Melajulah “pelepasan”ku...



1 mei 2016

Melajulah “pelepasan”ku...


Hai semuanya! Selamat hari baik!
Sebagai permulaan saya akan memperkenalkan diri saya secara singkat. Nama saya Triztanius Hermawan, nama pena saya Triztan Famous, kalian boleh memanggil saya Triztan, TriHer atau apapun terserah kalian. Benar-benar terserah. Saya tidak terlalu peduli sebenarnya dengan nama julukan. Bukan karena kenapa-kenapa, karena terlalu banyak julukan untuk saya sehingga saya membiarkan itu semua seperti apa adanya. Sahabat baik saya kebanyakan memanggil TriHer, Alien, Patrick, Wejin, Cecep, Wawan, Oshin dan lain-lain.
Sebentar lagi saya akan lulus dari UMS dan akan menghadapi dunia nyata. Saya anak yang lahir ke tiga dari keluarga yang tinggal di perbatasan Ampel-Salatiga. Saya mencintai dunia tulis menulis, melukis fotografi dan penggemar berat dunia sinema, entah itu sinema luar ataupun dalam negeri. Saya juga penggemar berat dunia fantasi dan superhero, tapi setiap hari menonton CNN untuk mengurangi kadar pikiran yang menurut kebanyakan orang tidak normal.
Cukup untuk perkenalannya.
Tujuan saya membuat tulisan ini adalah saya ingin mengembangkan lagi bakat menulis saya yang karena banyak hal berhenti di satu tempat. Setelah melalui pemikiran panjang, saya putuskan untuk melepas salah satu draf buku saya untuk ditulis ulang dalam bentuk serial yang akan saya terbitkan perbab setiap malam minggu.
Pelepasan adalah sebuah cerpen yang saya tulis tahun 2011 dahulu dan saya post di catatan di halaman Facebook saya. Sebagai selingan dalam membuat Skripsi, saya iseng-iseng mengembangkan cerpen tersebut hingga datanglah ide untuk serial ini hingga empat episode lengkap dengan setting cerita, premis, penokohan dan beragam printilan-printilan kisah yang hadir perbagian dan terus-terusan timbul untuk meminta segera dikerjakan.
Tapi akhirnya saya tak kuat untuk menahan beragam printilan-printilan kisah yang hadir menerus dan membuat pola acak di dalam otak saya. Seakan-akan Willy dan Abell ini memiliki kehendak untuk menceritakan kisah mereka lebih dari sekeder cerpen yang saya tulis. Mereka berdua terlampau kompak dan kuat mengedor-gedor pintu inspirasi saya sehingga saya kesurupan dalam berkisah. Kurang lebih dalam tiga minggu saya keranjingan menulis kisah Abell dan Willy ini, hingga menghasilkan sebuah kisah sepanjang 38 bab dan 261 halaman.
Tawa, tangis, air mata, geram dan lega bercampur aduk saat kisah ini saya selesai jabarkan. Entah kepada siapa saya berterimakasih saat kisah ini berakhir, mungkin Abell dan Willy, tapi mungkin juga tidak. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil selama tiga minggu menuliskan kisah ini. Lalu kisah tersebut saya diamkan selama satu minggu dan mulai saya baca ulang untuk penyuntingan dan editing beberapa kesalahan selama kurang lebih satu bulan hingga akhirnya saya cetak dan saya bagikan kepada teman-teman saya.
Setelah kisah pelepasan selesai di tulis dan di edit lalu saya cetak, sebuah kejadian yang amat tidak menyenangkan menimpa saya. Laptop saya rusak dan hardisk di dalamnya tidak bisa diselamatkan. Puluhan cerpen, puisi dan empat buah novel yang sudah selesai saya tulis lenyap tanpa bekas. Tak meninggalkan satu sisapun. Hingga saya ingin bunuh diri saking kecewanya menghadapi kenyataan tersebut. Kisah-kisah yang saya tulis sejak SMA, puisi-puisi yang hadir sejak saya SMP sebagai jejak kepenulisan saya menjadi kabut yang sulit digenggam.
Karena kejadian itulah saya tak lagi menulis kurang lebih satu tahun, tapi bulan-bulan terakhir ini saya mulai kembali menulis, tapi bukan menulis cerpen atau novel. Saya sedang keranjingan menulis review film sebagai penjembatan hobby saya menonton film dan menulis hingga akhirnya timbul kembali keinginan untuk menulis walau karya saya sudah lenyap.
Lewat serial pelepasan ini saya ingin kembali mengembangkan bakat dan meneruskan mimpi saya. Apapun yang terjadi, saya akan tetap kembali menuliskan kisah-kisah yang hadir di dalam teater fikiran saya menjadi kisah yang bisa kita baca semua. Saya tak peduli jika nanti kisah ini berhujan kritik, antusias atau apapun itu yang kelak dihadirkan sang kehidupan. Saya menulis kisah ini hanya untuk mengembangkan bakat dan mewujudkan mimpi.
Serial ini berjudul PELEPASAN, sebuah seri yang menceritakan tentang pencarian jati diri dan spiritualitas seorang tokoh bernama Abel Jerolin. Abel adalah seorang yang tertarik secara fisik, seksual, emosional dan romantis terhadap sesama jenis atau yang sering kita sebut Gay. Di dalam Pelepasan, Abel akan mengalami berbagai tragedi yang akhirnya membuatnya menemukan jati diri dan kepercayaan yang ia yakini, bukan yang ia turuni dari keluarganya.
Jika tak ada hal yang berubah dalam garis penceritaan saya, PELEPASAN adalan babak pertama dari beberapa tokoh yang akan melakukan perjalanan panjang untuk pencarian di dalam kehidupan mereka. Babak pertama dalam kisah ini akan diwakili oleh Abell Jerolin dan Willy Putranda di PELEPASAN. Pelepasan saya khususkan untuk para pembaca dewasa karena topik, bahasan, adegan di dalam kisah tersebut cenderung depresif, muram dan mudah menyingung banyak pihak.
Babak kedua akan dikisahkan lewat tokoh Mochi lewat episode PERETAS MIMPI dengan pengisahan yang saya buat lebih muda, segar dan penuh kegembiraan sebagai upaya saya mengimbangi penceritaan di pelepasan yang kelam. Babak ketiga akan menceritakan tentang seorang gadis berkebutuhan khusus yang menceritakan kisah antara dirinya dan mahluk-mahluk halus yang ada disekitarnya melalui media lukisan dalam episode PENGECAP ILUSI. Dan babak keempat akan diisi oleh seorang tokoh penulis psikopat berkepribadian ganda yang akan menceritakan kisahnya di dalam PENGEJA DIMENSI. Dan saya juga sedang mematangkan tentang konsep kisah tentang tokoh kelima yang kemungkinan akan memiliki kisanya sendiri atau akan bercampur dana pengeja dimensi. Karena tokoh ini adalah tokoh inti yang akan menyatukan pelepas, peretas, pengecap dan pengeja dalam sebuah kisah final.
Jadi jika dibuat sederhana serial pencarian jati diri dan spiritualitas ini akan memiliki kurang lebih empat atau lima episode, yaitu:
1. Pelepasan.
2. Peretas Mimpi.
3. Pengecap Ilusi.
4. Pengeja Dimensi.
5. Untitle Series.
Serial pelepasan akan dimulai pada pertengahan bulan Mei 2016 dan akan terus di update setiap malam minggu untuk bab barunya hingga bulan Januari tahun depan jika tak ada halangan atau perubahan. Pelepasan akan mengambil setting cerita di Solo, Boyolali dan Jogja. Sebagai tambahan, serial ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami seorang tokoh yang sama samarkan identitasnya, selamat membaca!
Terimakasih semuanya!



