REVIEW FILM: Surat dari praha (2015)

Surat dari praha
Reviewer: Triztan Famous

Ada tiga alasan kenapa saya menonton film Surat Dari Praha, yang pertama karena ini film dari Visinema yang di sutradari oleh Angga Dwimas Sasongko, yang kedua adalah karena Tio Pakusadewo yang notabennya adalah aktor Indonesia favorit saya selain Reza Rahardian, dan yang ketiga karena film ini mengangkat tema yang masih anomali karena jarang diangkat oleh sineas Indonesia.
Angga Dwimas Sasongko yang menawan saya dengan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan memantapkan pengalaman cinematik saya dengan Filosofi Kopi yang sampai sekarang masih menjadi film favorit saya yang pernah ia buat. Semenjak Surat Dari Praha mulai menjejakkan langkah pertama, konflik langsung dihadapkan kepada kita. Perkenalan tokoh yang sanggat baik juga semakin memperlancar jalannya film ini, menit pertama kita langsung diperkenalkan dengan tokoh Dahayu Larasati (Julie Estele) yang berarti teratai yang cantik dan (Widyawati), yang entah kenapa wajah mereka terlihat teramat mirip.
Laras yang sudah lama tak jumpa dengan ibunya tiba-tiba menghubungi ibunya di rumah sakit untuk meminjam sertifikat rumah guna melunasi hutang yang harus ia tanggung karena perceraiannya dengan Chiko Jeriko. Ibu laras yang meninggal setelah operasi meninggalkan sebuah permintaan yang mau tak mau harus Laras turuti, yaitu mengantarkan sebuah kotak berisi surat dari praha dan meminta tanda tangan kepada sosok yang ia kirimi kotak tersebut.
Sesampainya di Praha, ia bertemu dengan Jaya (Tio Pakusadewo) yang kurang lebih memiliki sifat pahit, egois, dan keras seperti dirinya. Tak mudah untuk Laras mendapatkan tanda tangan dari Jaya. Jaya yang tak ingin hidupnya kembali diobrak-abrik, langsung menyuruh Laras untuk meninggalkan rumahnya. Tetapi karena suatu kejadian, akhirnya Laras menginap di rumah Jaya untuk beberapa hari dan mulai mencairlah hubungan mereka, hingga menghangat, dan akhirnya menjadi intim.
Secara garis besar Surat Dari Praha mengingatkan saya akan beberapa film-film favorit saya yang saya tonton berulang, seperti memiliki akumulasi rasa dari Trilogi Before yang fenomenal itu, Lovely Man yang indah itu dan memaafkan masalalu seperti dalam Filosofi Kopi. Entah mengapa ada rasa yang menganjal saat saya melihat Surat Dari Praha ini, banyak emosi yang terlalu cepat dilemparkan kepada penonton sehingga membuat film ini terlalu padat. Tak seperti Filosofi Kopi dahulu yang membuat saya menitikan air mata di bioskop, di Surat Dari Praha ada beberapa emosi yang gagal sampai karena kurang banyaknya persiapan sehingga saya kurang bisa merasakan bagaimana kesendirian Jaya dan Luka yang Laras rasakan.
Yang kedua adalah penggunaan Green Scren pada adegan Laras dan ibunya di rumah sakit yang menurut saya cukup menganggu. Lalu adegan pada saat di rumah duka, Laras yang baru saja kehilangan ibunya sama sekali tak menitikan air mata. Sampai sebegitu keraskah hati Laras karena sakit hati dengan ibunya hingga hatinya sama sekali tak terketuk? Lalu kenapa pada saat dengan pak Jaya dia dapat dengan mudah mencair dan menjadi pribadi yang hangat dalam beberapa hari? Dan yang ketiga adalah pemain-pemain figuran di film ini yang berasal dari praha yang berakting kaku dan asal-asalan. Saya sampai tak percaya bagaimana seorang Angga Dwimas Sasongko menggunakan Extras seperti itu di dalam film ini. Adegan perampokan di taksi yang menjadi titik balik di dalam film ini harusnya bisa jauh lebih baik daripada adegan datar dan buruk seperti itu.
Tapi selain itu ada banyak adegan yang membuat hati hangat di Surat Dari Praha, seperti saat Jaya bernyanyi di bar, atau pada saat Jaya dan teman-temannya dengan reunian di rumah Jaya menyanyikan lagu tentang kuda yang entah apa judulnya dan lagu Indonesia raya yang saya harus akui dapat membuat haru seisi bioskop karena dinyanyikan oleh para manusia berideologi kuat yang tidak bisa kembali ke Indonesia dan yang paling saya akui adalah dipertengahan menuju klimaks dimana Laras dan Jaya berdebat hebat dengan kata-kata yang menurut saya sadis dan kasar dengan tehnik longtake yang menakjubkan, walau tidak terlalu lama, tapi adegan itu membuat saya semakin kagum dengan Julie dan Tio yang berakting dengan menakjubkan setelah mereka beradu di The Raid 2.
Overall, Surat Dari Praha adalah film anomali dengan cerita yang jarang diangkat di dunia perfileman Indonesia yang patut untuk disaksikan di bioskop. Walau melabeli dengan film shot luar negeri, tapi film ini tidak semata-mata menjual pemandangan luar negeri seperti kebanyakan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha dengan bijaksana menggunakan setting luar negeri sesuai dengan kebutuhan cerita. Dengan cerita yang padat dan emosi yang kerap tumpah dimana-mana film ini menjadi film yang jarang ada di perfileman Indonesia.
Sebagai film yang menjadi pemula parade film-film yang paling dinanti tahun 2016, Surat Dari Praha melakukan tugasnya dengan baik. Untuk mengakhiri review ini saya ingin mengucapkan selamat kepada Angga Dwimas Sasongko untuk meneruskan tradisi film bagus yang ia sutradarai dan selamat datang untuk Ahhc... Aku Jatuh Cinta, A copy Of My Mind dan Ada Apa Dengan Cinta yang akan segera menyapa kita... sekian.
Skor : 8/10

