mereka bersatu padu untuk memperjuangkan sesuatu. Entah kenapa saya langsung terpaut dengan poster ini, bercerita banyak dan penuh tumpahan darah. Pahit, tapi layak dikenang. Apalagi dengan sapuan cat biru di pojok atas untuk judul yang begitu artistik. Menakjubkan.


19. Jackie
Saya memang penggemar berat Natalie Portman sejak Black Swan, jadi mungkin ini sedikit personal. Tapi saat pertama kali melihat poster ini, saya terpaku beberapa detik, mengagumi mimik wajah dan sorot mata sosok ibu negara yang begitu anggun, luwes dan karismatik, apalagi font “Jackie” yang begitu gurih itu. Saya angkat topi untuk poster ini.


18. Wiener-Dog
“Apa-apaan sih ni?” kata saya sambil mesem-mesem nggak jelas. Tapi di sisi lain, poster ini begitu menarik di mata saya. Bukan karena kesannya yang begitu simpel, playful dan colorful sekali, tapi karena nuansa komedi yang di hadirkan poster dengan memotret setengah tubuh anjing dan menyisakan pantat dan ekornya saja.


17. Certain Women
Simpel dan indah, adalah kesan pertama yang saya dapat saat melihat poster ini, begitu lembutnya perpaduan warna abu-abu dan coklat muda yang menjadi latar belakang beberapa tokoh dengan gaya asiran pencil, apalagi dengan font yang begitu mengikat.


16. Paterson
Seorang lelaki memandang air terjun di kejauhan dengan bingkai jembatan besi lengkap dengan seekor anjing yang duduk berlawanan arah dengannya. Komikal memang, tapi juga ada keindahan, kerelaan dan rasa pasrah disana.


15. American Pastoral
Kelam, dalam, sadis dan mampu membuat hati bergidik ngeri. Apalagi dengan pewarnaan yang suram itu. Wuidih! Juaralah.


14. Kong Skull Island
Siluet King Kong membelakangi matahari tenggelam dengan dua buah helikopter yang akan menerjang, lengkap dengan pasukan yang siap menerjang. Menjanjikan film aksi yang brutal dan indah, apalagi debut filmnya menjadi salah satu film paling berkesan di hati saya. Bener-bener nggak sabar buat nonton filmnya.



13. Complete Unknow
Artistik dan memberi kesan mendalam buat saya pribadi. Udah, itu aja, hehehe.









12. Wonder Woman
Memang sih, baru tayang pertengahan tahun depan. Tapi teaser poster ini bener-bener provokatif, ngajak orang nonton dengan semangat tinggi. Saya bener-bener suka sama siluet Wonder Woman lengkap dengan perpaduan warna sebagai latar belakangnya.



11. Kubo And Two Strings
Indah, bener-bener indah dan serasa ngajak kita buat masuk ke dunia imajinasi di dalam film. Lebih dari tiga poster Kubo and Two String yang mampu berbicara banyak untuk saya, dengan mengumbar aura magical, mistis, jepang kuno, pewarnaan dengan komposisi yang tepat. Benar-benar seperti lukisan yang mampu mengajak kita masuk ke dalam kisahnya.


10. Lo and Behold
Ribet, unik, aneh, tapi juga keren. Mampu menggambarkan dunia maya dengan tepat dan cerdas.


9. Operation Avalanche
Komikal? Teatrikal? Tapi lengkap dengan nilai artistik tinggi.
“It’s not a lie if you believe it”


8. Handmaiden
Seperti lukisan yang mampu bercakap banyak, tapi kalau dilihat secara detail poster ini ada gambar cewek bunuh diri dan lain-lain yang akan disampaikan lebih jelas di film yang menurut saya sangat layak untuk dapat piala Oscar untuk film katagori film asing terbaik.




7. The Neon Demon
Nyleneh, futuristik, asik, jadi keinget pas Lady Gaga dulu muncul. Intinya beda dan berkesan banget, apalagi sama warna-warna neon yang membuat poster ini semakin semarak dan mewah.


6. Cristine
Simple memang, tapi kalau kamu nggak tertarik sama poster film ini, berarti ada yang salah dengan dirimu sendiri.


5. Loving
Benar-benar membuat hati hangat, ekspresi nyaman Joel Edgerton dalam pelukan Ruth Negga benar-benar membuat hati hangat. Ada rasa pasrah, perih, pahit (apalagi film ini bercerita tentang hal rasis) tapi semua rasa itu dipersatukan oleh sebuah kelembutan warna yang memberi sensasi hangat di hati. Juara.