Triztan Famous.

Review : Comic 8 Casino King Part 2


Review : Comic 8 Casino King Part 2



Jujur, sama benci dengan film yang dibagi menjadi dua kecuali bagian final Harry Potter yang menurut saya pantas karena materinya memang begitu luas dan tak bisa di filmkan dengan durasi maksimal 2,5 jam. Tapi, perfilm indonesia akhir-akhir ini gemar sekali memotong materi film yang sebenarnya bisa dipadatkan menjadi dua buah film yang akhirnya sama-sama nangung, dari  Bulan terbelah di langit amerika, lalu sekuel Comic 8 ini, dan Warkop Reborn kelak.
Itu sangat menjengkelkan karena mengurangi sensasi dalam menonton film, tapi ya namanya juga bisnis, uang selalu menjadi alasan utama apapun alibi yang dilempar produser dan perusahaan kepada kita semua. Tapi sadar apa enggak sih mereka kalau ini bukan seri pamungkas Comic 8? Menurut beritakan masih ada lanjutannya, dan berniat menjadikan Comic 8 itu francise baru. Heh! Menyebalkan.
Dan seperti yang saya duga, walaupun saya sudah memasang ekspektasi serendah mungkin untuk film ini, saya tetap tidak puas dan tidak dapat bersenang-senang dengan film ini. Bahkan saya merasa mendingan seri kedua ini nggak usah ditayangin juga nggak masalah, di seri pertama memang saya bisa cukup menikmati asupan humor dengan gaya pengisahan yang cukup menarik dan tiba-tiba, “lho, udah? Masa gitu aja?”
Jika kamu merasakan hal itu saat menyaksikan bagian pertamanya, saya berani jamin jika di bagian kedua ini akan berlipat ganda. Saya jadi malas dan cenderung bosan saat menonton film ini, harusnya film ini menjadi klimaks dengan aksi gila-gilaan yang dijanjikan di bagian pertama, tapi ya udah cuma gitu doang dengan plot mboseni banget.
Akhirnya, Comic 8 Casino King Part 2 benar-benar kering tanpa emosi, saya sama sekali tak merasa terikat saat melihat lakon baku hantam, atau terkena ledakan. Jika Falcon tak memecah kedua seri ini, maka Comic 8 Casino King ini bakal jadi greget sekali dan bakal menjadi Francise menjanjikan karena terus menjaurnya comic-comic keren di Indonesia. Bukannya malah menjadi seri paling jelek dari Comic 8.
Tapi ya ada yang menurut saya lumayan juga sih, pas adegan helikopter nembakin Indro sama Ence Bagus walau kerasa dipanjang-panjangin banget, adegan berantemnya Prisa Nasution sama Hanah Al Rasyid juga lumayan.
Overall, saya merasa buang-buang waktu saat menonton film ini, bukannya puas karena telah mengetahui cerita secara lengkap, tapi malah menjadi bosan dan malas untuk melihat kelanjutannya walau post credit secenesnya lumayan bikin penasaran sama seri selanjutnya. Semoga tidak mengecewakan. Ayolah Falcon, kalau mau buat francise yang niat dong, jangan film satu dibagi-bagi, kan males, nonton 1-2 jam cuma buat ngerasain sensasi nangung doang. Saya juga merasa francise ini nggak di perlakukan dengan layak.
Skor : 1,5/5