15 Film terbaik tahun 2015 versi Triztan Famous


15 Film terbaik tahun 2015 versi Triztan Famous

Tidak mudah sebenarnya jika harus mengelompokan film-film terbaik tahun 2015 karena banyak sekali pengalaman sinematik yang telah saya alami, dari yang hebat hingga yang ditunggu-tunggu dan cenderung mengecewakan seperti Avengers Age of Ultron, Hungger Game Mockingjay Part 2, Spectre. Dalam menyusun daftar 15 film terbaik ini saya harus menyengol banyak film yang membekas dan cenderung karena alasan personal.
Sebelumnya saya sama sekali tak meyangka jika banyak sekali film yang mampu menyentuh hati saya, saat mulai memilahnya ternyata jumlahnya hingga 30an film dan harus saya pangkas setengahnya walau dengan hati terluka, hehehe, dan Inilah daftar 15 film terbaik tahun 2015 menurut saya:


15) Star Wars The Force Awakens
Sebelum melihat Star Wars The Force Awakens, saya memang tak benar-benar paham apa yang membuat saga ini begitu dicintai oleh banyak orang, saya juga tak mengerti kenapa Star Wars bisa menjadi budaya populer dan menjadi fenomena besar di tahun 2015 dan mencetak banyak rekor di dunia perfilman. Tapi, setelah melihat episode ke VII ini saya baru paham jika Star Wars sangat layak untuk ditunggu kelanjutannya. JJ Abrams tahu benar bagaimana mengolah materi ini untuk memanjakan fans diluar sana dengan gaya cerita yang asik dan memanjakan penonton lewat visual yang mengagumkan, momen emosional, humor segar dan pertempuran mengasikan, terlebih adegan penutup yang membuat kita tak sabar menunggu kelanjutannya.

14) Assassination

Korea dan balas dendam. Satu hal yang wajib untuk kalian lihat, apalagi dengan bintang-bintang top, naskah bagus, sutradara keren. Sangat menjanjikan untuk memberikan kita sajian balas dendam yang memuaskan.

13) Jurasic World

Nostalgia dengan petualangan dinosaurus yang sama mempesonanya saat saya melihat Jurasic Park waktu kecil dulu. Walau dengan cerita yang biasa, tapi sensasi nostalgia yang begitu indahlah yang akhirnya membuat saya menenpatkan Jurasic World di list film terbaik ini.

12) Filosofi Kopi

Berasal dari salah satu penulis favorit saya di Indonesia, sutradara dengan track record menjanjikan, aktor-aktris yang sedang hangat-hangatnya di Indonesia, buku yang mempesona. Apalagi yang kalian butuhkan lagi? Filosofi Kopi akan memberimu pahit, manisnya hidup bagai kopi itu sendiri dengan pengisahan yang begitu indah. Film yang akan membuatmu menontonnya berulang kali.

11) The Martians

Film bertahan hidup di luar bumi yang begitu asik, getir, dan riang. Terlebih dengan performa gemilang matt Damon sebagai lakon utama yang mampu membuatmu bersimpati akan kelanjutan hidupnya di planet Mars. Naskah yang gurih, lagu-lagu disko unik, menjadi jualan lain di film ini.

10) Kingman The Secret Service

Saya sama sekali tidak menyangka jika kingsman bakal jadi seadik ini. Film tentang mata-mata yang begitu renyah, asik, elegan dan membuatmu bersenang-senang. Awal francise mata-mata yang patut diperhitungkan setelah James Bond yang mulai nampak kelelahan dan Mission Imposibel yang baru saja memulai tajinya. Coba tonton dan kamu akan tepuk tangan.