4. The Love Witch + De Palma + Free Fire
Ketiga poster film ini memiliki rasa yang seragam, unik, simple, klasik dan membawa semangat 70an. Membawa aura magis yang seketika membawa ingatan kita melayang ke poster-poster Indonesia tahun 70-80an. Dan sumpah, saya ingin punya kaos dengan gambar seperti ini.


3. The Lobster
Ada kesedihan mendalam yang tersirat jelas saat saya melihat poster ini, sepi, nelangsa, hampa dan lain-lain. Simple memang, tapi mampu berbicara banyak. Benar-benar juara, apalagi ekspresi Colin Farell itu, duh, nohok banget. Memeluk kehampaan bos.




2. La La Land
Ada tiga poster La La Land yang memikat hati saya, dua poster tampil layaknya cover album jazz dan satu poster yang menampilkan dua pemain utama menari dengan taburan lampu kota sebagai latar belakang, benar-benar mengungkap keromantisan klasik yang hampir pudar di masa sekarang, lengkap dengan berbagai testimoni yang menggugah untuk segera menghampirinya di bioskop.



1. Moonlight
Mungkin karena terbawa efek trailernya yang begitu menohok dan meninggalkan segumpal emosi mentah, tapi menurut saya Moonlight adalah film yang mampu mencuri banyak perhatian tahun ini. Jujur saya melihat Moonlight terlebih dulu dari trailernya yang mempesona itu, baru ke poster yang tak kalah penuh pesona. Ada harmoni dan keindahan yang saya rasakan ketika saya melihat poster film ini hingga poster ini saya jadikan wallpaper di tablet, handphone dan laptop saya.
Memang, banyak poster yang indah di tahun 2016 ini, tapi menyatukan wajah 3 orang di tiga fase kehidupan, lengkap dengan warna yang indah, itu luar biasa. Benar-benar indah dan padu dalam harmoni. Apalagi Moonlight digadang-gadang menjadi kandidat terkuat selain Manchester by the Sea, La La Land dan Silence, ini menambah prestasi tersendiri di koridor indie tahun ini. Selamat Moonlight, kamu berhasil mencuri perhatian dari banyak segi tahun ini.