review: Batman v Superman : Dawn of Justice




Batman v Superman : Dawn of Justice
Triztan Famous


Siapa yang dapat menolak pesona dua superhero super keren sepanjang masa yang sudah menjadi ikon dunia? Dua karakter paling menonjol di dunia superhero, dipertemukan, disandingkan, dibakuhantamkan lalu dibuat kerjasama dalam sebuah film, siapa yang tak ingin melihat itu semua? Apalagi Batman yang tampil sempurna di trilogi versi Nolan yang begitu indah, realistis dan manusiawi dan Superman yang notabennya sebagai superhero paling kuat dijagat raya. Dan ditambah lagi dengan hadirnya Wonder Women yang menjadi ikon feminis selama ini, saya ragu jika ada pahawan bergender wanita yang bisa melebihi popularitas Wonder Women. Hadirnya ketiga superhero ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Tak peduli rating yang buruk atau para pereview film yang menilai rendah film ini, tapi pada kenyataanya Batman V Superman: Dawn of Justice ini memang ditunggu banyak kalangan dan menjadi film yang sangat diantisipasi pada tahun ini. Selain menjadi peta untuk DC Extended Universe selama lima tahun kedepan, film ini juga penting karena untuk pertama kalinya Warner Bros bertaruh gila-gilaan untuk menyaingi Disney-Marvel dengan MCU-nya. Ayo mulai!
Banyak orang yang kecewa saat di trailer kedua film ini diluncuran kepublik menyertakan penampakan Doomsday yang begitu buruk rupa, hal ini cukup menganggu memang, tapi dengan diluncurkannya trailer ketiga yang lebih berfokus kepada Batman dengan gaya bertarung seperti di film The Raid, expektasi saya kembali melambung di film ini.
Film ini dibuka dengan adegan pertempuran final Superman melawan jenderal Zod yang mempora-porandakan kota Metropolis dan Gotham, juga menghancurkan gedung Wayne milik Batman dan menewaskan banyak kariyawannya. Batman adalah bagian dari masyarakat umum yang menilai bahwa Superman adalah ancaman besar bagi bumi dan tempat tinggal mereka- hal ini diakibatkan oleh pertempuran gila-gilaan di Man of Stel yang membunuh banyak orang-.
Banyak orang yang mengeluh jika film ini terlalu lama untuk memunculkan adegan pertempuran gila-gilaan antara Superman dan Batman yang mereka tunggu, film ini juga membosankan ditonton anak-anak karena begitu banyak dialog yang tidak langsung ke inti tetapi banyak yang bersifat filosofis yang menurut saya malahan indah. BvS memang lebih kelam dari Trilogy versi Nolan maupun MoS. Saat teman saya mengeluh karena terlalu padatnya plot dan penulisan latar belakang Batman dan Superman yang begitu rinci, saya malah kegirangan dengan film ini. Bahkan hampir semua scene di film ini saya menikmatinya. Moment-moment munculnya batman di film ini, kebrutalan batman saat mengecap tubuh para penjahat, atau momen saat Superman dianggap sebagai Mesias (tema yang sanggat jarang sekali diangkat di film superhero) oleh warga Metropolis dan menimbulkan banyak prokontra, atau saat kemunculan Lex Lutor yang menurut saya mirip dengan Joker, dan yang paling mencuri perhatian disetiap adegan... Wonder Women yang begitu tangguh, keren dan mempesona sehingga membuat saya tak sabar untuk melihat ia beraksi di film solonya.
Kemunculan singkat The Flash, Cyborg, Aquaman, juga semakin membuat saya tak sabaran menunggu aksi mereka di film mereka sendiri. Jika anda merasa BvS ini terlalu banyak bercerita untuk mengali motivasi Batman dan Superman untuk bertarung hingga akhirnya pertarungan mereka yang anda harapkan serasa kurang nendang, tunggu hingga Doomsday datang dan Wonder Women bergabung dengan Batman dan Superman menjadi Triniti dimana itu adalah cikal bakal Justice Lague berdiri niscahya anda akan merasa orgasme yang teramat indah. Menurut saya ini adalah pertempuran final superhero yang begitu padat, indah sekaligus menakjubkan yang pernah saya rasakan. Hingga akhirnya anda akan merasakan emosi yang pedih saat scene-scene film ini menuju credit title.
Semua plot yang begitu banyak dan cukup membingungkan akan terjawab di pertempuran final ini, Batman yang begitu brutal, Wonder Women yang menakjubkan, Superman yang nampak lebih manusiawi, Doomsday yang mematikan dan Lex Lutor yang begitu licik semuanya akan membuatmu ingin menyaksikan film ini lagi dan lagi, serta membuatmu tak sabaran menunggu Suice Squade untuk melihat Batman satu layar dengan rival abadinya, The Joker.
Saat menonon Batman V superman, berkali-kali saya mengalami “Wah” dan “Wow” faktor yang menyenangkan yang dibalut dengan gambar dan visual menakjubkan. Dan jika bicara mengenai Visual Artist terbaik saat ini, Zack Synder memang rajanya, lengkap dengan ciri khas slow motions dan gambar-gambar mewah yang kebanyakan direkam melalui Imax. Satu hal yang membuat DC lebih unggul dengan Marvel kali ini karena departemen musik buatan Hans Zimmer dan Junkie Xl yang begitu menggelegar, sexy, keren dan mendebarkan, terlebih saat scooring untuk Lex Lutor yang begitu terkesan keji dan licik, Wonder Women yang sexy dan garang dan yang paling keren adalah adegan pertempuran puncak yang begitu menggelegar, maaf sebelumnya, tapi Age of Utron menurut saya lebih membosankan daripada film ini, hehehe.
Saya bukan fanboy Marvel ataupun DC, saya adalah sekedar penggemar film superhero yang bersemangat karena semakin lama semakin banyak film superhero yang begitu beragam dan dengan tema yang penuh pesona, jujur saya mulai bosan dengan film-film marvel yang menurut saya begitu-begitu saja, hahaha. Mungkin juga karena itu saya begitu menyukai Batman V Superman ini karena meneruskan aroma kelam yang dibawa Nolan.
Skor: 7,5/10