9) The Revenant

Balas dendam? Bertahan di alam liar? Perang yang dahsyat dan sinting? Leonardo Decaprio? Sutradara pemenang Oscar tahun lalu? Bukankah itu modal yang begitu menjanjikan sebagai tontonan pengeruk uang? Buktikan keberanianmu di film ini dan kamu akan bersenang-senang dan tegang dengan cara yang begitu keren.

8) Heart Attack

Drama yang bagus, indah, konyol dan manis. Memberikan kita sensasi menyenangkan seusai menontonnya. Apalagi kemistri indah yang diciptakan oleh dua lakon utama yang begitu kuat dan sulit dideskripsikan.

7) Me and Earl and the Dying Girl

Dalam, indah, unik, cantik, lucu dan ceria. Film tentang remaja dan penyakit mematikan yang begitu berbeda dan mampu menghantam emosimu keras-keras dengan tokoh-tokoh yang mampu mengambil hatimu dan dituturkan dengan cara yang begitu istimewa. Memberimu banyak pelajaran tentang hidup.

6) Drisyam

Saya adalah penggemar film Bollywood akhir-akhir ini karena semakin lama perfilman di India semakin sinting dalam artian yang baik. Benar-benar film yang cerdas, emosional, gemilang dan dahsyat. Plot di film ini benar-benar terjalin rapi dan mencengkrammu sejak menit pertama hingga akhirnya meledak di akhir film. Sungguh sulit untuk mengambarkan film ini dengan kata-kata. Pengalaman sinematik yang luar biasa.

5) Mencari Hilal

Jujur saya bukan pecinta film-film religi Indonesia dan cenderung benci dengan pola-pola yang dijabarkan oleh kebanyakan film-film religi tersebut karena alasan personal. Tapi, Mencari Hilal seakan-akan hadir dari sudut tak terjamah yang begitu indah karena magis yang diciptakan saat menontonnya. Jujur, saya sangat mencintai film-film yang dapat menohok hati dengan bermacam emosi yang begitu kuat, dan itu diwakili oleh Mencari Hilal, mulai dari tawa, haru, trenyuh, sebal, benci, sayang, tersayat, semuanya tersaji komplit di film ini. Hubungan antar sesama manusia yang indah, gambar-gambar penyejuk mata, lantunan kisah yang jujur apa adanya hingga membuat kita merenung di akhir film.

4) The Intern

The Intern adalah salah satu film yang paling sering saya putar ulang karena rasa yang ditimbulkan. Bahkan pada saat pertama kali saya melihatnya, saya bertepuk tangan panjang saat film ini berakhir. The intern begitu menghibur dan menghangatkan hati. Apalagi dua aktor dan aktris favorit saya beradu dalam satu layar, Robert De Niro dan Anne Hateway yang memberikan akting magis mereka. Saat berpisah mereka menjadi pencuri layar dan saat bersama-sama mereka begitu bersinar. Benar-benar pengalaman sinematik yang indah.

3) Whiplash

Saya sama sekali tak paham nada, dan pecinta salah satu genre musik kelas berat. Tapi Whiplash akan membuatmu terseret permainan musik dan memaksamu terbawa emosi yang begitu menohok saat melihat interaksi antara murid dan guru bangsat yang ditampilkan begitu gemilang oleh masing-masing aktor. Jantung saya terus berdebar-debar dan tegang, apalagi 15 menit terakhir yang begitu gila-gilaan dan dahsyat.

2) Mad Max

B*-JI-NG*N! B*NGS*T! Keren banget film ini, saya sama sekali tak menyangka jika Mad Max bisa sesinting ini. Visualisasinya gila! Aksinya sinting! Aktingnya liar!. Film yang benar-benar gahar, liar, mengasyikan, menegangkan dan sederet kata pujian lainnya yang tak akan membuatmu jemu saat menontonnya berulang kali. George Miller menunjukan kepada banyak orang bagaimana membuat film aksi yang begitu sempurna, indah dan berbahaya sekaligus.

1) Inside Out

Ini film Pixar! Masih butuh reviewnya? Dan bukan hanya karena ini film dari brand Pixar, tetapi karena ini juga film Pete Doctre yang tak pernah mengecewakan saya di ranah film animasi. Banyak hal yang saya alami saat menonton Inside Out, tertawa, bersemangat, tegang, sampai meneteskan air mata di ujung film yang begitu mempesona dengan campuran beragam perasaan. Sejak premisnya dibuka dan trailer-trailers yang begitu indah ekspektasi melambung tinggi dan mampu terpuaskan. Pixar is Back! Dan tahun depan kita akan disajikan Finding Dory yang pasti mempesona karena dibuat oleh sang ayah sendiri. Keren!