Pelepasan Remah 32





Pelepasan
Remah 32


Kisah sebelumnya Klik disini


Malam memadamkan setengah wajah Reve menjadi buram, kursi-kursi kayu hinggap di atas meja. Lantai telah bersih dari debu dan sampah-sampah sudah bersemayam di belakang cafe, menunggu untuk di jemput petugas kebersihan nanti subuh. Para karyawan beranjak meninggalkan cafe, menyisakan Andi di balik meja kasir. Berkutat dengan nota dan lembaran uang.
“Are you oke?” tanyanya hawatir saat melihatku menghampirinya.
Tak ku jawab pertanyaan itu, kutangkupkan telapak tangan di wajahku. Tubuhku bergetar dan air mata kembali mengalir, tak lama kemudian isakan mulai terdengar dari bibirku. Aku benci tampil seperti ini di depannya, tapi aku tak bisa memendam rasa sakit ini sendiri.
“Kita putus. Hubunganku sama Willy berakhir,” jawabku dengan hati tersayat. Aku sama sekali tak percaya jika kami akan berpisah, “rencana-rencana futuristisku lenyap sudah,”
Detik berikutnya Andi menyelinap ke arah dapur, dan kembali dengan segelas air putih. Ia termanggu melihat air mataku yang berhamburan dan nafasku yang hadir satu-satu. Aku merasa begitu sakit dan dadaku seperti menghimpit.
“Minum dulu Bell,” perintahnya dengan suara tenang, “biar rada tenang,”
Langsung kutenggak air putih di depan mejaku.
“Gimana ceritanya?” lanjutnya ingin tahu.
Satu pertanyaan itulah yang akan membuat malam ini semakin panjang, kuhela nafas panjang, siap-siap meluncurkan sebab musabab hingga aku seperti ini, “Kamu tahukan Ndi, kalau hubungan kita lagi dalam masa jenuh. Sekuat mungkin aku nglakuin apa aja biar hubungan kita tetep utuh. Tapi dia nyerah dan mutusin hubungan kita gitu aja, seakan-akan apa yang kita lakuin empat tahun terakhir nggak ada artinya buat dia,”
“Lha terus kamu penginnya gimana?” tanyanya mencuatkan sampah-sampah di hatiku.
“Ya aku penginnya kita tetap bertahanlah,” sahutku penuh emosi, “kita sama-sama dewasa Ndi, masa iya ada masalah dikit terus pergi gitu aja. Mana pake alesan-alesan klise lagi! Pengecut banget jadi orang!” lanjutku murka, dadaku naik turun saat melontarkan kata-kata itu.
Andi menatapku trenyuh dan kuputuskan untuk menangkupkan tangaku di wajah, air mataku menderas.
“Aku cuma mau sama Willy Ndi,” rengekku pilu, “aku nggak mau pisah sama dia,” tambahku kekanakan.
“Kalian berdua udah sama-sama dewasa lho, udah bisa bertanggung jawab dengan kehidupan masing-masing. Sejak awal harusnya kamu paham, kalau kamu berani buat jatuh cinta ya harusnya kamu juga berani putus terus patah hati juga,”
“Tapi aku cuma mau Willy Ndi,” ungkapku dalam senggukan, “aku cuma mau sama dia, kamu sendiri tahu gimana usahaku buat pertahanin ini semua,”
“Usahamu udah lebih dari cukup Bell, setidaknya kamu udah berjuang buat hubungan kalian berdua. Kamu kalut, makanya nggak bisa berfikir jernih, mendingan kita pulang terus istirahat dan jangan pernah berfikir aneh-aneh,” ucapnya penuh penekanan, aku yang punya riwayat overdosis karena obat penenang tak akan ia biarkan menghabiskan waktu sendiri dengan keadaan seperti ini.
Tengah malam kita berdua sampai di rumah minimalis yang di penuhi kaca sebagai pemisah dengan dunia luar, di ruang keluarga kami makan bubur ayam yang kita beli sebelum perjalanan kemari. Setelah beberapa kali suap, lambungku tiba-tiba terasa penuh, kusambar bir dingin di samping lututku dan ku raih bungkus rokok di depanku, mengambilnya sebatang, menyulutnya dan menghembuskan asap lewat lubang hidungku saat beberapa kenangan melintas di fikiranku.
Wajah, senyuman, tubuh telanjang, spontanitas, kecupan mesra, tatapan nakal, bersama beberapa lagu yang biasa kita nyanyikan mengedor-gedor sudut pikiranku. Aku kembali tak stabil, aku ingin Willy menenangkanku.
Before the Night Ends mengawali malam panjang kami, Bady days, Tears in heaven, Dont You Remember, Broken Vow, Where Did You Go dan Talking to the Moon kita senandungkan dengan penuh emosi sebelum akhirnya aku hanya diam mendengar Andi memainkan banyak aliran musik.