REVIEW FILM: Surat dari praha (2015)

Surat dari praha
Reviewer: Triztan Famous

Ada tiga alasan kenapa saya menonton film Surat Dari Praha, yang pertama karena ini film dari Visinema yang di sutradari oleh Angga Dwimas Sasongko, yang kedua adalah karena Tio Pakusadewo yang notabennya adalah aktor Indonesia favorit saya selain Reza Rahardian, dan yang ketiga karena film ini mengangkat tema yang masih anomali karena jarang diangkat oleh sineas Indonesia.
Angga Dwimas Sasongko yang menawan saya dengan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan memantapkan pengalaman cinematik saya dengan Filosofi Kopi yang sampai sekarang masih menjadi film favorit saya yang pernah ia buat. Semenjak Surat Dari Praha mulai menjejakkan langkah pertama, konflik langsung dihadapkan kepada kita. Perkenalan tokoh yang sanggat baik juga semakin memperlancar jalannya film ini, menit pertama kita langsung diperkenalkan dengan tokoh Dahayu Larasati (Julie Estele) yang berarti teratai yang cantik dan (Widyawati), yang entah kenapa wajah mereka terlihat teramat mirip.
Laras yang sudah lama tak jumpa dengan ibunya tiba-tiba menghubungi ibunya di rumah sakit untuk meminjam sertifikat rumah guna melunasi hutang yang harus ia tanggung karena perceraiannya dengan Chiko Jeriko. Ibu laras yang meninggal setelah operasi meninggalkan sebuah permintaan yang mau tak mau harus Laras turuti, yaitu mengantarkan sebuah kotak berisi surat dari praha dan meminta tanda tangan kepada sosok yang ia kirimi kotak tersebut.
Sesampainya di Praha, ia bertemu dengan Jaya (Tio Pakusadewo) yang kurang lebih memiliki sifat pahit, egois, dan keras seperti dirinya. Tak mudah untuk Laras mendapatkan tanda tangan dari Jaya. Jaya yang tak ingin hidupnya kembali diobrak-abrik, langsung menyuruh Laras untuk meninggalkan rumahnya. Tetapi karena suatu kejadian, akhirnya Laras menginap di rumah Jaya untuk beberapa hari dan mulai mencairlah hubungan mereka, hingga menghangat, dan akhirnya menjadi intim.
Secara garis besar Surat Dari Praha mengingatkan saya akan beberapa film-film favorit saya yang saya tonton berulang, seperti memiliki akumulasi rasa dari Trilogi Before yang fenomenal itu, Lovely Man yang indah itu dan memaafkan masalalu seperti dalam Filosofi Kopi. Entah mengapa ada rasa yang menganjal saat saya melihat Surat Dari Praha ini, banyak emosi yang terlalu cepat dilemparkan kepada penonton sehingga membuat film ini terlalu padat. Tak seperti Filosofi Kopi dahulu yang membuat saya menitikan air mata di bioskop, di Surat Dari Praha ada beberapa emosi yang gagal sampai karena kurang banyaknya persiapan sehingga saya kurang bisa merasakan bagaimana kesendirian Jaya dan Luka yang Laras rasakan.
Yang kedua adalah penggunaan Green Scren pada adegan Laras dan ibunya di rumah sakit yang menurut saya cukup menganggu. Lalu adegan pada saat di rumah duka, Laras yang baru saja kehilangan ibunya sama sekali tak menitikan air mata. Sampai sebegitu keraskah hati Laras karena sakit hati dengan ibunya hingga hatinya sama sekali tak terketuk? Lalu kenapa pada saat dengan pak Jaya dia dapat dengan mudah mencair dan menjadi pribadi yang hangat dalam beberapa hari? Dan yang ketiga adalah pemain-pemain figuran di film ini yang berasal dari praha yang berakting kaku dan asal-asalan. Saya sampai tak percaya bagaimana seorang Angga Dwimas Sasongko menggunakan Extras seperti itu di dalam film ini. Adegan perampokan di taksi yang menjadi titik balik di dalam film ini harusnya bisa jauh lebih baik daripada adegan datar dan buruk seperti itu.
Tapi selain itu ada banyak adegan yang membuat hati hangat di Surat Dari Praha, seperti saat Jaya bernyanyi di bar, atau pada saat Jaya dan teman-temannya dengan reunian di rumah Jaya menyanyikan lagu tentang kuda yang entah apa judulnya dan lagu Indonesia raya yang saya harus akui dapat membuat haru seisi bioskop karena dinyanyikan oleh para manusia berideologi kuat yang tidak bisa kembali ke Indonesia dan yang paling saya akui adalah dipertengahan menuju klimaks dimana Laras dan Jaya berdebat hebat dengan kata-kata yang menurut saya sadis dan kasar dengan tehnik longtake yang menakjubkan, walau tidak terlalu lama, tapi adegan itu membuat saya semakin kagum dengan Julie dan Tio yang berakting dengan menakjubkan setelah mereka beradu di The Raid 2.
Overall, Surat Dari Praha adalah film anomali dengan cerita yang jarang diangkat di dunia perfileman Indonesia yang patut untuk disaksikan di bioskop. Walau melabeli dengan film shot luar negeri, tapi film ini tidak semata-mata menjual pemandangan luar negeri seperti kebanyakan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha dengan bijaksana menggunakan setting luar negeri sesuai dengan kebutuhan cerita. Dengan cerita yang padat dan emosi yang kerap tumpah dimana-mana film ini menjadi film yang jarang ada di perfileman Indonesia.
Sebagai film yang menjadi pemula parade film-film yang paling dinanti tahun 2016, Surat Dari Praha melakukan tugasnya dengan baik. Untuk mengakhiri review ini saya ingin mengucapkan selamat kepada Angga Dwimas Sasongko untuk meneruskan tradisi film bagus yang ia sutradarai dan selamat datang untuk Ahhc... Aku Jatuh Cinta, A copy Of My Mind dan Ada Apa Dengan Cinta yang akan segera menyapa kita... sekian.
Skor : 8/10