REVIEW FILM : THE REVENANT (2015)

The Revenant (2015)



THE REVENANT (2015)
Reviewer : Triztan Famous
Sejak menit pertama, The Revenant berhasil menghantarkan suasana sedih, mencekam, sendu, getir sekaligus dingin yang memukau. Terlebih adegan pertermpuran antara pemburu dan suku indian yang brutal dan beberapa kali diambil dengan long take yang mempesona. Dan siap-siap untuk menahan nafas saat pertarungan epik Caprio dengan beruang yang brutal, indah sekaligus akan membuatmu memohon untuk segera diakhiri (bahkan aku sampai menarik-narik rambut dikepala saking sadisnya adegan itu).
 The Revenant adalah adaptasi cerita nyata  lama dari novel The Revenant: A Novel of Revenge milik Michael Punke yang diceritakan kembali oleh Iñárritu dalam sebuah petulangan survival epik sepanjang 156 menit. Berpusat pada kisah bertahan hidup luar biasa dari Hugh Glass (Leonardo Dicaprio), mantan tentara Amerika di era 1823 yang ditinggalkan oleh rekannya begitu saja setelah tak berdaya diserang beruang Grizzly dengan kisah balas dendamnya yang luar biasa.



Kabar baiknya adalah itu baru satu dari sekian adegan menakjubkan dan diluar nalar The Revenant, diantara gambar yang senantiasa menciptakan hawa dingin mencekam dan satu persatu adeganpun muncul dan mengoyak hatimu, bahkan saking mencekamnya film ini srooring saja baru muncul setelah kurang lebih satu setengah jam film ini berjalan. Selain memiliki cerita dan penyutradaraan yang sangat baik, The Revenant juga memiliki Dicapiro dan Tom Hardy yang bermain sangat prima sebagai sosok Fitzgerald yang luar biasa licik dan menjengkelkan. Sungguh layak mereka berdua diganjar nominasi Oscar untuk apa yang telah mereka lakukan disini, benar-benar brilian. Coba saja lihat bagaimana mata Dicaprio bicara selama di film ini, kau akan takjub melihat bagaimana seorang pelakon benar-benar bisa melakonkan perannya dengan sangat-sangat baik dan totalitasnya disini benar-benar diuji oleh sang sutradara yang tak pernah setengah-setengah dalam membuat film (adegan makan ikan dan daging mentah menjadi salah satu bukti totalitas Leonardo Dicapiro).
Posisis dimana penonton menjadi seseorang yang buta terhadap apapun dan tak bisa kejadian-kejadian apa yang akan dialami Hugh Glass adalah salah satu poin lebih di film ini. Kejutan demi kejutan yang hadir dan terjalin rapi membuat film ini begitu alami dan tak dibuat-buat. Pejuangan Hugh Glas di alam liar juga patut diacungi jempol. Apalagi dengan motivasi yang ditampilkan begitu brilian oleh Alejandro G. Inarritu, menjadikan The Revenant menjadi salah satu film bertahan hidup dan balas dendam terbaik, terkejam, terbrutal dan terindah yang pernah ada.
Overall The Revenant adalah sebuah puisi yang akan mengoyakmu tampa aba-aba, puisi yang akan membuatmu ngilu akan sebuah perjuangan panjang seorang ayah yang membalaskan dendam atas kematian anaknya dan sebuah puisi yang akan membuatmu menghela nafas panjang dan lega saat melihat film berdurasi lebih dari dua setengah jam ini berakhir, hingga akhirnya kau akan bertepuk tangan melihat pengalaman sinematik yang tak ada duanya ini. Kredit khusus untuk Emmanuel Lubezki yang telah membuat film ini sanggat mempesona.
Skor : 9/10

REVIEW FILM: SINGLE (2015)

Triztan Famous Review : Single (2015)