“Kita udah pernah bahas ini sebelumnya, pas kamu mau jalin hubungan sama dia,” kata Andi memulai sesi malam ini, ia letakkan gitar penuh emblem stiker di samping tubuhnya, “kita juga sama-sama tahu Bell kalau hubungan yang kalian jalanin itu nggak ada ujungnya, makanya dulu aku minta kamu jangan pernah jatuh terlalu dalam, apalagi di dunia seperti ini, tapi sayangnya kamu anggep nasehatku dulu kaya angin lalu, kamu malah jatuh cinta habis-habisan,”
Sekuat mungkin aku tak melibatkan emosi saat menjawabnya, “Aku masih inget kok Ndi, apa yang kita bahas dulu pas aku mulai hubungan sama Willy, aku mikirin itu mateng-mateng tapi aku nggak berdaya, semua yang aku jalanin sama dia itu murni spontanitas, dia buat aku ngerasa hidup Ndi. Aku jatuh karena emang takdirnya aku harus jatuh sama dia, dan aku nggak punya kekuatan buat nyangkal,” kataku pahit, kutenggak vodka di depanku sebelum melanjutkan lagi, “tapi cinta cuma sebuah kata sampai kita ketemu sama orang yang bisa kasih definisinya, dan orang itu Willy Ndi, aku jatuh cinta habis-habisan sama dia. Dia itu pas, tepat dan komplit buatku,” kumparan rasa sakit menghanyutkanku lagi, sudah terlalu dalam aku jatuh padanya.
Andi tersenyum sambil menatapku jenaka, ekspresi yang tak singkron dengan keadaanku saat ini, “Aku dulu ngiranya cuma sekedar cinta pertama lho Bell, tapi ternyata kalian lebih intens dari itu, dan itu jujur bikin aku hawatir. Kalian kaya magnet, kamu gerak, dia gerak, kamu berdiri, dia juga berdiri, apalagi tatapan Willy saat ngliat kamu, over protektif banget, seakan-akan dia bakal ngajak anak-anak sekabupaten tempur kalau ada apa-apa sama kamu, segitu intensnya hubungan kalian, dan kalau udah kaya gini? Kalian berdua juga bakal sama-sama terluka dari hati, batin sama fisikmu,” katanya dengan tatapan mengambang, aku tahu benar apa yang sedang ia bicarakan sekarang, kisah cinta yang rumit tak hanya aku yang mengalaminya, “Mungkin aku nggak bisa bantu banyak Bell, karena siksa itu nggak bisa di bagi. Banyak orang bilang cinta itu kaya karet gelang yang di tarik kedua ujungnya oleh dua orang, ketika satu orang melepasnya, akan menyakiti orang satunya. Itu pasti. Pesenku, jangan pernah macem-macem Bell,” kata Andi kembali memberiku peringatan.
“Aku nggak yakin bakal baik-baik aja tanpa Willy Ndi,” tambahku putus asa, “sampai sekarang aku masih nggak paham kenapa dia mutusin aku, aku nggak tahu salahku apa,”
“Ya mungkin udah jatahnya aja kali Bell, hubungan kalian harus berakhir kaya gini. Nggak semua usaha kita bakal ada hasilnya kan Bell?” katanya seperti bicara dengan dirinya sendiri, aku paham jika dia sedang mengingat-ingat masa lalunya.
“Tapi masa nggak bisa di bicarain baik-baik? Kitakan sama-sama dewasa, kalau dia ada masalah, harusnya cerita, bahas sama-sama terus cari solusi, nggak kaya gini. Ini kekanakan banget,”
“Mendingan kamu tidur dulu deh Bell, sekarang itu kamu lagi capek dan kaget, nggak bakal bisa mikir jernih dan nggak bakal dapet solusi,”
“Hatiku kacau banget Ndi!”
“Aku tahu Bell, aku paham, tapi kalau kamu nggak bisa tenang ya nggak ada gunanya, mungkin kalian sama-sama lagi butuh waktu buat sendiri,”
“Masa kurang sih waktu yang aku kasih kemarin sama dia?” kataku kembali mengungkit-ungkit usahaku untuknya.
“Ya mana aku tahu Bell? Kamu tenangin dirimu sendiri dulu deh, kalau besok udah tenang, kamu minta ketemuan sama dia atau gimana buat minta penjelasan,”
Tapi aku tak bisa tenang malam itu, baru setelah ayam mulai berkokok dan adzan subuh mulai bergema, mataku tak lagi dapat berkompromi. Aku terlelap dengan hati kalut, air mata merembes dan dadaku remuk redam. Aku sama sekali tak menyangka jika hal ini bakal terjadi.
Hari-hariku berlalu suram, mataku selalu mendung dan tatapanku seringkali berkabut. Ku habiskan lebih banyak waktu dengan diriku sendiri. Melamun, merenung dan mengandai-andai jika hal ini dan itu tak terjadi dan selalu berakhir dengan air mata.