15 Film terbaik tahun 2015 versi Triztan Famous


15 Film terbaik tahun 2015 versi Triztan Famous

Tidak mudah sebenarnya jika harus mengelompokan film-film terbaik tahun 2015 karena banyak sekali pengalaman sinematik yang telah saya alami, dari yang hebat hingga yang ditunggu-tunggu dan cenderung mengecewakan seperti Avengers Age of Ultron, Hungger Game Mockingjay Part 2, Spectre. Dalam menyusun daftar 15 film terbaik ini saya harus menyengol banyak film yang membekas dan cenderung karena alasan personal.
Sebelumnya saya sama sekali tak meyangka jika banyak sekali film yang mampu menyentuh hati saya, saat mulai memilahnya ternyata jumlahnya hingga 30an film dan harus saya pangkas setengahnya walau dengan hati terluka, hehehe, dan Inilah daftar 15 film terbaik tahun 2015 menurut saya:


15) Star Wars The Force Awakens
Sebelum melihat Star Wars The Force Awakens, saya memang tak benar-benar paham apa yang membuat saga ini begitu dicintai oleh banyak orang, saya juga tak mengerti kenapa Star Wars bisa menjadi budaya populer dan menjadi fenomena besar di tahun 2015 dan mencetak banyak rekor di dunia perfilman. Tapi, setelah melihat episode ke VII ini saya baru paham jika Star Wars sangat layak untuk ditunggu kelanjutannya. JJ Abrams tahu benar bagaimana mengolah materi ini untuk memanjakan fans diluar sana dengan gaya cerita yang asik dan memanjakan penonton lewat visual yang mengagumkan, momen emosional, humor segar dan pertempuran mengasikan, terlebih adegan penutup yang membuat kita tak sabar menunggu kelanjutannya.

14) Assassination

Korea dan balas dendam. Satu hal yang wajib untuk kalian lihat, apalagi dengan bintang-bintang top, naskah bagus, sutradara keren. Sangat menjanjikan untuk memberikan kita sajian balas dendam yang memuaskan.

13) Jurasic World

Nostalgia dengan petualangan dinosaurus yang sama mempesonanya saat saya melihat Jurasic Park waktu kecil dulu. Walau dengan cerita yang biasa, tapi sensasi nostalgia yang begitu indahlah yang akhirnya membuat saya menenpatkan Jurasic World di list film terbaik ini.

12) Filosofi Kopi

Berasal dari salah satu penulis favorit saya di Indonesia, sutradara dengan track record menjanjikan, aktor-aktris yang sedang hangat-hangatnya di Indonesia, buku yang mempesona. Apalagi yang kalian butuhkan lagi? Filosofi Kopi akan memberimu pahit, manisnya hidup bagai kopi itu sendiri dengan pengisahan yang begitu indah. Film yang akan membuatmu menontonnya berulang kali.

11) The Martians

Film bertahan hidup di luar bumi yang begitu asik, getir, dan riang. Terlebih dengan performa gemilang matt Damon sebagai lakon utama yang mampu membuatmu bersimpati akan kelanjutan hidupnya di planet Mars. Naskah yang gurih, lagu-lagu disko unik, menjadi jualan lain di film ini.

10) Kingman The Secret Service

Saya sama sekali tidak menyangka jika kingsman bakal jadi seadik ini. Film tentang mata-mata yang begitu renyah, asik, elegan dan membuatmu bersenang-senang. Awal francise mata-mata yang patut diperhitungkan setelah James Bond yang mulai nampak kelelahan dan Mission Imposibel yang baru saja memulai tajinya. Coba tonton dan kamu akan tepuk tangan.

9) The Revenant

Balas dendam? Bertahan di alam liar? Perang yang dahsyat dan sinting? Leonardo Decaprio? Sutradara pemenang Oscar tahun lalu? Bukankah itu modal yang begitu menjanjikan sebagai tontonan pengeruk uang? Buktikan keberanianmu di film ini dan kamu akan bersenang-senang dan tegang dengan cara yang begitu keren.

8) Heart Attack

Drama yang bagus, indah, konyol dan manis. Memberikan kita sensasi menyenangkan seusai menontonnya. Apalagi kemistri indah yang diciptakan oleh dua lakon utama yang begitu kuat dan sulit dideskripsikan.

7) Me and Earl and the Dying Girl

Dalam, indah, unik, cantik, lucu dan ceria. Film tentang remaja dan penyakit mematikan yang begitu berbeda dan mampu menghantam emosimu keras-keras dengan tokoh-tokoh yang mampu mengambil hatimu dan dituturkan dengan cara yang begitu istimewa. Memberimu banyak pelajaran tentang hidup.