SINGLE
Reviewer : Triztan Famous
“Kubenci sendiri... kubenci sendiri... sampai kapan terus begini...”
Entah kenapa saat keluar dari bioskop aku dan teman-temanku terus menyanyikan Ost. Film single yang khusus diciptakan oleh Geisha untuk film ini. Kurang lebih ada tiga macam gubahan arasemen yang sanggat candu di dalam film Single yang menggunakan lagu ciptaan Geisha ini. Ekspektasi yang rendah dan cenderung kecewa saat menonton film ini sedikit demi sedikit terobati saat film ini mulai bergulir. Jujur sebelumnya tak ada rencana sama sekali untuk menonton film ini sebelumnya, karena pada malam itu aku dan teman-teman berencana untuk ikut heboh dalam pengalaman sinematic Star Wars episod VII berjudul The Force Awakens, tapi karena telat setengah jam dan karena tak ingin pulang dengan tangan hampa. Akhirnya kita putuskan untuk menonton film single, yang begitu heboh mengisi liburan anak-anak muda di Indonesia.
Ekspektasi rendah dan rasa kecewa saat menonton film ini membuatku dan teman-teman mengira jika film ini akan berakhir sama seperti comic 8 Casino King Part 1 yang begitu melempem. Tapi saat film mulai bergulir perlahan film ini mulai dapat dinikmati, terlebih saat Ebi (Raditya dika) galau benyanyi kubenci sendiri yang dilantunkan Geisha dengan mimik wajah yang teramat sanggat ingin aku tonjoki (hahaha... entah kenapa dari dulu saat aku melihat Raditya Dika terbesit rasa untuk menghancurkan wajahnya, Pstt jangan bilang-bilang sama dia ya). Scene saat Ebi menyanyikan lagu Geisha dengan suara tak karuan itulah yang membuatku menikmati single.
Secara garis besar Single menceritakan tentang Ebi yang memiliki kesulitan untuk berbicara dengan lawan jenis dan sudah berumur untuk memiliki pasangan. Dibantu kedua sahabatnya Wawan (Panji) dan Victor (Babe Cabita) Ebi mulai mencari pasangan karena mamanya yang terus menerus mendesaknya dan adiknya yang keburu nikah karena sudah mapan, memiliki rumah dan pasangan, tidak seperti Ebi yang malah kebalikannya, Belum dapat kerja, masih kost dan sering pinjam uang mamahnya dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja.
Salah satu hal kenapa malam itu memutuskan untuk menonton film Single karena ada nama Soraya Film dibelakangnya, tak lebih tak kurang karena sebelum-sebelumnya saya memang bukan penggemar berat Raditya dika, sayapun juga belum menonton film Dika sebelumnya. Di Indonesia nama Besar Soraya Film sudah menjadi Brand menjanjikan akan sebuah film untuk menampilkan production value yang menakjubkan. Soraya Film yang sebelumnya sukses mnelurkan film-film mega blocbuster seperti Eifel i’m in love yang berhasil menembus 2 juta penonton, 5 cm yang kembali mendulang emas sebesar 2,2 jutaan penonton, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick yang menjadi film dengan penonton terbanyak di Indonesia tahun 2013 dengan jumlah penonton 1,7 juta penonton dan terakhir film Supernova episode satu yang berjudul Ksatria, Putri dan Bintang jatuh yang tampil paling menyedihkan lewat eksekusi film, kesalahan casting, pelafalan bahasa buku dan pemilihan materi novel yang tidak cermat. Sehingga menjadikannya film Soraya berpenonton paling rendah, yaitu sekitar 500an ribu penonton saja.
Sigle yang produksi oleh Soraya Film memberikan sajian gambar yang begitu indah, jernih, dan mewah. Shot-shot Bali yang menakjubkan, adegan skydiving yang lumayan menghibur dan ledakan mobil yang sudah nampak sedikit ti trailernya, sungguh kemewahan yang sanggat jarang ditampilkan di perfileman indonesia yang jarang berani memproduksi film dengan dana yang besar.
Film Single juga memiliki keistimewaan daripada film-film raditya dika yang lainnya, selain production value yang jempolan, single juga memiliki amunisi sebagai film pertama Raditya dika yang tak berdasarkan dari buku-bukunya, selain nama Raditya dika yang begitu menjual di kalangan anak muda. Banyak hal yang membuat film ini begitu mengalir dan membuat 2 jam dibioskop tak terlalu terasa. Acungan jempol untuk Babe Cabita yang berhasil meningkatkan suntikan humor di film ini, joe yang tampil begitu menganggu dan menjengkelkan sekaligus lucu disaat yang bersamaan, Panji juga tampil begitu pas, begitu pula Pevita pearce yang tampil begitu menakjubkan walau hanya menjadi cameo saja di dalam film ini. Memang ada beberapa moment dan emosi yang tak terlalu berhasil disampaikan dengan baik di dalam film ini, dan moment-moment tersebut kebanyakan pada saat angel (anisa rawles) berakting. Angel yang menjadi karakter pusat di film ini seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih daripada tangisan palsu saat puisi ibunya dirobek-robek radit. Sumpah, itu akting murahan sekali. Memang ada beberapa plot hole yang terdapat di film ini, tetapi setidaknya ini adalah Film komedi yang tidak kampungan seperti film-film berlabel komedi lainnya.
Single adalah film komedi berkelas, dengan Production Value yang begitu berkelas juga. Meski banyak moment yang hit and mis, tapi setidaknya film ini begitu lancar bercerita hingga akhirnya memberimu pencerahan pada akhir filmnya. Semoga suatu saat nanti Radit berhenti bermain-main di zona amannya, dan memulai suatu hal diluar jalur film-filmnya kebanyakan.