Kisah selanjutnya. Klik disini




Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

Review : Headshot


Review : Headshot

Jangan pernah berharap berlebihan saat menonton film, terutama untuk film Indonesia walaupun ada beberapa nama yang konsisten menjaga track record hasil karya mereka, seperti Angga Dwimas Sasongko, Joko Anwar atau Riri Riza. Tapi, dalam genre action martial arts, jujur The Raid dan Berandal terlampau tinggi untuk di lampaui.
Dunia perfileman di Indonesia memang sedang mengeliat dari tidur panjangnya, bertahap memang, tapi terlihat pasti dan membanggakan. Selain karena semakin banyaknya genre yang di tawarkan selain horor, drama, dan adaptasi yang terlampau menyesakkan, masih ada genre action yang memiliki masa depan cerah.
Apa yang dilakukan Gareth Evans dengan Merantau, lalu The Raid dan Berandal, membuat saya sangsi jika ada yang akan bisa melampauinya. Banyak yang ikut-ikutan membuat film sejenis yang akhirnya hadir selintas tanpa bisa memberikan kenangan di dalam otak. Lalu setitik harapan muncul saat Headshot muncul, sekilas dari trailernya, saya yakin jika film buatan Mo Brothers ini akan malesin di sisi drama tapi mempesona disisi aksinya (ada yang ngerasa gitu nggak?).
Dari premis memang seperti tak ada pembaruan, dari cerita apalagi, terlalu generik dan membosankan. Headshot menghadirkan cerita tentang sosok penjahat yang terdampar di sebuah pulau terpencil, lalu insaf setelah koma panjang. Penjahat insaf itu bernama Ismael (Iko Uwais), berusaha mengungkap masalalunya yang hilang, hal berikutnya yang terjadi adalah Ailin (Chelsea Islan), seorang dokter magang yang merawatnya selama 2 bulan kemudian di culik oleh sosok penjahat bengis bernama Lee setelah mendengar kabar tentang keberadaan Ismael yang begitu dikenalnya. Klise memang, tapi jika mau memberi pendalaman lebih untuk banyak karakter yang tampil begitu datar dan memberikan lebih banyak waktu untuk membenarkan naskah, niscahya film ini akan tampil lebih mengikat.
Bagi saya, Mo brother masuk ke dalam radar sutradara yang harus di tonton karyanya setelah menghadirkan Dara, Rumah Dara, lalu Killers. Saya adalah tipe penonton bejad dan bangsat yang gemar mandi darah dan menikmati betul adegan-adegan sadis di dalam sebuah film, dan saya pernah di puaskan dua kali lewat The Raid dan Berandal yang membuat saya merasa natal dan tahun baru tiba esok hari. Saya mencintai adegan memecah batok kepala, menyilet leher, mematahkan tulang belakang, jemari ataupun tungkai kaki. Saya juga gemar adegan menancapkan mata pisau ke anggota tubuh, menariknya hingga membuat kulit mengganga, dan menghaburkan isinya keluar. Guyur saya dengan segentong darah dan usus manusia, saya pasti akan berteriak kegirangan bukannya misuh-misuh penuh rasa jijik. Saya memang penggemar berat sinema psikopat berkualitas.
Ada kesenangan memang yang bisa saya nikmati di Headshot, apalagi adegan action di film ini memang di rancang oleh uwais team yang memang nggak perlu kita ragukan lagi kapasitasnya merancang aksi-aksi sinematik cantik yang memukau di depan kamera dalam soal menghancurkan tulang lawan mainnya. Tapi lagi-lagi, saya telah berharap terlalu tinggi saat masuk ke dalam bioskop yang akhirnya menyisakan sensasi menganjal saat film ini berakhir. Menyenangkan, tapi tidak memuaskan.
Tak ada yang perlu diragukan jika Mo brothers membuat film Triller banjir darah, tapi yang perlu di hawatirkan adalah kali ini mencoba genre yang berbeda, genre yang mau tak mau harus kita bandingkan dengan The raid yang berada di awang-awang. Bukan maksud membandingkan The Raid dan Headshot, tapi mau gimana lagi? Genrenya sama, alumninya juga pada main disini walau secara karakter berusaha diubah total, dan hasilnya? Mereka belum beruntung.
Tidak terasanya ikatan emosi saat saya menyaksikan film ini dan sosok Iko yang ditampilkan terlalu super setelah menghadapi berbagai pertempuran, membuat saya tidak terlalu respek dengan film ini. Banyak memang orang yang tak mempermasalahkan kualitas narasi dan pengembangan cerita, dan memang benar The Raid mempunyai masalah yang sama. Tapi The Raid berhasil memuaskan kita saat film berakhir dengan koreografi dan laga yang super duper memukau pada saat itu, bukannya meninggalkan sensasi nangung karena kurang puas.
Di sektor teknis, saya acungkan jempol untuk Headshot, terutama karena seni pergerakan kamera yang begitu dinamis dan mempesona yang tampil begitu juara. Headshot dianugrahi banyak karakter pendamping yang memiliki ciri khas dan potensi, sayang, semua itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Tapi yang membuat saya sebal adalah ketika saya berharap Julie Estelle dan Iko akan membuat saya gregetan saat mereka berantem, ternyata adegannya cuma segitu aja, malah yang paling lemah di film ini. Walau tidak semua bermain buruk, saya tetap bergidik ngeri saat melihat Sunny Pang muncul. Angker, sadis, begis, tapi karismatik. Saya benar-benar suka dengan karakternya.
Selanjutnya Mo Brothers akan menyuguhkan film action lagi dengan Joe Taslim sebagai pemain utama dengan judul The Night Come For Us dan yang paling saya tunggu adalah sekuel Rumah Dara yang banjir darah itu.
Overall, tentukan sikapmu sebelum menonton Headshot, kamu ingin menyaksikan dramanya atau aksinya? Jika drama, jangan berharap lebih, tapi jika aksi dan kamu penggemar berat The Raid, turunkan ekspektasimu. Tapi jika kamu nonton cuma mau disuguhi adegan brutal ciamik dan darah, maka, bersenang-senanglah.

skor : 2/5