6) Drisyam

Saya adalah penggemar film Bollywood akhir-akhir ini karena semakin lama perfilman di India semakin sinting dalam artian yang baik. Benar-benar film yang cerdas, emosional, gemilang dan dahsyat. Plot di film ini benar-benar terjalin rapi dan mencengkrammu sejak menit pertama hingga akhirnya meledak di akhir film. Sungguh sulit untuk mengambarkan film ini dengan kata-kata. Pengalaman sinematik yang luar biasa.

5) Mencari Hilal

Jujur saya bukan pecinta film-film religi Indonesia dan cenderung benci dengan pola-pola yang dijabarkan oleh kebanyakan film-film religi tersebut karena alasan personal. Tapi, Mencari Hilal seakan-akan hadir dari sudut tak terjamah yang begitu indah karena magis yang diciptakan saat menontonnya. Jujur, saya sangat mencintai film-film yang dapat menohok hati dengan bermacam emosi yang begitu kuat, dan itu diwakili oleh Mencari Hilal, mulai dari tawa, haru, trenyuh, sebal, benci, sayang, tersayat, semuanya tersaji komplit di film ini. Hubungan antar sesama manusia yang indah, gambar-gambar penyejuk mata, lantunan kisah yang jujur apa adanya hingga membuat kita merenung di akhir film.

4) The Intern

The Intern adalah salah satu film yang paling sering saya putar ulang karena rasa yang ditimbulkan. Bahkan pada saat pertama kali saya melihatnya, saya bertepuk tangan panjang saat film ini berakhir. The intern begitu menghibur dan menghangatkan hati. Apalagi dua aktor dan aktris favorit saya beradu dalam satu layar, Robert De Niro dan Anne Hateway yang memberikan akting magis mereka. Saat berpisah mereka menjadi pencuri layar dan saat bersama-sama mereka begitu bersinar. Benar-benar pengalaman sinematik yang indah.

3) Whiplash

Saya sama sekali tak paham nada, dan pecinta salah satu genre musik kelas berat. Tapi Whiplash akan membuatmu terseret permainan musik dan memaksamu terbawa emosi yang begitu menohok saat melihat interaksi antara murid dan guru bangsat yang ditampilkan begitu gemilang oleh masing-masing aktor. Jantung saya terus berdebar-debar dan tegang, apalagi 15 menit terakhir yang begitu gila-gilaan dan dahsyat.

2) Mad Max

B*-JI-NG*N! B*NGS*T! Keren banget film ini, saya sama sekali tak menyangka jika Mad Max bisa sesinting ini. Visualisasinya gila! Aksinya sinting! Aktingnya liar!. Film yang benar-benar gahar, liar, mengasyikan, menegangkan dan sederet kata pujian lainnya yang tak akan membuatmu jemu saat menontonnya berulang kali. George Miller menunjukan kepada banyak orang bagaimana membuat film aksi yang begitu sempurna, indah dan berbahaya sekaligus.

1) Inside Out

Ini film Pixar! Masih butuh reviewnya? Dan bukan hanya karena ini film dari brand Pixar, tetapi karena ini juga film Pete Doctre yang tak pernah mengecewakan saya di ranah film animasi. Banyak hal yang saya alami saat menonton Inside Out, tertawa, bersemangat, tegang, sampai meneteskan air mata di ujung film yang begitu mempesona dengan campuran beragam perasaan. Sejak premisnya dibuka dan trailer-trailers yang begitu indah ekspektasi melambung tinggi dan mampu terpuaskan. Pixar is Back! Dan tahun depan kita akan disajikan Finding Dory yang pasti mempesona karena dibuat oleh sang ayah sendiri. Keren!

REVIEW FILM : THE REVENANT (2015)

The Revenant (2015)



THE REVENANT (2015)
Reviewer : Triztan Famous
Sejak menit pertama, The Revenant berhasil menghantarkan suasana sedih, mencekam, sendu, getir sekaligus dingin yang memukau. Terlebih adegan pertermpuran antara pemburu dan suku indian yang brutal dan beberapa kali diambil dengan long take yang mempesona. Dan siap-siap untuk menahan nafas saat pertarungan epik Caprio dengan beruang yang brutal, indah sekaligus akan membuatmu memohon untuk segera diakhiri (bahkan aku sampai menarik-narik rambut dikepala saking sadisnya adegan itu).
 The Revenant adalah adaptasi cerita nyata  lama dari novel The Revenant: A Novel of Revenge milik Michael Punke yang diceritakan kembali oleh Iñárritu dalam sebuah petulangan survival epik sepanjang 156 menit. Berpusat pada kisah bertahan hidup luar biasa dari Hugh Glass (Leonardo Dicaprio), mantan tentara Amerika di era 1823 yang ditinggalkan oleh rekannya begitu saja setelah tak berdaya diserang beruang Grizzly dengan kisah balas dendamnya yang luar biasa.