Skor : 7,5 /10 

ps: selamat atas pencapaian film single memperoleh 1 juta penonton #BanggaFilmIndonesia

REVIEW: The Good Dinosaur (2015)

Triztan Famous Review : The Good Dinosaur (2015)



The Good Dinosaur
Reviewer : Triztan Famous
Setelah absen unjuk kebolehan di tahun 2014, pixar kembali keranah animasi pada tahun 2015 dengan dua buah film animasi berbuget besar. Kerontang akan karya masterpiece Pixar langsung terpenuhi dengan bombardir teaser, trailer dan snek peak Inside Out yang begitu menakjubkan. Semua orang yang sudah menyaksikan Inside Out pasti berseru jika Pixar is Back! Tak salah memang, Pixar yang menjadi brand penghasil animasi blockbuster dan studio animasi penjamin mutu kembali mempertahankan nama besarnya dikancah perfileman animasi dunia, dan saya juga berani bertaruh jika piala Oscar untuk animasi terbaik bakal kembali ke Pixar dengan Inside Outnya yang luar biasa.
Tapi, expektasi yang membumbung tinggi akibat penampilan gemilang Inside Out tak lantas membuat The Good Dinosaur kecipratan keajaiban Pixar. The Good Dinosaur yang proses produksinya mundur satu tahun dan mengalami pembongkaran cerita, sutradara dan pengisi suara harus dengan lapang dada menerima beragam kritikan. The Good Dinosaur sebenarnya bukan film yang buruk, sama sekali bukan. Tapi the Good Dinosaur juga bukan film animasi sekelas Inside out, trilogy toy story, Wall E, Rattatoulie, The Incridible, Up, dan Finding Nemo yang fenomenal itu.
The Good Dinosaur adalah film kelas dua Pixar yang memiliki sajian cerita sekelas, Cars, Cars 2, Brave, ataupun Monster University. Pergantian sutradara, pengisi suara dan perombakan cerita memang sangat terasa saat menyaksikan film ini, saya yang ingin takjub untuk kesekian kalinya saat menyaksinya film produksi Pixar memang harus menelan kecewa dengan cerita yang terlampau simple untuk brand sekelas Pixar.  Tapi bukan Pixar namanya jika tak memiliki sentuhan ajaib di dalam setiap filmnya, The Good Dinosaur adalah film animasi terindah yang pernah saya lihat, efek hujan, air, awan, atau pemandangan alam di film ini terasa begitu menakjubkan dan hampir seperti nyata. Empat jempol ke atas untuk tim Pixar yang telah menciptakan dunia The Good Dinosaur yang begitu indah.
Karakterisasi begaram dinosaurus di film ini juga kuat dan indah dengan tampilan warna-warni yang mudah disukai anak-anak dan cukup efektif untuk mengundang tawa dengan berbagai tingkah polahnya. The Good Dinosaur memang sebuah film yang dikhususkan untuk anak-anak, tak seperti film-film Clasic Pixar yang bisa dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa selaku pendamping anak-anak saat menonton film. Tapi memang ada beberapa hal yang terlalu berlebihan jika film ini memang dikhususkan untuk anak-anak, seperti saat arlo dan spot mabuk karena makan buah-buahan senejis beri atau jamur, atau adegan-adegan yang terlampau keras dan kejam yang terjadi kepada Arlo dan Spot saat tersesat di alam liar.
Overall, The Good Dinosaur adalah film animasi dengan sajian sinematik paling indah dan menakjubkan yang pernah ditampilkan oleh film-film animasi selama ini tapi terkesan nanggung di aspek cerita. Terlalu keras dan kejam untuk anak-anak tapi terlalu membosankan dan mudah ditebak untuk orang dewasa.
skor:
7/10

REVIEW FILM: INSIDE OUT (2015)

INSIDE OUT (2015)