Kabar baiknya adalah itu baru satu dari sekian adegan menakjubkan dan diluar nalar The Revenant, diantara gambar yang senantiasa menciptakan hawa dingin mencekam dan satu persatu adeganpun muncul dan mengoyak hatimu, bahkan saking mencekamnya film ini srooring saja baru muncul setelah kurang lebih satu setengah jam film ini berjalan. Selain memiliki cerita dan penyutradaraan yang sangat baik, The Revenant juga memiliki Dicapiro dan Tom Hardy yang bermain sangat prima sebagai sosok Fitzgerald yang luar biasa licik dan menjengkelkan. Sungguh layak mereka berdua diganjar nominasi Oscar untuk apa yang telah mereka lakukan disini, benar-benar brilian. Coba saja lihat bagaimana mata Dicaprio bicara selama di film ini, kau akan takjub melihat bagaimana seorang pelakon benar-benar bisa melakonkan perannya dengan sangat-sangat baik dan totalitasnya disini benar-benar diuji oleh sang sutradara yang tak pernah setengah-setengah dalam membuat film (adegan makan ikan dan daging mentah menjadi salah satu bukti totalitas Leonardo Dicapiro).
Posisis dimana penonton menjadi seseorang yang buta terhadap apapun dan tak bisa kejadian-kejadian apa yang akan dialami Hugh Glass adalah salah satu poin lebih di film ini. Kejutan demi kejutan yang hadir dan terjalin rapi membuat film ini begitu alami dan tak dibuat-buat. Pejuangan Hugh Glas di alam liar juga patut diacungi jempol. Apalagi dengan motivasi yang ditampilkan begitu brilian oleh Alejandro G. Inarritu, menjadikan The Revenant menjadi salah satu film bertahan hidup dan balas dendam terbaik, terkejam, terbrutal dan terindah yang pernah ada.
Overall The Revenant adalah sebuah puisi yang akan mengoyakmu tampa aba-aba, puisi yang akan membuatmu ngilu akan sebuah perjuangan panjang seorang ayah yang membalaskan dendam atas kematian anaknya dan sebuah puisi yang akan membuatmu menghela nafas panjang dan lega saat melihat film berdurasi lebih dari dua setengah jam ini berakhir, hingga akhirnya kau akan bertepuk tangan melihat pengalaman sinematik yang tak ada duanya ini. Kredit khusus untuk Emmanuel Lubezki yang telah membuat film ini sanggat mempesona.
Skor : 9/10

REVIEW FILM: SINGLE (2015)

Triztan Famous Review : Single (2015)


SINGLE
Reviewer : Triztan Famous
“Kubenci sendiri... kubenci sendiri... sampai kapan terus begini...”
Entah kenapa saat keluar dari bioskop aku dan teman-temanku terus menyanyikan Ost. Film single yang khusus diciptakan oleh Geisha untuk film ini. Kurang lebih ada tiga macam gubahan arasemen yang sanggat candu di dalam film Single yang menggunakan lagu ciptaan Geisha ini. Ekspektasi yang rendah dan cenderung kecewa saat menonton film ini sedikit demi sedikit terobati saat film ini mulai bergulir. Jujur sebelumnya tak ada rencana sama sekali untuk menonton film ini sebelumnya, karena pada malam itu aku dan teman-teman berencana untuk ikut heboh dalam pengalaman sinematic Star Wars episod VII berjudul The Force Awakens, tapi karena telat setengah jam dan karena tak ingin pulang dengan tangan hampa. Akhirnya kita putuskan untuk menonton film single, yang begitu heboh mengisi liburan anak-anak muda di Indonesia.
Ekspektasi rendah dan rasa kecewa saat menonton film ini membuatku dan teman-teman mengira jika film ini akan berakhir sama seperti comic 8 Casino King Part 1 yang begitu melempem. Tapi saat film mulai bergulir perlahan film ini mulai dapat dinikmati, terlebih saat Ebi (Raditya dika) galau benyanyi kubenci sendiri yang dilantunkan Geisha dengan mimik wajah yang teramat sanggat ingin aku tonjoki (hahaha... entah kenapa dari dulu saat aku melihat Raditya Dika terbesit rasa untuk menghancurkan wajahnya, Pstt jangan bilang-bilang sama dia ya). Scene saat Ebi menyanyikan lagu Geisha dengan suara tak karuan itulah yang membuatku menikmati single.
Secara garis besar Single menceritakan tentang Ebi yang memiliki kesulitan untuk berbicara dengan lawan jenis dan sudah berumur untuk memiliki pasangan. Dibantu kedua sahabatnya Wawan (Panji) dan Victor (Babe Cabita) Ebi mulai mencari pasangan karena mamanya yang terus menerus mendesaknya dan adiknya yang keburu nikah karena sudah mapan, memiliki rumah dan pasangan, tidak seperti Ebi yang malah kebalikannya, Belum dapat kerja, masih kost dan sering pinjam uang mamahnya dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja.
Salah satu hal kenapa malam itu memutuskan untuk menonton film Single karena ada nama Soraya Film dibelakangnya, tak lebih tak kurang karena sebelum-sebelumnya saya memang bukan penggemar berat Raditya dika, sayapun juga belum menonton film Dika sebelumnya. Di Indonesia nama Besar Soraya Film sudah menjadi Brand menjanjikan akan sebuah film untuk menampilkan production value yang menakjubkan. Soraya Film yang sebelumnya sukses mnelurkan film-film mega blocbuster seperti Eifel i’m in love yang berhasil menembus 2 juta penonton, 5 cm yang kembali mendulang emas sebesar 2,2 jutaan penonton, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick yang menjadi film dengan penonton terbanyak di Indonesia tahun 2013 dengan jumlah penonton 1,7 juta penonton dan terakhir film Supernova episode satu yang berjudul Ksatria, Putri dan Bintang jatuh yang tampil paling menyedihkan lewat eksekusi film, kesalahan casting, pelafalan bahasa buku dan pemilihan materi novel yang tidak cermat. Sehingga menjadikannya film Soraya berpenonton paling rendah, yaitu sekitar 500an ribu penonton saja.
Sigle yang produksi oleh Soraya Film memberikan sajian gambar yang begitu indah, jernih, dan mewah. Shot-shot Bali yang menakjubkan, adegan skydiving yang lumayan menghibur dan ledakan mobil yang sudah nampak sedikit ti trailernya, sungguh kemewahan yang sanggat jarang ditampilkan di perfileman indonesia yang jarang berani memproduksi film dengan dana yang besar.
Film Single juga memiliki keistimewaan daripada film-film raditya dika yang lainnya, selain production value yang jempolan, single juga memiliki amunisi sebagai film pertama Raditya dika yang tak berdasarkan dari buku-bukunya, selain nama Raditya dika yang begitu menjual di kalangan anak muda. Banyak hal yang membuat film ini begitu mengalir dan membuat 2 jam dibioskop tak terlalu terasa. Acungan jempol untuk Babe Cabita yang berhasil meningkatkan suntikan humor di film ini, joe yang tampil begitu menganggu dan menjengkelkan sekaligus lucu disaat yang bersamaan, Panji juga tampil begitu pas, begitu pula Pevita pearce yang tampil begitu menakjubkan walau hanya menjadi cameo saja di dalam film ini. Memang ada beberapa moment dan emosi yang tak terlalu berhasil disampaikan dengan baik di dalam film ini, dan moment-moment tersebut kebanyakan pada saat angel (anisa rawles) berakting. Angel yang menjadi karakter pusat di film ini seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih daripada tangisan palsu saat puisi ibunya dirobek-robek radit. Sumpah, itu akting murahan sekali. Memang ada beberapa plot hole yang terdapat di film ini, tetapi setidaknya ini adalah Film komedi yang tidak kampungan seperti film-film berlabel komedi lainnya.
Single adalah film komedi berkelas, dengan Production Value yang begitu berkelas juga. Meski banyak moment yang hit and mis, tapi setidaknya film ini begitu lancar bercerita hingga akhirnya memberimu pencerahan pada akhir filmnya. Semoga suatu saat nanti Radit berhenti bermain-main di zona amannya, dan memulai suatu hal diluar jalur film-filmnya kebanyakan.