INSIDE OUT
Reviewer: Triztan Famous
Pixar is back! Pixar is back! Kegirangan saya dengan sahabat saya saat mendengar kabar Inside Out tayang di Indonesia. Setelah menunggu kurang lebih dua bulan karena harus mengalah dengan Minions yang luar biasa menjengkelkan itu akhirnya film yang digadang-gadang menjadi film animasi peraih piala Oscar tahun ini keluar juga. Ekspektasi yang tak lagi bisa terbendung, pujian setinggi langit para kritikus film hingga pendapatan opening yang mampu menutupi setengah ongkos produksi tak ayal membuat para pecinta film animasi khususnya Pixar berbondong-bondong ke bioskop.
Pixar adalah sebuah Brand internasional yang menguasai permainan dunia animasi selama kurang lebih 25 tahun. Film pertama Pixar, Toy Story langung mencuatkan nama Pixar kedunia internasional. Kemunculan beruntun film-film animasi yang memiliki kualitas dan cerita diatas rata-rata semakin memperjelas pemetaan studio animasi terbaik yang pernah ada di dunia. Sebut saja film A Bugs Life yang muncul setelah film Toy Story yang pertama, lalu disusul Toy Story 2, Monster Inc., Finding Nemo, The Incridible, Cars, Ratattaulie, WALL E, UP, Toy Story 3 dan mulai mengendur kualitasnya saat merilis Cars 2, Brave, Monster University, hingga akhirnya harus vakum setahun karena masalah produksi film The Good Dinosaur yang harus dirombak hingga akhirnya semua orang bersorak sorai saat Pixar kembali dengan karya barunya berjudul Inside Out yang memukau dunia.
Film Inside Out bercerita tetang lima emosi dasar yang hidup didalam fikiran manusia, kelima emosi tersebut ialah Joy (Gembira), Sadnes (Sedih), Angry (Marah), Fear (Takut) dan Digust (Jijik). Secara garis besar Inside Out bercerita tentang pergolakan emosi Riley, gadis 12 tahun yang enerjic dan penggembira yang harus terpaksa meninggalkan kehidupannya yang sempurna di Menesota ke San Francisco karena pekerjaan ayahnya. Secara plot cerita Inside out sebenarnya juga sangat simpel, tapi perpaduan antara dunia nyata dan dunia emosilah yang pada akhirnya membuat film ini begitu menakjubkan.
Jika ditilik melalui trailer, teaser dan beragam snek peak yang bertaruran di youtube (Inside Out adalah film Pixar yang paling banyak mengumbar sneak peak sepanjang masa) dalam persepsi saya film ini bakal serumit Inception Christopher Nolan yang begitu Rumit, Indah dan menakjubkan karena sama-sama memiliki seting yang sama, yaitu dunia fikiran dan dunia nyata. Tapi ternyata saya salah, Inside Out sama sekali berbeda dengan masterpiece Nolan tersebut. Begitu mudahnya kita masuk ke dalam dunia Inside Out, lewat karakter-karakter mengemaskan, berwarna, dan dialog cerdas sesuai porsinya kita diajak berpetualang ke dunia fikiran Riley Anderson.
Dunia alam sadar, long term memory, pulau imajinasi dan lain-lain disajikan dengan begitu greget dan menakjubkan. Begitu bewarna dan begitu mengasyikan menikmati Inside Out, serasa anak kecil tersesat di Time Zone. Konflik bergulir saat Sadnes tiba-tiba bertindak diluar kendali hingga membuat dirinya dan Joy keluar dari Ruang Kendali. Saat Joy dan Sadnes keluar dari Ruang kendali itulah Inside Out benar-benar menunjukkan taringnya. Petualangan demi petualangan mereka lewati bersama Bing Bong yang bakal membuatmu terpingkal-pingkal dan bingung memilih karakter mana yang akan kalian favoritkan di dlam film ini. Bing Bong yang diperkenalkan dengan cara komikal pada akhirnya harus membuatmu menitikan air mata di paruh akhir penceritaan.
Inside Out juga memberi kita banyak pelajaran, salah satunya adalah jika peristiwa semata-mata hanyalah peristiwa, jenis emosilah yang pada akhirnya membuat kita menjadikan peristiwa itu menjadi kenangan yang membangkitkan rasa hangat di dada, rasa marah, rasa jijik, rasa takut ataupun rasa sedih. Di dalam film ini kita juga diajarkan jika semua emosi itu teramat penting untuk ada di dalam kehidupan kita. Jika anda berfikir jika Sadnes itu tidak penting, coba berfikirlah ulang, kita tak akan bisa merasakan kebahagiaan jika kita tak merasakan kesedihan terlebih dahulu, begitupun sebaliknya.
Sekali lagi Pixar membuktikan jika mereka masih memiliki sentuhan ajaib untuk membuat karya masterpiese, film yang dibuat dengan hati begitu banyak berbicara lewat emosi hingga membuatku untuk kedua kalinya menitikkan air mata di dalam bioskop tahun ini (Awal-awal tahun Filosofi Kopi berhasil membuatku menitikkan air mata karena konflik dengan sosok Ayah yang terasa begitu personal). Overall, Pixar did a great job again...
Skor : 10/10