Skor : 7,5 /10 

ps: selamat atas pencapaian film single memperoleh 1 juta penonton #BanggaFilmIndonesia

REVIEW: The Good Dinosaur (2015)

Triztan Famous Review : The Good Dinosaur (2015)



The Good Dinosaur
Reviewer : Triztan Famous
Setelah absen unjuk kebolehan di tahun 2014, pixar kembali keranah animasi pada tahun 2015 dengan dua buah film animasi berbuget besar. Kerontang akan karya masterpiece Pixar langsung terpenuhi dengan bombardir teaser, trailer dan snek peak Inside Out yang begitu menakjubkan. Semua orang yang sudah menyaksikan Inside Out pasti berseru jika Pixar is Back! Tak salah memang, Pixar yang menjadi brand penghasil animasi blockbuster dan studio animasi penjamin mutu kembali mempertahankan nama besarnya dikancah perfileman animasi dunia, dan saya juga berani bertaruh jika piala Oscar untuk animasi terbaik bakal kembali ke Pixar dengan Inside Outnya yang luar biasa.
Tapi, expektasi yang membumbung tinggi akibat penampilan gemilang Inside Out tak lantas membuat The Good Dinosaur kecipratan keajaiban Pixar. The Good Dinosaur yang proses produksinya mundur satu tahun dan mengalami pembongkaran cerita, sutradara dan pengisi suara harus dengan lapang dada menerima beragam kritikan. The Good Dinosaur sebenarnya bukan film yang buruk, sama sekali bukan. Tapi the Good Dinosaur juga bukan film animasi sekelas Inside out, trilogy toy story, Wall E, Rattatoulie, The Incridible, Up, dan Finding Nemo yang fenomenal itu.
The Good Dinosaur adalah film kelas dua Pixar yang memiliki sajian cerita sekelas, Cars, Cars 2, Brave, ataupun Monster University. Pergantian sutradara, pengisi suara dan perombakan cerita memang sangat terasa saat menyaksikan film ini, saya yang ingin takjub untuk kesekian kalinya saat menyaksinya film produksi Pixar memang harus menelan kecewa dengan cerita yang terlampau simple untuk brand sekelas Pixar.  Tapi bukan Pixar namanya jika tak memiliki sentuhan ajaib di dalam setiap filmnya, The Good Dinosaur adalah film animasi terindah yang pernah saya lihat, efek hujan, air, awan, atau pemandangan alam di film ini terasa begitu menakjubkan dan hampir seperti nyata. Empat jempol ke atas untuk tim Pixar yang telah menciptakan dunia The Good Dinosaur yang begitu indah.
Karakterisasi begaram dinosaurus di film ini juga kuat dan indah dengan tampilan warna-warni yang mudah disukai anak-anak dan cukup efektif untuk mengundang tawa dengan berbagai tingkah polahnya. The Good Dinosaur memang sebuah film yang dikhususkan untuk anak-anak, tak seperti film-film Clasic Pixar yang bisa dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa selaku pendamping anak-anak saat menonton film. Tapi memang ada beberapa hal yang terlalu berlebihan jika film ini memang dikhususkan untuk anak-anak, seperti saat arlo dan spot mabuk karena makan buah-buahan senejis beri atau jamur, atau adegan-adegan yang terlampau keras dan kejam yang terjadi kepada Arlo dan Spot saat tersesat di alam liar.
Overall, The Good Dinosaur adalah film animasi dengan sajian sinematik paling indah dan menakjubkan yang pernah ditampilkan oleh film-film animasi selama ini tapi terkesan nanggung di aspek cerita. Terlalu keras dan kejam untuk anak-anak tapi terlalu membosankan dan mudah ditebak untuk orang dewasa.
skor:
7/10