Kentongan



KENTONGAN
Oleh : Triztan Famous

Dini hari sebelum subuh itu, kentongan di pojok gardu mengadu. Mengoyak selaput awan di atas sana. Membuatku dan tetanggaku bergegas, berlari bersama cemas menyecap ujung suara.
“Maling! Maling!“ lagi, seruan parau itu menggema di sudut desa. Meminta pertolongan, memberi kepastian. Penduduk sekitar yang sudah biasa membaca tanda-tanda akan datangnya peristiwa lantas berhambur di luar rumah, memecah diri. Sebagian menuju sumber suara, yang lain bersiap di titik-titik strategis.
Seketika, rumah di ujung jalan itu ramai tak terperi. Seseorang bercadar sarung berkelebat menghindar kejaran masa yang mendadak padu. Ia panik, tak mengira jika aksinya kali ini akan mengundang masa sebegitu banyaknya.
Nafasnya berseloroh, tremor menyerang mendadak, degub di jantungnya seperti akan mencuat lepas dari dalam dada. Ia tak ingin menjadi tumbal kejahatan masal, dengan segenap tenaga ia memaksa tungkai kakinya yang terus bergetar agar terus bergerak. Menjejak aspal, atau gumpalan tanah berbatu yang meghadang. Ia ketakutan. Keringat menderas, membentuk noda basah di lekukan tubuh, punggung dan cadar sarungnya. Clurit di tangannya siap membabat orang yang menghadang. Ia tak ingin menyulut peperangan, tapi itu akan terjadi jika langkahnya terhalang.
 http://images.suaradesa.timesindonesia.co.id/1430825036-Antara-Kentongan-dan-Broadcast-Messages.jpg
Para cecunguk desa mulai bertebaran di posisi strategis yang mungkin ia lewati, membuat si pencuri hilang akal, jalan-jalan keluar yang ia persiapkan tersumbat gelontoran manusia. Ternyata aksinya sudah terendus warga desa. Tak ingin ia tertangkap dan jadi bulan-bulanan masa demi segengam emas dan segepok uang. Keluarganya setia menunggu dirumah, ia tak ingin mengecewakan mereka. Atau sekedar pulang menghidangkan rasa malu untuk dijamu sebagai sarapan.
Di pertigaan langkahnya tersendat, ia melihat masa mengepungnya. Jiwanya histeris, ia kalut, sekilas ia bersitatap dengan malaikat maut yang hadir berkelebat, penunggu kuburan yang akan tubuhnya gunakan untuk bersemayam, “Jangan memaksakan keberuntungan,“ katanya sinis. Tapi ia diam, tak menggubris kelebat hayalnya. Ia tak sudi menyerahkan butir nyawanya dalam kondisi seperti ini.
Ia mengedarkan pandang, tak ada jalan, bisiknya getir pada diri sendiri. Tetesan keringat mendanau di bungkusan ketat tubuhnya. Ia kembali mengedarkan pandang, tak ada jalan, ulangnya frustasi.
Matanya bergetar, ia lemparkan sudut pandang ke segala penjuru arah. Mustahil ia bisa memanjat tembok setinggi dua setengah meter disekelilingnya, pertigaan itu mengkungkung dirinya dengan jajaran rumah berpagar tinggi. Sebentar lagi kau akan bertemu ajal, dan aku akan melumatmu perlahan, ucap sang maut kegirangan. Tidak! Aku tak ingin mati sekarang, balas sengit pencuri bercadar.
Suara kentongan terasa menohok telinga saat sebuah galah melayang menubruk punggungnya. Warga desa sudah bersiap, mereka tak ingin celaka dengan pertarungan jarak dekat dengannya. Clurit di tangannya teracung garang, menantang warga desa yang mendatang. Ia tak ingin menyerah, sama sekali tak ingin kalah.
Gelombang besar manusia mengepungnya dipertigaan, dengan senjata dan alat pertahanan seadanya, mereka membludak dalam sebuah arus besar yang tak bisa ditahan. Tak hanya lelaki yang datang menyeruak, ibu dan anak-anak semua berbondong-bondong datang. Mereka ingin melihat orang dan kejadian yang akan menjadi bahan omongan beberapa waktu kedepan.
Batu dan galah meluncur dari segala arah menghujam tubuhnya. Cluritnya tak lagi terlihat garang, saat ia melindungi wajahnya, warga berdatangan menghampiri dan merebut clurit yang tak bisa lagi terlihat garang. Balok kayu langsung menghantam telinga bagian kanan, rasa panas, perih dan dengungan panjang datang menyergap disertai sorak sorai masal. Warga bahagia, maut bersendawa.
“Habisi dia!“
“Buat orang itu jera!“
Teriakan menghujam dari berbagai lidah tajam. Mereka akan membunuhku, ucapnya pasrah, aku akan mati. Ia pasrah, tak bisa ia berbuat apa-apa. Tubuhnya terus berdenyut kencang bekas sepakan keras kembali menghantam sisi kiri wajahnya.
Mereka bersorak! Orang-orang terus berteriak!
Batu menghantam dari bawah dagunya.
Tawa masyarakat membuncah! Beludak bahagia menggema!
Galah adu keras dengan jidatnya. Sorai bertemu dengan tepukan tangan! Mereka menikmati proses penyiksaan dirinya dengan gembira.
Kentongan terus ditabuh sebagai orkes pengiring kebahagiaan masal. Cadar sarungnya dikoyak diantara wajah belepot darah dan luka setengah matang. Mereka mengenalinya, jati dirinya resmi telanjang. Bogem mentah kembali melayang, bergilir menghantam wajahnya. Tongkat kasti meremukan rusuknya, balok kayu menghancurkan telinganya, sepakan keras menjontorkan bibirnya, galah kembali adu keras dengan batok kepalanya, dan sikut mendarat tepat di tengah punggungnya.
Adengan itu terus berulang, menerbangkan setengah nyawanya mengawang-awang, ia sekarat, sang maut siap-siap melumat. Wajahnya tak lagi ketara diantara aliran segar darah dan biru memar. Ia sadar, jika inilah babak akhir hidupnya.
Kentongan kembali bertabuh.
Menyadarkanku, jika itu ceceran mimpi yang telah berlalu.